Di dunia ini berbelas-kasihan kepada mereka yang berdosa mengandung sebuah resiko, misalnya orang yang berupaya menyelamatkan orang lain yang sedang berada di tepi jurang kita akan berhadapan dengan resiko turut terjatuh ke dalamnya. Biasanya, tidak mungkin seorang berbelas-kasihan kepada orang lain tanpa memiliki kedekatan personal dengan orang itu. Namun dalam konteks keimanan, belas-kasihan melampaui akan sehat, slogan dan ekspresi perasaan. Artinya, belas-kasihan mencakup tindakan tanpa memperhitungkan resiko. Maka belas kasihan seperti itulah yang disebut dengan kasih karunia.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus! Dua hari lagi kita akan memasuki pesta perayaan akan peringatan kelahiran Yesus (Natal) ke dunia, tepatnya tanggal dua puluh lima bulan Desember ini. Dari sekian banyak perayaan natal yang kita amati, atau yang kita ikuti sendiri mengingatkan tentang tema perayaan natal sesungguhnya adalah sebagai kasih karunia Allah kepada umat manusia dan dunia.
Misalnya, harian Sinar Indonesia Baru (SIB) dalam aksi natal tahun ini terlihat begitu gencarnya melakukan dengan berbagi kasih Natal kepada Panti panti Asuhan, milik gereja, atau milik masyarakat, termasuk panti asuhan di luar milik yang bukan Kristen (gereja) turut mendapat limpahan kasih karunia. Hal ini mengartikan kepada pembaca bahwa Natal bukan perayaan seremoni belaka tetapi ssuatu tindakan kasih karunia Allah yang patut kita hayati dan dilakukan oleh yang mengimani Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru S'lamat.
Demikianlah halnya dengan nats khotbah kita hari ini yang tertulis dalam kitab Yudas pasal 1:17-21, mengisyaratkan bahwa bukan karena kasih karunia Allah yang melayakkan kita memeroleh hidup dan kehidupan. Kasih karunia Allah semata yang membuat kita menjadi manusia dimerdekakan dari kuasa maut. Oleh karena itu, janganlah justru kita menyelewengkan kasih karunia-Nya dengan mengulangi perbuatan dosa. Benar. Allah mengasihi kita, Allah mengampuni, Allah menyelamatkan namun Allah menuntut kesetiaan, ketaatan, dan tanggungjawab terhadap diri sendiri dan kepada sesama manusia.
Surat Yudas ditulis sebagai respons terhadap sebuah persoalan genting di jemaat, yaitu ajaran sesat. Ada orang-orang tertentu yang telah menyusup ke dalam jemaat dan menyalahgunakan kasih karunia Allah demi kesenangan sendiri (Yudas 1:4). Dalam istilah theologi, ajaran mereka disebut "antinomianisme" (anti hukum). Kelompok antinomian memahami kebebasan Kristiani secara keliru, dan memakainya demi kenikmatan duniawi: uang, makanan, dan pelampiasan nafsu (Yudas 1:12, 16, 19). Tidak di bawah tuntutan Taurat diidentikkan dengan izin untuk berbuat dosa semaunya.
Di tengah situasi seperti ini, sangat penting bagi penerima surat untuk berpegang teguh pada iman yang selama ini telah diberitakan lintas generasi dari Tuhan Yesus ke para rasul sampai orang-orang Kristen generasi kedua atau ketiga. Apa yang sedang terjadi tidak seharusnya mengagetkan mereka. Sejak dahulu sudah ada para penyesat yang didorong oleh kepuasan hawa nafsu semata-mata. Selain itu, sesuai dengan yang sudah dinubuatkan, di akhir zaman memang akan tampil para penyesat dan pengejek kebenaran (Yudas 1:17-18). Jemaat tidak usah kaget. Mereka hanya perlu menjaga kemurnian ajaran dan kekudusan.
Walaupun demikian, Yudas tidak hanya berusaha menguatkan jemaat yang masih setia pada iman yang benar. Dia juga mendorong mereka untuk menunjukkan kasih kepada orang lain yang mungkin sudah tergiur dengan kesesatan yang ada. Orang-orang ini membutuhkan uluran tangan yang tulus. Yudas ingin mengajarkan bahwa kasih yang benar selalu mencari orang yang tidak benar. Kasih karunia bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi kasih karunia Allah juga perlu ditebarkan sebagai wujud pengasihan kita kepada sesama manusia. Sebagai orang yang memiliki pundasi Yesus Kristus adalah dasar iman yang benar maka kita harus senantiasa berdiri tegak, kokoh, jangan mau dikuasai oleh hawa nafsu duniawi.
Marilah kita merefleksikan nats ini bahwa kitab Yudas menuliskan suratnya agar manusia jangan disesatkan oleh hawa nafsu dengan mengandalkan pengasihan dan kasih karunia-Nya. Demikian juga dengan momentum natal yang sedang maraknya dirayakan oleh berbagai kalangan agar tidak mengabaikan makna kasih karunia Allah dalam bentuk tindakan kasih yang nyata melalui berbagi kasih dan rejeki kepada mereka yang miskin, yang tidak mendapat rejeki karena bencana gagal panen, mereka yang sakit, yang di penjara. Perayaan natal yang menyimpang dari pemahaman akan kasih karunia Allah dalam diri anak-Nya, Yesus Kristus maka sia-sialah nuansa pemaknaan perayaan natal dalam keKristenan kita.
Allah menuntut kita untuk memperlakukan orang lain seperti kita sendiri sebagaimana kita telah diperlakukan oleh Allah yang mengasihi dan menyelamatkan dari kuasa dosa dan maut. Apa jadinya jika Allah dahulu memilih untuk menjauhi dan membenci kita? Syukur dan Puji Tuhan! Di dalam Yesus Kristus Bapa di surga telah berbelas-kasihan kepada kita. Amin! (l)