Awal yang baru bukanlah sesuatu yang mustahil. Contohnya, ini suatu pengalaman manis dalam suatu keluarga di mana anaknya terjebak ke dalam pengaruh Narkoba namun akhirnya berhasil diatasi. Nama anak itu Brayan, seorang pemuda yang telah menjadi anggota sebuah geng ketika masih bersekolah dasar. Ketika berumur dua belas tahun, Brayan kabur dari rumah dan selama tiga tahun ia terjerumus dalam kehidupan jalanan dan narkoba. Meski akhirnya ia meninggalkan semua itu dan pulang ke rumah, hal itu tidaklah mudah baginya, karena ia telah dikeluarkan dari sekolah gara-gara menjual narkoba. Namun ketika ia mendaftar di SMA yang baru, seorang guru mengilhami dan mendorong Brayan untuk menuliskan pengalamannya, daripada mengulangi lagi masalah yang sama. Brayan pun menerima tantangan tersebut dan sekarang sedang menjalani hidup yang baru.
Betapa pun manusia berada dalam gengaman kuasa iblis dan kejahatan yang maha dahsyat namun bila ada usaha, ketabahan, kesetiaan, serta usaha, bagi Tuhan tidak ada yang mustahil (Matius 1:37). Allah dapat mengubah kejahatan menjadi kebaikan, Allah punya rencana membuat manusia baru, beriman, dan berpengharapan. Allah sanggup mengubah hati manusia yang keras, yang menurut manusia tidak mungkin namun Allah mau melakukan kebaikan tanpa memperhitungkan kesalahan dan dosa kita.
Melalui Nabi Yesaya, Allah mendorong bangsa Israel yang sedang dalam pengasingan untuk memikirkan suatu awal yang baru. Allah berfirman, "Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala" (Yes. 43:18). Allah meminta mereka untuk tidak lagi memikirkan tentang hukuman mereka dan bahkan tentang kuasa yang ditunjukkan-Nya pada saat pertama kalinya mereka dibebaskan dari Mesir. Allah ingin mereka memusatkan perhatian kepada Dia yang akan memberi mereka awal yang baru, dengan jalan kembali membebaskan dan memulangkan mereka dari Babel (ay.19).
Bersama Allah, hati kita dapat mengalami suatu awal yang baru. Dia dapat menolong kita untuk melepaskan pengalaman masa lalu dan mulai berpegang kepada-Nya. Hubungan yang terjalin dengan Allah akan memberikan suatu pengharapan yang baru bagi semua orang yang mau percaya kepada-Nya
Masa lalu yang dihadapi umat Tuhan, ditandai beberapa peristiwa yang Tuhan sengaja membiarkan semuanya terjadi terhadap mereka. Misalnya, masa perbudakan Mesir selama empat puluh tahun di tanah Mesir namun akhirnya Allah pun melepaskan mereka dengan mengutus Musa hingga mereka berhasil keluar dan memasuki negeri yang baru, yaitu Tanah Kanaan.Segala derita, kegetiran hidup, penindasan, hukuman atas Bangsa Israel kini berakhir.
Nats di atas menegaskan bahwa janji Allah pasti akan tergenapi dengan mengakhiri hukuman yang menakutkan. Janji penyertaan Allah pada nats sebelumnya dapat menimbulkan keraguan dan ketakutan. Tetapi nats hari ini menegaskan Allah tidak berubah. Ia akan menepati janji-Nya. "Aku tetap Dia" dan "Aku, Akulah Tuhan" (Yahwe, "Aku adalah Aku" (Kel. 4:13). Dia Allah yang tidak berubah. Kepastian janji Allah tersebut menegaskan ulang janji yang Allah nyatakan kepada umat-Nya sebelum ini. Ia akan membawa mereka keluar dari Babel. "Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel" akan menyuruh orang ke Babel untuk membuka semua palang pintu penjara.
Penebusan tersebut dilakukan dengan menjatuhkan Babel. Kejatuhan Babel tersebut digambarkan seperti peristiwa keluaran dari Mesir . Penebusan ini disebut sebagai "keluaran baru". Keduanya tidak persis sama. Umat diingatkan untuk "janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu," karena Ia akan "membuat sesuatu yang baru". Yang lama, bersifat lebih nasional, yang baru meluas juga untuk bangsa lain. Yang lama karena kesetiaan-Nya pada perjanjian-Nya dengan Abraham. Yang baru karena kesetiaan-Nya, walaupun umat-Nya tidak setia! Umat dipanggil sebagai saksi-saksi karya penebusan Allah atas mereka.
Alasan tindakan Allah tersebut adalah karena Israel adalah "umat pilihan-Ku; umat yang telah Ku-bentuk bagi-Ku untuk memberitakan kemasyhuran-Ku".
Perhatikan kata "Ku" yang berkali-kali muncul, menunjukkan bahwa Allah melakukan penebusan tersebut karena Ia adalah Allah yang mengingat perjanjian-Nya.
Sekarang, apa yang berakhir? Penderitaan, hukuman, penindasan, kuk dosa, kuasa duniawi, semua ini tidak akan mampu menghalangi kasih setia Tuhan atas umatNya. Allah kita adalah Allah yang tidak akan mengingkari janji-Nya. Oleh karena itu kita dapat dengan yakin mengimani janji Allah yang telah Ia berikan kepada kita di dalam Alkitab. Terutama janji penebusan dan keselamatan-Nya untuk mereka yang percaya kepada Kristus.
Tapi itupun bukanlah yang terakhir, bila pada suatu waktu mereka kembali berbuat dosa, membuat jengkel hati Tuhan, atau sengaja melanggar perintah dan kehendak Tuhan maka Tuhan tetap menyediakan pengampunan supaya mereka dapat diselamatkan. Inilah Iman, kasih, dan Pengharapan kita. Oleh karena itu, percayalah kepada Allah yang memberi kita kehidupan meski acapkali kita berbuat curang dan berdosa. Amin.!
(c)