Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 Juli 2026
RENUNGAN

Siapakah Anak Manusia Itu?

* (Matius 16:13-20) * Pdt Dr Pahala J Simanjuntak
- Minggu, 03 Maret 2019 21:41 WIB
2.949 view
Siapakah Anak Manusia Itu?
Orang bijak berkata : Berani karena benar dan takut karena salah. Kata-kata bijak ini menggambarkan konsistensi perilaku dan kebenaran seseorang. Artinya manusia konsekuen mengatakan kebenaran walaupun terkadang sulit dan beresiko. Seseorang berkata benar bukan untuk mendapat pujian atau penghormatan yang berlebihan. Tetapi memberikan kesaksian yang benar itu tanggungjawab orang Kristen. Tugas dan kesaksian kita di hadapan semua orang adalah memberikan kesaksian dan pengakuan yang benar terhadap apa yang kita percayai tentang Yesus Kristus.

Demikianlah nats renungan kita hari ini yang didasarkan pada Matius 16:13-20, ketika Yesus berada di Kaisarea Filipi. Yesus ingin mengajukan pertanyaan kepada murid-murid-Nya tentang siapakah Anak Manusia itu menurut orang banyak? Dari beberapa pertanyaan itu diperoleh jawaban yang berbeda-beda, ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, ada yang mengatakan Elia dan ada pula yang mengatakan Yeremia. Jawaban seperti itu menurut Yesus masih kurang tepat sebab mereka itu belum mengenal siapakah yang dimaksudkan sebagai Anak Manusia itu.

Pertanyaan Yesus kepada murid-murid bukan tentang Anak Manusia lagi tetapi mengenai siapakah Yesus sendiri. Tetapi apa katamu, siapakah Aku (ay. 15) ini ? Simon Petrus salah satu dari murid memberikan jawaban yang berbeda dengan jawaban orang banyak sebagaimana disampaikan murid-murid lain. Menurut Simon Petrus bahwa Yesus adalah Mesias Anak Allah yang hidup (ay. 17). Petrus tidak terpengaruh terhadap pengakuan orang banyak. Menurutnya Yesus lebih dari Yohanes Pembaptis, Elia dan Yeremia. Apa yang dilakukan oleh Anak Manusia itu adalah penggenapan terhadap nubuatan dalam Perjanjian Lama dan kitab Injil. Di sini Petrus bukan hanya memberikan jawaban yang berbeda dengan mereka tetapi pengakuan tersebut berdasar dari apa yang sesungguhnya dialami oleh Petrus ketika bersama-sama dengan Yesus. Dari pengalaman itulah timbul sikap pengakuan terhadap Yesus sebagai Mesias yang diurapi Allah.

Apa yang dapat kita pelajari dari teks ini? Pertama : orang yang mengaku Yesus hidupnya tidak akan sia-sia bahkan sebaliknya dia akan disebut sebagai orang yang berbahagia. Kebahagiaan itu bukan datang dari dunia ini tetapi dari Allah sendiri. Kedua, orang yang mengaku Yesus sebagai Mesias Anak Allah akan memperoleh jaminan hidup atau jaminan keselamatan. Jaminan hidup itu bukan hanya di dunia ini tetapi juga jaminan hidup kekal. Ketiga, kepada orang yang mengaku Yesus adalah Mesias Anak Allah yang hidup akan diberikan "kuasa" yaitu kunci kerajaan sorga untuk mengikat dan melepaskan orang yang menghadapi pergumulan, kesedihan, kebimbangan dan penderitaan serta jawaban atas ketidakpastian hidupnya. Sehingga mereka bebas dan merdeka dari rasa takut, tekanan, intimidasi dan kegelisahan.

Dalam kehidupan kita saat ini apa yang menjadi pengakuan dan kesaksian Petrus seperti di atas ini juga perlu sebagai kesaksian kita bersama di sepanjang kehidupan kita. Mengaku Yesus adalah Anak Allah haruslah menjadi dasar kehidupan iman kita. Pengakuan kita terhadap Yesus sebagai Mesias tidak boleh terpaksa atau paksaan, atau sekedar ikut-ikutan, tetapi kita mengakui-Nya karena kita sudah menikmati perbuatan Allah melalui pelayanan Yesus Kristus di dunia ini.

Kita akan memasuki minggu-minggu Passion, yakni Minggu sengsara perjalanan Yesus (via dolorosa). Itu artinya kita telah dipersiapkan untuk menyambut peringatan akan kematian dan kebangkitan Yesus (Paskah) yang menjadi kehidupan baru bagi kita. Salah satu pesan disampaikan oleh Passion ini adalah meneguhkan dan memperkokoh pengharapan dan keyakinan kita kepada Yesus sebagai Mesias.

Dengan pengakuan dan penyerahan diri terhadap kuasa Yesus menjadi jaminan keselamatan terhadap hidup kita. Dari kayu salib Yesus membuktikan bahwa Dia adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Dia bukan manusia biasa tetapi Anak Allah, yang Ilahi. Maka dengan demikian hendaklah kita membuktikan pengakuan kita secara konsisten dan sungguh-sungguh bahwa Yesus adalah Anak Allah yang hidup dan menghidupkan kita. Pengakuan seperti ini juga menjadi pengakuan setiap gereja-gereja di dunia ini bahwa tidak ada dasar pengakuan gereja selain berakar di dalam Yesus Kristus. Hal itu pula yang disampaikan Yesus kepada para murid dan rasul ketika mereka diutus untuk memberitakan kerajaan sorga (bnd. Mat. 10:1-4; 7-15).

Oleh sebab itu marilah kita mengaku bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Sekalipun kita menghadapi kesulitan namun tetaplah kita setia untuk mengaku Yesus. Percayalah bahwa upah mereka yang mengaku Yesus akan diselamatkan serta memperoleh mahkota kehidupan, sebagaimana disampaikan Yohanes kepada jemaat-jemaat mula-mula. "Hendaklah kamu setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan (Wahyu 2:10.c)"Amin.! (f)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru