Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 Juli 2026
RENUNGAN

Mujizat di Saat Krisis Pangan

* 1 Raja-raja 17:7-16 Oleh Pdt Sunggul Pasaribu
- Minggu, 02 September 2018 21:21 WIB
636 view
Mujizat di Saat Krisis Pangan
Sekitar tahun seribu sembilan ratus enam puluh sembilan pernah terjadi krisis pangan di daerah kabupaten Deli Serdang, Simalungun dan sekitarnya. Pasalnya, ketika itu terjadi bencana musibah hama padi, yaitu, penyakit wereng. Kebijakan awal pemerintah Orde Baru menerapkan tanaman padi IR-64 sebagai penemuan bibit unggul karena padi ini bisa dipanen tiga kali setahun. Namun penyakit tanaman padi yang mengegeroti bulir-bulirnya sehingga masyarakat tidak bisa memanen hasil pertaniannya. Akibatnya, masyakarat harus mengungsi meninggalkan daerahnya lalu pergi merantau, seperti ke daerah Langkat, Labuhan Batu, dan Riau. Ini bukan cerita, tetapi kenyataan yang dialami penulis dan keluarga harus mandah ke Langkat, di saat itu penulis berusia sekitar enam tahun.

Kejadian musibah krisis pangan inilah sepertinya yang juga dialami masyarakat negeri Sidon dan Nabi Elia tampil sebagai pelaku sejarah menjadi berkat di tengah krisis pangan (1 Raja-raja 17:7-16). Ada dua lokasi peristiwa di mana Elia menjadi saksi dan saluran berkat, yaitu di tepi sungai Kerit dan Zarpat. Awal panggilan kepada Elia ketika ia melihat sungai Kerit yang ditimpa kekeringan karena sudah tiga bulan terjadi kemarau panjang.Kemudian Allah memerintahkan agar pergi ke Zarpat, masih wilayah Sidon, yang terletak di semenanjung Sungai Yordan.Saat itu Raja Ahab sebagai pemimpin negeri Sidon. Ahab beristrikan Izebel, yang kita kenal kepemimpinanya sangat dipengaruhi sang istri.

Setelah sungai Kerit kering, Allah membuat ketetapan baru baginya untuk pergi ke Sarfat. Allah bukan hanya sedang menyelamatkan Elia dari kekeringan, tapi juga menyelamatkan seorang janda di Sarfat. Dari percakapan dan mujizat yang terjadi pada janda ini, ada hal yang luar biasa yang bisa kita pelajari dari kehidupan janda tersebut.  Ia dilanda kemiskinan yang berat, sampa ia berkata ia tidak bisa memberi roti kepada Elia sebab yang dimilikinya hanya segenggam tepung terakhir dan setelah itu dimakan, maka ia dan anaknya akan mati karena mereka sudah tidak mempunyai apa-apa lagi. Dari apa yang dikatakan janda itu nampak jelas bahwa mereka sedang diambang keputusasaan dan bersiap untuk keadaan yang terburuk bagi mereka, yaitu mati kelaparan. 

Tetapi ketika Elia menyampaikan maksud Tuhan kepada janda tersebut, bahwa Tuhan akan membuat tepung itu tidak akan habis, janda itu tidak banyak berkata-berkata melainkan percaya kepada apa yang Tuhan katakan kepadanya melalui nabi Elia. Janda itu bukan asal percaya sebagai pemanis bibir di hadapan tamunya, Elia, tetapi ia benar-benar percaya kepada apa yang Tuhan katakan.  Ini dibuktikan dengan keberaniannya untuk membuatkan Elia roti dari tepung tersebut, dengan risiko jika ternyata Elia berbohong, maka ia dan anaknya akan mati kelaparan. Risiko itu diambil oleh janda tersebut karena ia percaya Tuhan tidak mungkin mencelakakannya, sehingga perkataan nabi Elia dilakukannya. 

Dari kehidupan janda ini, kita belajar bahwa ada banyak cara Tuhan menolong umatNya yang menderita, termasuk dalam hal kecukupan akan kebutuhan sesehari. Terkadang Tuhan menyadarkan bahwa dalam kesusahan, kita masih bisa hidup dengan lebih sederhana lagi, misalnya dengan berbagi apa yang masih ada pada kita dengan orang lain, demikian pula dengan yang dialami Elia yang harus menyingkir ke tepian sungai Kerit. Sayangnya ada banyak orang merasa dirinya sudah paling menderita sehingga ia tidak sanggup melakukan apa pun untuk Tuhan dan orang lain. Dalam kesusahan apapun, kita harus belajar untuk percaya pada kuasa Tuhan, dan siap bertindak melakukan apa yang Tuhan mau, sebab seringkali dengan cara itu pula akhirnya Tuhan membuka jalan berkat untuk kita.

Janda di Sarfat punya cerita yang mirip dengan janda yang memberi persembahan dua peser (Lukas 21:1-4). Melihat itu, Yesus berkata bahwa janda itu memberi lebih banyak dari orang kaya karena Yesus tidak menghitung berapa jumlah diberikan dalam kotak persembahan. Biasanya yang menghitung jumlah persembahan adalah bendahara. Janda ini setelah memberikan persembahan dua peser maka ia tidak punya apa-apa lagi. Jumlah dua peser yang ia berikan akan dihitung oleh bendahara sementara jumlah yang dihitung Tuhan adalah bandingan persembahan dan yang tersisa di rumah. Tuhan menghitung apa yang sisa padamu.

Janda di Sarfat hanya memiliki segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli namun ia disuruh Elia membuat roti baginya dari tepung, namun jadilah makanan yang tidak ada habisnya. Elia sebagai utusan Tuhan sedangkan sang Janda berperan menjadi pelaku Firman Tuhan maka terjadilah mujizat.

Pesan nats ini, jangan pelit kepada Tuhan meski dalam situasi paceklik, atau ketika masih merasa kekurangan, atau miskin sekalipun. Sebab Tuhan akan melakukan mujizat-Nya dalam situasi krisis. Khotbah kita hari ini menjadi bukti sejarah. Percayalah.Amin.! (l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru