Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 Juli 2026
Pdt Dr Robinson Butarbutar Pada Konferensi Pendeta GBKP

Pendeta Terpanggil Sebagai Kawan Sekerja Allah untuk Menyatakan Rahmat

- Minggu, 02 September 2018 21:32 WIB
1.345 view
Pendeta Terpanggil Sebagai Kawan Sekerja Allah untuk Menyatakan Rahmat
SIB/Dok
FOTO BERSAMA : Pdt Dr Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta (KRP) HKBP (dua kanan), Pdt. Agustinus Purba, MSc (Ketua Moderamen GBKP), Pdt. Setiaulina Tarigan,Ph.D. (Sekretaris Konferensi). Pdt Dr Erick J Barus (Ketua Konferensi Pendeta GBKP/Kepala Depa
Pematangsiantar (SIB) -Gereja Kristen Batak Karo (GBKP) menggelar konferensi Pendeta (Konpen), Senin - Jumat (20 s/d 24 Agustus 2018) lalu di RC Sukamakmur, Sibolangit, Karo. Dengan tema "Pendeta GBKP Menjadi Kawan Sekerja Allah untuk menyatakan Rahmat Allah kepada Dunia" (1 Kontus 3:9, 1 Petrus 2:9).

Dalam acara yang dihadiri ratusan pendeta tersebut, Pdt Dr Robinson Butarbutar Ketua Rapat Pendeta HKBP sebagai narasumber mengatakan, 
kagum dengan pemilihan Tema dan visi GBKP.  Tema Konpen Pendeta GBKP 2018 mengajak para pendeta  menopang visi periodik pendek GBKP 2016-2020. Meningkatkan semangat missioner (2016), kemampuan berteologi dan belajar mandiri warga (2017), berpolitik, bermasyarakat dan berinteraksi dengan pemerintah (2018) dan berwiraswasta dengan semangat peduli lingkungan hidup (2019) serta mengelola informasi  dan teknologi pada era Revolusi Industry ke-4 (2020).

Pdt Robinson mengatakan, injil diberitakan pertama sekali di tengah-tengah orang Batak untuk penghapusan perbudakan. Para misionaris yang datang di tengah-tengah konteks Batak tentu sadar tentang hal itu. Karena itu, tanpa harus menghilangkan makna kepemilikan Allah terhadap pendeta sebagai hambaNya.  Untuk menghilangkan arti negatif perhambaan  dari kepemilikan Allah itu,  kata yang dipakai para misionaris yakni kata doulos tou theou dengan arti "naposo ni Debata". Maka dengan kata "doulos" inilah dijadikan gereja-gereja sepanjang sejarah untuk menyebut semua jabatan gereja yang beraneka di dalam gereja itu sebagai hamba Allah.

Pdt Dr Robinson Butarbutar dosen STT HKBP P Siantar itu juga mencermati pemilihan tema ini sebagai kekuatan (spirit) para Pendeta GBKP agar mampu menjadi Kawan Sekerja Allah untukNya. Namun menjadi pertanyaan, apakah identitas para pendeta GBKP sebagai pendeta dari suatu gereja yang memiliki tradisi reformis, yaitu tradisi yang memberi kebebasan kepada setiap komunitas untuk memberi perumusan teologis sesuai dengan konteksnya, tidak diatur oleh persekutuan seluruh gereja-gereja reform sedunia. Tetapi melayani dalam konteks budaya Karo yang memakai prinsip musyawarah (runggun), saling menghormati (sihamat-hamaten) dalam sistim kekerabatan lima marga, tiga ikatan, delapan jenis hubungan, dua belas ditambah satu jenis kekerabatan (merga si lima, rakut si telu, tutur si waluh, perkade-kaden si sepuludua tambah sada).

"Perkembangan pelayanan gereja dewasa ini adanya kecenderungan atau gejala yang menunjukkan gereja yang tidak berteologi lagi semakin menonjol. Beberapa dekade belakangan ini kita mengamati gereja kita terlalu sarat dengan program populis yang lebih banyak bersifat seremonial dan entertaining. Sifat program seperti ini tidak selalu salah, akan tetapi program pembinaan/kursus minim sekali. Kita asik dengan ritus peluncuran yang menghabiskan waktu lama dan melelahkan. Gereja cenderung "meniru dunia" atau "menjadi sama dengan dunia."Bobot teologis sangat minim", kata Pdt Robinson.

Dalam konferensi tersebut Pdt Robinson juga mengusulkan dua hal prioritas yaitu, Peningkatan kompetensi kepemimpinan transformatif para pendeta GBKP. Pendeta GBKP harus mendapat penguatan kompetensi di bidang kepemimpinan, bukan hanya kepemimpinan menggerakkan organisasi pekerjaan, melainkan juga kepemimpinan nilai-nilai transformatif. Kemudian peningkatan kompetensi teologis seperti mengikuti pendidikan formal pasca sarjana (S2 dan S3) di dalam apalagi di luar negeri agar para pelayanan semakin dimampukan menjadi rahmat bagi dunia. (R4/l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru