Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 Juli 2026

Tindak Lanjut Konsultasi Nasional HKBP: Perlu Kekariban dan Kearifan Pendeta

* Oleh Pdt Maulinus UW Siregar
- Minggu, 15 Juli 2018 13:41 WIB
509 view
Tindak Lanjut Konsultasi Nasional HKBP: Perlu Kekariban dan Kearifan Pendeta
Ist
Pdt Maulinus Siregar
Ada 76 keputusan yang dihasilkan Konsultasi Nasional (Konas) HKBP di Jakarta, 10-11 Juli lalu. Jemaat dan pengerja HKBP menyambut hasil-hasil tersebut dan mengapresiasi pimpinan HKBP dan panitia pelaksana perhelatan ini karena dapat terselenggara dengan baik serta menghadirkan banyak kalangan dan pakar yang mumpuni. HKBP memang membutuhkan pemikiran-pemikiran serta berbagai masukan yang segar dan aktual untuk peningkatan mutu pelayanannya di masa depan.

Konas memang baru kali ini dilaksanakan, meskipun bukan satu-satunya kegiatan sejenis yang pernah dilaksanakan di HKBP. Sebab kegiatan/forum yang hampir sama pernah juga dilakukan tahun 2000, dua tahun pasca rekonsiliasi HKBP, yaitu Konferensi Nasional HKBP yang digagas Effendy Simbolon dan dihadiri Presiden Abdurahman Wahid kala itu. 

Kedua forum tersebut mencuri perhatian publik, karena bobot dan pemberitaan yang intens di media-media online terutama, serta perbincangan mulut ke mulut. Sebab dihadiri Presiden dan menteri-menteri, belum lagi teolog dan tokoh-tokoh agama yang terkenal. Jadi dari sudut itu, konsultasi ini menjadi sebuah terobosan penting di tengah hingar-bingar pemberitaan HKBP, terutama kantor pusat dengan berbagai instrumen yang ada di dalamnya.

Harus diakui bahwa Konas ini tak boleh dianggap sebagai satu-satunya cara untuk memberi masukan bagi program revitalisasi HKBP, apalagi menyedot habis seluruh perhatian dan energi . Tentunya sebagai warga jemaat dan pengerja yang baik, tak ada salahnya kita pun berkewajiban menjadi suporter yang baik. Kita perlu juga melihat perspektif lain untuk mengayakan langkah-langkah konkrit revitalisasi tri tugas panggilan HKBP di tengah-tengah pergumulan kreatif, seperti yang telah dilakukan oleh inisiator Konas.

Kekariban Pendeta
Menurut pengamatan dan analisa sementara ( sebagai pendeta jemaat biasa ) atas keadaan umum HKBP, kita melihat fenomena umum tantangan sekaligus kelemahan HKBP di semua aras, yaitu  lemahnya soliditas dan solidaritas antar semua pengerjanya (yang penuh waktu dan yang tidak penuh waktu). Akibatnya, kita menghadapi dan mengalami kesulitan membangun suatu sinergitas-kerjasama antar semua pengerjanya dalam memenuhi tri tugas panggilan itu, sehingga capaian yang dapat diraih akhirnya sangat tidak produktif dan optimal (tidak berbuah banyak). 

Sekedar untuk melihat diri HKBP, tak ada salahnya bila kita berani jujur membandingkan dengan kemajuan yang telah dicapai gereja-gereja lain seperti GKI atau Gereja Bethel dan Reformed. Sinergitas-solidaritas yang baik adalah modal besar yang menunjang capaian-capaian penting mereka. Mungkin sekali, sebagian dari kita akan bereaksi berbeda untuk pernyataan di atas. Ada yang resisten, dengan argumen serta logika pembenarannya. Namun, ada juga yang sangat adaptif melihat dan menanggapinya dengan sikap terbuka dan dialektis. Tetapi, mungkin saja ada juga yang bersikap acuh dan belajar tak peduli dengan apapun. 

Semua reaksi dan sikap yang muncul, pastilah terbentuk oleh lingkungan atau atmosfir yang bergelayut dalam pengalaman-pengalaman konkrit dari semua elemen yang terlibat di dalamnya. Pertanyaan penting, habitus yang bagaimanakah yang paling banyak mengitari dan mengikuti dinamika dan sejarah perjalanan HKBP setidaknya dalam tiga dasawarsa terakhir ini, atau hari-hari ini? 

Menurut pengamatan saya, bahaya yang paling mengancam HKBP adalah suburnya sinisme dan agresi, yang lambat laun menjadi kekuatan yang menjadi daya rusak yang begitu kuat dalam bangunan kehidupan bersama kita dalam relasi personal dan komunal. Daya destruksi ini ditopang oleh media online yang begitu cepat dan luas, serta berimpak langsung. Media online/sosial menjadi semacam alat penekan dan perjuangan menyerang kompetitor-musuh. Siapa pun bebas menggunakan, selain cepat diakses, juga murah dan eksesnya sangat cepat. Jadilah media sosial ini menjadi "battlefield" (lapangan pertempuran) bagi orang-orang yang berbeda kepentingan. Lalu sesudahnya menabuh genderang perang.

Karena begitu kompleksnya problematika yang kita hadapi, maka sudah mendesak mendesain program/kegiatan yang bernuansa kekariban, yang lambat-laun akan dapat menyuburkan kembali semangat kebersamaan atau persekutuan, yang tampak mengalami gerusan besar oleh roh individual serta merenggangnya solidaritas-soliditas. 

