Kemalangan, penderitaan dan kematian tidak pernah pandang bulu. Semua terkena, lepas dari setuju, salah, beragama atau tidak. Banyak orang terperangah apabila melihat orang baik, anak-anak atau orang yang hidup moralnya terpuji tertimpa bencana. Banyak orang merasa tidak layak atas kemalangan yang menimpanya. Bencana besar berupa gempa dan tsunami yang melanda Donggala-Palu pada 28 September 2018 menjadi bukti betapa kita tak berdaya menghadapi bencana. Memandang lekat wajah Donggala-Palu di media sosial setelah tsunami menciptakan gabungan rasa antara kepedihan dan ketakjuban, harapan dan juga keyakinan akan Tuhan tetap hadir mendampingi umat-Nya.
Bila kita sungguh menyadari, bencana seperti gempa dan Tsunami disebut bencana sejauh kena pada kehidupan manusia. Alam tidak bisa dipersalahkan karena alam tidak bisa bertanggungjawab. Akan tetapi dalam setiap bencana ada seruan, ada kemungkinan dan kemungkinan ini menjadi penting untuk melihat masih ada yang dapat dilakukan sesudah peristiwa ini. Salah satu bentuk kemungkinan yang dapat dilihat adalah menanamkan rasa solidaritas dalam bentuk kesetiakawanan untuk membantu sesama saat mengalami musibah baik moril maupun materil.
Di sisi lain sebagai manusia berbudi luhur kita perlu melihat bencana gempa dan Tsunami ini sebagai 'warning' dan ajakan untuk memahami kemanusiaan dan alam secara jernih dan seimbang. Gempa dan Tsunami menjadi sebentuk konsientisasi bahwa alam-dunia dan segala isinya bukan barang mati "inanimated being" yang dapat diperlakukan sewenang-wenang tetapi ia adalah makhluk hidup, berjiwa dan bertumbuh. Mungkin dalam konteks ini sebagai orang beriman kita dapat mengerti dan memahami bukan hanya manusia yang kena musibah menderita tetapi juga Sang Pencipta pun turut menangisi kerusakan ciptaan-Nya di tempat musibah. Maka bila ada orang mengatakan bahwa bencana alam merupakan bentuk kutukan atau 'murka' Allah jelas ungkapan seperti itu masih dalam level emosional. Sebab untuk mendidik dan mencobai, rasanya Allah tidak perlu membinasakan ribuan orang dan apalagi banyak dari korban gempa dan tsunami ini adalah anak-anak yang tak berdosa.
Solidaritas
Terasa sangat sulit melukiskan apa yang terjadi di Donggala-Palu. Kita bersirobok dengan gambar-gambar horor di luar jangkauan akal sehat manusia: bumi Sulawesi Tengah itu mendadak berubah menjadi ranah bala sengsara. Jeritan pilu minta tolong terdengar sangat memilukan. Ratusan tubuh membusuk, bangkai kayu berserak, jeritan pilu dimana-mana, listrik mati, dan air bersih terasa sangat sulit ditemukan. Tak ada yang tersisa kecuali luka dan duka. Dalam situasi yang sangat memilukan ini masyarakat cepat tanggap dan bertindak. Bantuan mengalir hampir dari seluruh penghujung negeri dan negara lain, rasa kesetiakawanan sosial berkibar menembus sekat-sekat primordial yang selama ini kadang mengganggu. Pertikaian dan kepentingan politik dikesampingkan.
Namun supaya peristiwa ini tidak hanya lewat atau hanya kenangan begitu saja kita sebagai manusia otonom dan beriman perlu mencari makna di balik musibah ini. Mungkin orang ateis akan berkata: "Untuk apa mencari yang tidak ada di balik yang ada?" Kita hidup dan mati dalam dunia yang tanpa makna. Menjawab argumen para ateis kita sebagai manusia berakal sehat dan manusia beriman dapat mengatakan bahwa bencana merupakan suatu kemungkinan yakni masih adanya solidaritas yang kuat di antara umat manusia. Solidaritas dan persaudaraan sangat didambakan oleh mereka yang menjadi korban. Di tengah banyaknya korban tak berdaya terutama arus pengungsi yang membanjiri daerah Makassar dan sekitarnya perlulah kita menunjukkan rasa solidaritas. Adanya solidaritas ini menjadi fondasi yang kukuh dalam menjalin persaudaraan universal dan membangun kembali apa yang sudah sempat rusak dengan semangat dan jiwa bening penuh optimisme. Dengan adanya bantuan yang mengalir deras baik dari dalam negeri maupun dunia internasional rasanya untuk membangun Donggala-Palu, dari sisi pendanaan tampaknya tidak ada masalah. Hal itu telah terbukti sekalipun masih agak tersendat. Satu hal penting yang tak boleh tidak harus diperhatikan adalah pembangunan mental masyarakat Donggala-Palu. Trauma akibat gempa dan tsunami tidaklah begitu saja mudah dihapus dari ingatan. Dalam situasi ini perlu terus-menerus menanamkan semangat hidup bagi rakyat Donggala-Palu. Semangat patut kita mengerti sebagai sebagai daya batin yang menggairahkan. Semangat juga adalah kekuatan, daya hidup dan kemampuan untuk melaksanakan tugas atau menjalani hidup dengan baik. Semangat juga tampak dan menjadi nyata dalam ketekunan, ketabahan dan kemampuan untuk mengalami dan menjalani derita dan pengorbanan yang dituntut oleh tugas atau yang dibebankan oleh kehidupan dan lingkungan, alam maupun orang yang tidak bersemangan.
Orang bersemangat seperti orang yang terbakar, berkobar tetapi tidak selalu harus berkoar-koar namun juga tidak gampang bahkan seolah tidak pernah akan tergeletak terkapar karena keadaan sukar atau karena lapar atau karena ada rasa gusar. Semangat yang benar adalah mampu menjalani dan mengisi hidup dengan makna, tujuan dan arah serta langkah yang pasti. Semangat memberi kemampuan dan kemauan untuk bertempur melawan kejahilan dan kejahatan diri dan lingkungan serta mengusahakan kebaikan dan kemajuan bagi diri, orang lain, biarpun dengan pengorbanan.
Sejarah telah membuktikan bahwa orang penuh dengan semangat dan daya juang tinggi akan berhasil. Jepang yang pernah mengalami kehancuran saat mengalami kekalahan pada perang dunia kedua, berkat semangat yang tinggi dalam hitungan tahun telah bangkit berdiri dan mampu menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia, demikian juga halnya dengan Jerman. Dua negara yang hancur lebur saat pecah perang dunia kedua, kini telah menjadi raksasa ekonomi dan teknologi. Mereka bisa bangkit karena semangat tinggi. Maka dapat diyakini, kalau masyarakat Donggala-Palu, memiliki semangat yang tinggi mereka akan cepat pulih.
Berbelas Kasih
Harus diakui bahwa hubungan antar suku dan bangsa telah menumbuhkan kesadaran akan kesatuan dan ketergantungan satu sama lain. Dunia sudah semacam kampung besar dengan segala keberagaman dan keunikan penghuninya. Bangsa yang satu dengan yang lain saling membutuhkan hampir dalam segala hal. Rasa ketergantungan ini pada hakikatnya menuntut pentingnya berbelas rasa dalam ungkapan kasih.
Cinta kasih merupakan salah satu keutamaan paling mendasar dalam diri setiap orang. Cinta kasih patut disadari sebagai perwujudan dari keutamaan-keutamaan lain yang mampu mempersatukan dan melampaui segala batas suku, ras, golongan, agama, adat-istiadat, dan bangsa tanpa menghilangkan otonomi pribadi. Falsafah cinta kasih berasal kata Yunani yakni agapan-agape. Kata kerja agapan dalam bahasa Latin diterjemahkan dengan deligere yang mempunyai arti memilih, mencintai, dan menyambut dengan baik. Sedangkan kata benda agape diterjemahkan dengan delectio atau charitas yang berarti cinta kasih yang tidak mencari kepentingan sendiri, kasih yang tidak berdasarkan penghargaan, kebaikan hati, kemurahan hati dan kerahiman.
Paus Leo XIII dalam ensiklik Rerum Novarum menyatakan bahwa cinta kasih pertama-tama harus bercirikan kejujuran, kesediaan untuk berkorban melawan segala bentuk kesombongan, egoisme, dan penyangkalan diri demi kebaikan bersama. Cinta kasih menjadi kekuatan yang mendorong sekaligus berperan sebagai perekat dalam kesatuan tanpa ada dimensi diskriminatif sebagai sesama manusia. Pandangan Paus Leo XIII secara tegas hendak menandaskan bahwa cinta kasih kepada sesama terutama mereka yang menderita merupakan ungkapan tertinggi kesetiakawanan universal yang mengikat kesatuan dan persatuan umat manusia. Mari berbelas kasih untuk saudara kita di Donggala-Palu. Bantuan mesti kecil asal bersumber dari hati yang tulus akan sangat berarti untuk meringankan penderitaan mereka. Masyarakat Donggala-Palu perlu dukungan pasca gempa dan tsunami untuk membangun kehidupan yang lebih beradab lagi. (Penulis : Pastor dari Ordo Kapusin Medan dan Direktur Rumah Pembinaan Fransiskus P Siantar, Sumut/f)