Menurut penelitian, salah satu dampak negatif bermain gameon-line di internet secara berlebihan, terhadap anak-anak adalah; terbentuknya kepribadian yang individualistis dan ketidak-perdulian terhadap orang lain. Banyak orangtua dewasa ini mengeluh bila menyuruh anak-anak mereka, selalu saja dijawab dengan berbagai alasan. Misalnya; "nak, tolong ambilkan nanti kain kita di jemuran bila tiba waktu sore hari ya". Lalu, bagaimana? Karena si anak asyik bermain game on-line di internet maka si anak pun hingga lupa dengan tugas diberi ibunya.
Benar! Ketika tiba waktu di sore menjelang malam ternyata si anak tidak ingat dan tidak beranjak dari tempat internet. Inilah salah satu contoh kasus terhadap yang dikuasai oleh kecanduan permainan game internet on-line anak-anak telah berhasil membentuk karakter si anak menjadi manusia yang kurang peduli dengan orang lain dan menjadi manusia egoistis. Bila diperintah atau disuruh, atau ditugaskan maka jawabnya selalu dengan alasan.
Kita sebagai orangtua, atau sebagai pimpinan, atau sebagai pengusaha, atau sebagai manusia biasa pun akan merasa jengkel bila seorang anak, atau bawahan, atau pegawai suka membuat alasan-alasan untuk menghindarkan tugas dan tanggungjawab. Bukankah sebuah alasan yang dibuat hanya menunda rejeki, kasih, berkat serta masa depan. Mereka yang suka mengedepankan alasan-alasan tanpa logika biasanya termasuk kategori orang pemalas, manusia frustasi, gagal meraih masa depan, serta tidak visioner.
Karakter manusia yang suka berasalan seperti ini dalam kitab Injil Lukas 9:57-62, disebut Tuhan Yesus, tidak layak menjadi pemberita Kerajaan Allah. Tuhan Yesus menanggapi pikiran mereka yang salah dan keliru karena suka membuat berbagai alasan sehingga tertundanya pemberitaan Injil kerajaan Allah. Mereka tidak memprioritaskan urusan, rencana dan kepentingan Allah, sementara tuaian sudah menguning padahal pekerja masih saja santai, istirahat, kurang perduli. Begini pernyataan Yesus terhadap orang seperti ini, kataNya: "Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah." (Lukas 9:62).
Beginilah gambaran yang dihadapi Yesus dalam konteks nats ini, melangkahkan kaki menuju Yerusalem bukan perkara mudah bagi Yesus, tetapi sudah merupakan tekad dan tujuan-Nya. Mereka yang menjadi murid Yesus, tidak bisa tidak harus menjadikan tekad dan tujuan Guru mereka, tekad dan tujuan mereka. Inilah yang namanya memprioritaskan Yesus ketimbang kegiatan apapun di dunia.
Memang keputusan mendahulukan panggilan dan pengutusan Tuhan Yesus untuk memberitakan Injil bukanlah tanpa resiko dan beban tanggungjawab.! Artinya, bila kita sudah komit mengikut Yesus harus siap mengalami penderitaan dan penolakan seperti yang dialami Yesus (58). Tidak ada yang namanya sukarelawan dalam mengikut Yesus, melainkan pengabdian sepenuh hati dan hidup. Sekali seseorang memutuskan untuk menerima panggilan mengikut Yesus, ia harus berani melepaskan semua hak untuk tunduk sepenuhnya kepada cara-Nya mengatur, mendisiplin dan memakainya.
Oleh karena itu, seorang murid pengikut Yesus, harus siap melepaskan semua ikatan lainnya, yang bisa menghalangi komitmennya mengikut Dia. Termasuk, berani melepas tradisi menguburkan orang tua (Lukas 9:59). Yesus bukan sedang mengajarkan bahwa orang Kristen harus melupakan tanggung jawab kepada keluarga. Bukan! Yesus bukan mau mengajak mengabaikan orangtua atau keluarga! Hanya saja, janganlah diabaikan panggilan dan pengutusan Tuhan karena hambatan masalah pribadi atau keluarga. Tuhan Yesus juga sangat hormat kepada orangtuaNya. Lihat saja cara Yesus memperlakukan ibunya saat menjelang kematian-Nya (Yoh. 19:26-27). Maksud Tuhan Yesus kepada para muridNya ialah komitmen kepada Yesus harus nomor satu, kepentingan Tuhan harus melebihi kepentingan keluarga atau kepentingan pribadi. Hal itu berarti memercayakan kepada-Nya pemeliharaan keluarganya!
Mengikut Yesus separuh-separuh ibarat seorang yang sedang menarik bajak di ladang tetapi sebentar-sebentar menengok ke belakang. Yang terjadi ialah alur bajakannya menjadi tidak lurus. Berpamitan kepada keluarga (Lukas 9:61) dalam konteks ini berarti belum sepenuh hati melepaskan diri dari ikatan dunia yang akan menghalanginya untuk mengikut Yesus dengan sepenuh hati. Mengikut Yesus memerlukan fokus penuh!
Mengapa kita prioritaskan Yesus! Pertama, kita tahu hidup kita ialah milik-Nya karena karya penebusan-Nya. Kedua, kita dapat memercayakan hidup kita kepada-Nya karena Ia hendak menggunakannya bagi kemuliaan-Nya dan bagi kepentingan sesama. Ketiga, jangan khawatir akan keluarga dan orang-orang terdekat kita. Dia pasti memberikan yang terbaik untuk mereka.
Oleh karena itu, supaya kita layak dan dipercayakan menjadi pemberita Injil Kebenaran Allah ke dunia ini maka prioritaskan rencana dan kehendak Allah dalam komitmen pribadi kita. Jangan pernah meragukan seolah Tuhan tidak memahami apa yang menjadi ganjaran dan masalah yang mengitari hidup kita. Bukankah Allah maha-tahu tentang banyak hal yang kita pikirkan atau kita perlukan. Maka utamakanlah kepentingan Allah di atas kepentingan dunia ini supaya kita menjadi layak menjadi hamba-Nya. Amin.
(d)