Kekuatan dan kesuksesan korporasi-korporasi terletak salah satunya pada kemampuannya menjaga soliditas setiap unit-kompartemen menghadapi persaingan serta menghasilkan produk unggul di pasar terbuka yang sangat kompetitif. Apa jadinya kalau masing-masing unit berjalan sendiri-sendiri apalagi saling menyalahkan? Dapatkah sebuah produk berkualitas dihasilkan? Itu tak akan terjadi, kecuali terbangun sinergitas antar semua unit yang ada.

HKBP,  menurut pemahaman saya, sangat membutuhkan modal itu sebagai kekuatan yang menjadi daya gerak/dorong untuk mencapai mutu pelayanan yang berkualitas. 

Soliditas, karena itu mutlak diperlukan. Seluruh pengerja terutama, dari aras jemaat sampai pusat mutlak harus berkomitmen yang kuat menciptakan habitus seperti itu. Dan itu boleh terjadi apabila pembinaan-pembinaan yang baik dan bermutu dapat ditingkatkan terus, bukan hanya memenuhi program kerja, tetapi lebih jauh dalam rangka peningkatan mutu persekutuan dari pengerja HKBP sebagai 'agen perubah' dan jemaat sebagai konstituen untuk perubahan itu.

Merawat Kearifan Bersama
Energi dan kekuatan kita sering tergerus habis karena kuatnya kekuatan sinistik dan agresif untuk menyudutkan bahkan melemahkan sesama kita pengerja HKBP. Sikap seperti ini lebih banyak merugikan diri kita sendiri. Bila pun kita merasa menang dan sepertinya dapat "mengalahkan" atau mempermalukan pihak yang kita debat. Toh ke depan hal itu akan menurunkan "nilai investasi" kita ke masa depan. Tepatnya investasi dalam relasi personal dan komunal, yang akan sangat mendukung agenda pekerjaan kita di masa yang akan datang. 

Ambil contoh, apa yang acap kali dikatakan aggota jemaat sebagai kritik, yang sering mereka lihat pada setiap periode baru kepemimpinan di HKBP.  Bukankah kita tak jarang kehilangan momentum karena sibuk melakukan "konsolidasi internal" jika tidak memilih "menggebuk" mereka yang tak "sebarisan" dengan kita? Sudahlah, diakhirilah praktek semacam itu. Selain tak senafas dengan prinsip iman percaya kita, juga akan menjadi siklus 'kelatenan' yang semakin sulit kita putus.

Jadi sebaiknya, berbesar hati dan berwelas asihlah untuk meninggalkannya. Kompetisi, memang bukan sesuatu yang tabu dan benda asing yang selalu berarti negatif. Tidak ! Kompetisi tetap penting dan diperlukan dalam rangka peningkatan mutu kehidupan kita. Kompetisi mendorong dan memotivasi seseorang untuk mempersiapkan diri dengan baik, melalui latihan yang baik, disiplin yang ketat dan peningkatan pengetahuan atau pengertian sebagai modal yang diperlukan untuk mencapai prestasi puncak dalam hidupnya. 

Kita, tentunya tak dapat membantah kenyataan itu. Satu hal yang penting diperhatikan semua pihak, bahwa dengan berakhirnya sebuah kompetisi, maka hal berikut yang perlu dipikirkan dan lakukan bersama adalah bagaimana membangun kerjasama dan membantu mengimplementasikan kepentingan istitusi melebihi kepentingan pribadi. 

Itulah salah satu kearifan yang perlu kita tumbuhkan bersama.
Selain itu, kearifan lain yang tak kalah pentingnya adalah belajar saling menghargai, tak perlu membuka-buka apalagi menelanjangi kekurangan siapapun di hadapan umum. Sikap seperti ini bukanlah tabiat yang baik. Kearifan menjaga martabat sesama perlu disuburkan sehingga budaya hormat dan respek bertumbuh mekar meskipun perbedaan-perbedaan besar dan kecil ada. Mungkin, telah banyak kearifan bersama yang telah kita tinggalkan, padahal itulah salah satu bentuk kearifan yang merawat kebersamaan kita dan menjadi kekuatan kohesif. Bahkan tak jarang kearifan itu menjadi semacam kontrol sosial yang dapat menjaga kedamaian dan kebaikan dalam kehidupan kita bersama.

Dalam rangka revitalisasi program HKBP, terutama dalam tri tugas panggilannya, maka kekariban dan kearifan bersama tak boleh kita abaikan. Kegagalan kita dalam merawat dan menyuburkan itu justru salah satu kelemahan kita yang tak jarang mementahkan agenda kerja hkbp sejak lama. Bayangkan bila dua pendeta HKBP berbeda pendapat secara ekstrim tentang pentingnya mendukung program dana pensiun, sementara jemaat begitu antusias mendukung secara penuh. Inilah anomali yang sangat mengancam. 

Jadi apapun 76 keputusan Konas yang baru ditelurkan akan sangat ditentukan terutama oleh kesadaran dan pengertian kita para pendeta. Mengutamakan kebaikan bersama akan menjadi kearifan bersama yang membawa sikap "laho di hita, jala tu hita", yang artinya untuk kita dan bagi kebaikan kita. (Penulis adalah Pendeta HKBP Tanjung Sari Medan/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru