Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 Juli 2026
RENUNGAN

Diakonia : Pelayanan Yesus Kristus Kepada Yesus Kristus

* Catatan : Pdt Dr Luhut P Hutajulu
- Minggu, 31 Maret 2019 20:24 WIB
816 view
Di dalam kasih-Nya Allah bukan hanya menciptakan tetapi mengembangkan ke tahap yang lebih tinggi. (Ev.1 Yoh. 4:16b-21; Ep. Yoh.5:39-47)

Dari mana datangnya lintah? Dari sawah turun ke kali. Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati.

Pantun ini berarti ada sumber cinta itu, siapakah sumber cinta kasih itu? Kasih itu berasal dari Allah (ayat 7) dari Allah yang adalah kasih bahwa semua kasih menimba sumbernya. Sebagaimana dari sesuatu yang berada dalam hakikat ilahi itu sendiri. Ia yang tetap berada di dalam kasih tetap berada di dalam Allah (ay.16). Manusia diciptakan dalam gambar dan rupa Allah (Kej.1:26). Allah adalah kasih dan karena itu, berlaku seperti Allah dan berlaku apa yang ia maksudkan berarti bahwa manusia haruslah juga mengasihi.

Kasih mempunyai hubungan berganda dengan Allah. Hanyalah dengan belajar mengenal-Nya maka kita juga belajar mengasihi dan hanyalah dengan mengasihi maka kita belajar untuk mengenal-Nya.(ay.7 dan 8). Kasih berasal dari Allah, dan kasih membawa orang kepada Allah.

Melalui kasihlah maka Allah dikenal (ay12). Kita tidak dapat melihat Allah, sebab Ia adalah Roh; apa yang dapat kita lihat adalah akibat dan hasil kerja-Nya. Efek dari Allah adalah kasih. Ketika Allah datang kepada manusialah maka ia, manusia itu, dibungkus dengan kasih dan kasih sesama manusia.

Kasih Allah diperlihatkan dalam Yesus Kristus (ayat 9). Apabila kita memandang kepada Yesus maka kita melihat dua hal mengenai kasih Allah.(a) Ialah kasih yang tidak mengambil kembali apa yang telah diberikan. Allah telah bersedia memberikan Anak-Nya yang satu-satunya dan menjadikan korban yang tidak ada pengorbanan yang mungkin melebihi demi kasih-Nya untuk manusia. (b) Itu adalah kasih yang sama sekali tanpa pamrih. Tidaklah mengherankan apabila kita mengasihi Allah, apabila kita mengingat segala pemberian yang Ia telah berikan kepada kita. Bahkan terlepas dari Yesus Kristus yang mengherankan adalah bahwa Ia mengasihi mahluk yang malang dan yang tidak taat seperti kita ini.

Kasih manusiawi adalah suatu respons kepada kasih yang ilahi (ay.19). Kita mengasihi sebab Allah mengasihi kita. Adalah pandangan kasih-Nya yang membangkitkan di dalam kita kehendak untuk mengasihi-Nya oleh karena Ia lebih dulu mengasihi kita dan mengasihi sesama kita sebagaimana Ia mengasihi mereka.

Apabila kasih tiba maka ketakutan akan hilang (ayat 17 dan ayat 18). Ketakutan adalah emosi yang karakteristik dari seseorang yang mengharapkan akan dihukum. Selama kita memandang Allah sebagai Hakim, Raja, Pemberi Undang-Undang, maka tidak ada lain yang terdapat di dalam hati kita selain dari penghukuman. Tetapi sekali kita mengenal hakekat Allah yang sejati, maka ketakutan akan ditelan ke dalam kasih. Ketakutan yang masih tetap tinggal adalah ketakutan kalau-kalau kita menyusahkan hati-Nya yang penuh kasih itu.

Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia sangat mempunyai hubungan yang tak dapat dibatalkan (ayat 7, 11, 20, 21). Yohanes mengatakan, hampir dengan cara kasar bahwa seseorang yang mengklaim mengasihi Allah dan membenci saudaranya maka hal itu tidaklah lain dari kebohongan. Satu-satunya jalan untuk membuktikan bahwa kita mengasihi Allah adalah mengasihi orang-orang yang dikasihi Allah. Satu-satunya jalan untuk membuktikan bahwa Allah berada di dalam hati kita adalah dengan terus-menerus memperlihatkan kasih sesama di dalam kehidupan kita, dengan cara:

a.Memberi sedekah kepada orang miskin atau memberi pekerjaan kepada orang miskin.

b.Menyembuhkan orang buta atau berusaha supaya orang-orang punya cukup makanan sehingga tidak sakit mata lalu buta.

c.Menolong orang gelandangan atau berjuang bagi system sosial ekonomis hingga orang-orang mempunyai tanah untuk digarap, atau menghijaukan tanah-tanah gundul dekat desa-desa asal mereka.

d.Menolong secara tambal-sulam kaum yang tertindas secara ekonomi dan sosial sehingga keadilan merata.

Orang Kristen perlu mendorong pembangunan masyarakat dan perubahan-perubahan sosial yang fundamental yang memungkinkan semua orang hidup dengan sejahtera.

Kita melayani sesama kita yang miskin karena Tuhan juga melayaninya dan ingin memakai kita sebagai alat pelayan-Nya. Kita juga melayani mereka karena dengan demikian kita melayani Tuhan sendiri. Yesus berkata,"segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku"(Mat.25:40) Dengan demikian Kristus datang kepada kita dalam diri kita. D.T. Niles, teolog terkenal dari Sri Lanka, menulis:

"Aku menjumpai Yesus Kristus dalam sesamaku tetapi sesamaku menjumpai Yesus Kristus dalam aku. Aku menjadi tangan gereja yang diulurkan kepada sesamaku dengan kasih Kristus kepadanya. Dengan lain perkataan, aku harus melayaninya seolah-olah dia adalah Yesus Kristus . Aku juga harus melayaninya seolah-olah aku adalah Yesus Kristus. Sebenarnya diakonia gereja adalah pelayanan Yesus Kristus kepada Yesus Kristus. Dalam diakonia itu gereja ikut serta dalam dunia. (l)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru