Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 Juli 2026

Uskup Padang Kunjungan Pastoral di Ujungbatu Riau

- Minggu, 15 Juli 2018 13:52 WIB
660 view
Uskup Padang Kunjungan Pastoral di Ujungbatu Riau
Pasir Pengaraian (SIB)  -Uskup Keuskupan Padang  Mgr Martinus Dogma Situmorang OFM.Cap, Selasa (10/7)  kunjungan pastoral di Paroki St Ignatius Pasir Pengaraian wilayah Ujungbatu yang dipusatkan di Gereja Katolik Stasi Santo Yohanes Tandun Barat, Kecamatan Tandun, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul).  Hadir sekira enamratusan jemaat yang berasal dari enam stasi se wilayah Ujungbatu. 

Kunjungan Pastoral  ini merupakan program Keuskupan Padang kepada jemaat di setiap Paroki termasuk Paroki Santo Ignatius Pasir Pengarayan yang memiliki 36 stasi yang dibagi menjadi empat wilayah.  

Hal itu disampaikan Ketua Stasi Santo Yohanes Tandun Barat A Samosir kepada SIB di sela-sela acara hiburan yang dikemas berupa gondang batak mengiringi tor-tor dari setiap stasi, dalam rangka pengumpulan dana pembangunan/rehabilitasi gereja. 

Dalam kotbahnya yang diangkat dari kitab Amos, Uskup menandaskan agar umat senantiasa menjadikan Firman Tuhan sebagai suluh, terang dan tongkat dalam kehidupan sehari-hari.  Melalui Nabi Amos Allah menegur bangsa Israel yang merupakan bangsa terpilih dan keturunan Abraham, yang dijaga secara luar biasa. Diberi tempat tinggal, kebebasan dari perbudakan dipelihara dari ancaman musuh.

Bangsa Israel juga mengikat perjanjian dengan Allah. Inti perjanjian, engkaulah Tuhan kami dan kami umat-Mu. Tuhan yang kami sembah, dipercaya, pemelihara dan pencinta yang setia.

Israel setia, memberikan persembahan, memberikan korban berupa lembu-lembu muda, burung-burung dan hal ini merupakan sikap keagamaan yang lumrah. Tetapi Tuhan berkata, saya menolak persembahanmu, karena tidak didasari niat yang tulus. 

Tuhan mau menyembuhkan, menguduskan umat yang selalu mengarahkan hidupnya kepada Tuhan, yang mengusahakan hidupnya sehat walafiat dan menjadi pekerja di kebun anggurnya. 

Uskup juga mengaitkan kotbahnya dengan karakter seorang pemimpin, yang tidak mementingkan dirinya, tetapi yang mengabdi melayani dan dalam kehidupannya selalu melayani. Oleh karenanya jangan memilih pemimpin, misalnya karena satu kampung dan bukan karena kata orang tetapi pilihlah dengan suara hati. Hal tersebut juga ada kaitannya dengan memilih pengurus gereja/stasi, terang Uskup yang pernah sebagai Ketua Komisi Pendidikan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) periode 2012-2018  ini. (G11/c) 
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru