Tidak selamanya politik itu kotor. Karena politik itu berhubungan dengan kehidupan bersama dalam masyarakat. Gereja ada dalam masyarakat. Ia ada dalam interaksi dengan dunia. Karena itu penataan kehidupan bersama merupakan hal yang tidak dapat kita hindari.
Dalam arti ini, politik merupakan hal yang sangat berpengaruh. Karena begitu penting, Plato tidak setuju jika politik diserahkan hanya kepada politikus. Ia harus diberikan kepada orang- orang bijak, para filsuf karena merekalah yang mengetahui kebenaran.
Dari pandangan Plato, kita bisa catat bahwa sejak dulu integrasi diri para politisi sudah dipertanyakan. Politik harus diserahkan kepada para filsuf. Bukan kepada orang-orang yang tidak mencintai kebijaksanaan. Mengapa?
Politik itu mengarah pada kegiatan yang berkaitan dengan kekuasaan, yakni bagaimana mendapat dan mempertahankannya serta menggunakannya.
Politik berhubungan langsung dengan pemerintahan, penguasaan dan cara pelaksanaan dan cara pelaksanaan kekuasaan demi kesejahteraan masyarakat. Hanya orang yang mencintai hikmat, bukan mencintai kekuasaan yang dapat melakukan hal itu secara benar.
Sedang bagi filsuf Aristoteles, ia melihat politik sebagai seni. Dalam politik dibutuhkan kearifan. Ini disebabkan karena politik terjadi dalam konteks yang plural. Ada banyak orang dengan banyak kepentigan. Politik karena itu, mengandung kemampuan dan keterampilan untuk mengerjakan apa yang sekarang dan disini mungkin untuk kepentingan semua dan kebaikan masa depan. Dalam arti ini dalam politik terkandung nilai kemampuan berunding dan kompromi untuk memberi dan menerima.
Menyimpulkan apa yang digariskan di atas, politik harus melayani kepentingan kebenaran dan kebaikan. Pemerintah yang memimpin rakyatnya dengan adil dan bijaksana tidak pernah bertindak keras terhadap mereka. Baik Plato dan Aristoteles, politik berkaitan erat dengan hakekat dasar manusia yang mau membentuk komunitas demi peningkatan mutu kehidupan.
Berpolitik berarti mengusahakan keselamatan dan kesejahteraan orang banyak. Berpolitik berarti mengusahakan keselamatan dan kesejahterahan orang banyak. Berpolitik artinya melayani masyarakat.
Bagaimana dengan pandangan dan ajaran Yesus? Yesus datang untuk memberitakan datangnya Kerajaan Allah. Yesus memberi perhatian yang serius tentang keselamatan masa kini (Mark 2:15, Luk 2:11). Ini nyata dari keseriusan Yesus untuk menolong orang-orang bermasalah yang Ia temukan dalam perjalanan pemberitaanNya. Berita itu ia sampaikan dalam satu konteks politik. Pada zaman ia hidup, bangsanya hidup dalam penjajahan Roma.
Bangsa pilihan Allah diperintahkan oleh bangsa kafir. Ini satu kontrakdiksi, bahkan semacam penghinaan yang tidak dapat diterima oleh banyak kelompok dalam sejarah zaman Yesus. Pelayanan yang dilakukanNya dia bersifat inklusif, terbuka. Yesus tidak diskriminatif.
Memang nampak bahwa para pengikut Yesus kebanyakan adalah orang kecil. Ia berpihak pada mereka yang kecil, miskin dan lemah. Tetapi tidak mentolerir dosa atau kesalahan yang ada pada mereka. Jadi Yesus sebenarnya bukan melayani orang miskin, lemah dan kecil. Ia sebenarnya melayani nilai kebaikan dan kebenaran.
Dalam membentuk masyarakat yang sejahtera, Yesus justru mengutamakan cara-cara damai. Yesus memberi perhatian yang sangat besar pada kasih, juga terhadap musuh sekalipun. Ia berkata : â€Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga padanya pipi kirimu†(Mat 26:39).
Kasih yang menjadi tekanan dalam sikap politis Yesus tidak hanya bersifat religius. Prinsip ini juga mewarnai aksi-aksi sosial dan politisik yang ditunjukkan Yesus dan yang dia kehendaki dari murid- murid. Hal ini nampak dengan jelas misalnya dalam perumpamahan tentang Orang Samaria Yang Baik Hati. Seorang Samaria yang dibenci oleh orang Yahudi menunjukkan kasih yang luar biasa. Ia membayar biaya perawatan kepada pemilik penginapan yang adalah orang Yahudi untuk menolong seorang Yahudi yang dirampok oleh orang Yahudi (Zelot). Kasih sajalah yang memampukan Orang Samaria itu melakukan hal yang istimewa dalam kehidupan bersama.
Jelasnya, bagi Yesus, misi utamanya adalah memberitakan Kerajaan Allah. Dalam hubungan dengan persoalan kemanusiaan, Ia sangat prihatin dengan para korban politik pada masanya (orang kecil, miskin dan lemah) dan pada saat yang sama ia menelanjangi kejahatan para politikus pada masaNya. Bagi Yesus politik adalah demi sebuah nilai: keadilan dan kebenaran. Nilai ini tidak dapat diperjuangkan dengan senjata atau dengan kompromi, melainkan dengan prinsip solidaritas karena kasih.
Gereja ada untuk memperjuangkan nilai keadilan dan kebenaran, agar tatanan kehidupan bermasyarakat hidup dengan damai dan sejahtera. Jadi panggilan gereja, tiap orang Kristen menurut Rasul Paulus dalam surat Roma 12 mengatakan bahwa kita harus lebih dahulu mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup (secara utuh jasmani dan rohani) sebagai persembahan yang hidup. Ketika hidup kita telah menjadi persembahan yang harum bagi Tuhan, maka kita akan semakin memahami kehendak Tuhan, apa yang berkenan kepadaNya. Kita akan semakin merasakan kasih Tuhan Yesus.
Gereja ada dalam dunia untuk mendirikan tanda- tanda kerajaan Allah. Dalam hidup dan pelayaanNya di dunia, Yesus yang adalah kepala gereja juga memberitakan tentang kedatangan Kerajaan Allah nyata dalam nyata dalam bentuk pemberitaan Injil, pelucutan kuasa-kuasa ketidakadilan, penyembuhan manusia dari penyakit, pembebasan para tawanan dari penindasan ( Luk 4 : 19-20 ). Selanjutnya, misi ini Yesus percayakan kepada murid-murid yang merupakan cikal bakal dari gereja (Mat 28: 19-20, Mark 16:15). Amin. (Praeses HKBP Distrik XI Toba Hasundutan, tinggal
di Balige/h)