Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026
Renungan

Berani Gagal

Oleh: Pdt. Jansen Simanjuntak, MTh, MM
- Minggu, 13 Juli 2014 15:32 WIB
493 view
Berani Gagal
Pesta Demokrasi Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 9 Juli 2014 lalu telah berlangsung aman dan damai. Kita harus bersyukur kepada Tuhan, ini kemenangan rakyat, prestasi luar biasa dalam sejarah perjalanan bangsa kita. Kita yakini bahwa kedua pasangan  Capres/ Cawapres adalah orang yang terpanggil untuk mengemban tugas dan peran politik dengan memahami konsekuensi politik, sosial dan ekonomi. Pasti ada saja yang tidak senang dengan hasil/ suara yang diperoleh, ada yang kecewa bahkan ada yang melihat masih terdapat kecurangan.

Seandainya ada orang yang bertanya: “Siapa yang tidak ingin mempunyai masalah. Atau siapa yang tidak mau gagal? Pasti semua orang mengangkat tangannya. Padahal semua manusia pasti pernah mengalami masalah dan kegagalan dalam hidupnya (kecil-besar dan mungkin berbeda-beda masalah/kegagalan yang dihadapi). Manusia dalam hidupnya tidak akan selalu berjaya atau berhasil, tetapi pasti akan pernah mengalami masalah atau kesulitan, seperti kesulitan dalam ekonomi, kesulitan dalam keperluan anak-anak (bersekolah), sulit dalam kebutuhan rumah-tangga, sulit dalam menghadapi tetangga, dan lain sebagainya. Hanya orang mati (yang sudah meninggal) saja yang tidak mengalami penderitaan atau masalahnya.

Marthin Luther King Jr. pernah berkata: “kadang kala hidup itu keras, sekeras baja”. Hidup mempunyai masa suram dan menyiksa. Bagaikan air tetap mengalir di sungai, hidup juga mempunyai kemarau dan musim hujan. Seperti musim yang senantiasa berubah, hidup mempunyai kehangatan, musim panas yang menyegarkan dan kesejukan musim dingin yang menusuk. Tetapi kita berupaya bangkit kembali dari kecewa ke gembira dan mengubah penderitaan yang gelap gulita dan sunyi sepi menjadi jalan terang-benderang menuju ke arah ketenangan jiwa.

Masalah merupakan tanda kehidupan. Semakin banyak masalah, semakin hidup diri anda. Jika kita ingin mengkaji lebih dalam dan lebih teliti, “masalah” justru akan memberikan peluang untuk menyelesaikannya. Orang yang dapat menyelesaikan “masalah” pasti membuka “peluang” besar. Jika kita dapat menyelesaikan “masalah” yang tidak dapat diselesaikan orang lain, kita akan mendapat hasil yang baik.  Jadi “masalah” bukan sesuatu yang begitu mengerikan. Itu yang pertama.

Yang kedua, seorang bijak berkata:

“Siapa yang tidak pernah menderita hanya sekedar hidup! Siapa yang tidak pernah gagal, adalah yang tidak pernah berusaha atau mencair! Siapa tidak pernah menangis, tidak tahu arti tertawa yang sebenarnya! Siapa yang tidak pernah meragukan orang, dialah yang tidak pernah berpikir.

Lalu apa arti dari semuanya itu? Artinya ialah “Belajar dari kegagalan adalah cara meraih kesuksesan. Tidak pernah gagal, berarti tidak pernah menang”. Jika anda tidak mengalami kegagalan dan pahitnya kegagalan, anda tidak dapat merasakan manisnya kesuksesan/ keberhasilan/ kemenangan. Intinya bahwa Prestasi dalam hidup adalah dapat bangkit dari keterpurukan akibat kegagalan. Dalam iman kekristenan kita mengimani dan mengamini ungkapan dan pemahaman: “Tiada mahkota tanpa duri” (No Gaint, Without Paint).

Yang ketiga, apabila anda gagal, ada beberapa hal yang seharusnya tidak diharapkan, misalnya:  Jangan berharap orang akan memuji anda, jangan berharap orang akan memahami mengapa anda gagal, jangan berharap semua “sahabat” akan masih berada di sekeliling anda, Jangan berharap untuk terus hidup dalam “kemewahan” seperti yang biasa anda alami, jangan berharap mendapat banyak dukungan moral dari orang, jangan berharap orang akan meminjami uang sebagai bantuan sementara,  jangan berharap Bank akan memberikan pinjaman selanjutnya,  jangan berharap bahwa anggota keluarga anda akan memahami anda, jangan berharap dapat makan dengan berselera atau tidur dengan nyenyak dan jangan berharap anda masih ingin keluar dan bergaul dengan orang.

Yang terakhir, sepanjang hidup, saya belum pernah menemui seseorang yang dipuji atau dihadiahi karena gagal. Sebaliknya kawan anda akan menegur seperti ini: “Sudah kubilang jangan…!. Begitulah keadaan masyarakat di mana kita hidup dan semua ini merupakan proses normal yang berlaku bila seseorang gagal. Tapi ingat, bahwa anda bukan orang pertama di dunia yang mengalaminya. Semua tokoh besar yang telah mengalami kegagalan besar dalam hidup telah melalui ujian ini, yaitu ujian yang membentuk diri mereka untuk dipersiapkan sebagai tokoh besar. Kegagalan masa lalu merupakan pedoman bagi kesuksesan di masa datang. (r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru