Elie Wiesel, seorang pengarang kenamaan keturunan Rumania dan Amerika Serikat yang lolos dari kamp konsentrasi Nazi pernah menuturkan kesaksiannya, "Dua orang dewasa dan seorang anak dieksekusi di tiang gantungan oleh serdadu Nazi.
Kedua orang dewasa segera tewas ketika leher mereka tergantung sambil menjulurkan lidah mereka. Namun semua penonton takjub, karena si anak kecil itu mampu bertahan hingga lebih dari setengah jam berjuang di antara hidup dan mati. Dia tetap hidup sambil menggelepar-gelepar, lidahnya memerah. Di belakangku seseorang mengatakan, "Dimanakah Tuhan,"? Lalu seorang menjawab lagi, "Di sana, Tuhan tergantung di tiang gantungan itu."
Kematian Kristus yang akan kita peringati beberapa hari lagi merupakan peristiwa keberpihakan dan solidaritas Allah kepada manusia. "Allah yang turut menderita", tulis Choan-Seng Song, seorang teolog Taiwan dalam bukunya. Penebusan itu tidak berhenti di titik kematian dan kebangkitan Kristus. Kita tengah berada di fase penantian akan Kristus sebagai mempelai yang telah membawa penebusan dan akan menutup pintu untuk penghakiman terakhir. Kedatangan mempelai yang terlambat itu digambarkan sebagai penundaan kedatangan hari Tuhan (ay. 5).
Nats khotbah Matius 25:1-13, ini dimulai dari ketidaksiapan lima perempuan yang bodoh, yang memang turut menunggu, namun tidak menyangka bahwa pengantin itu datang terlambat (ay. 3). Mereka tidak membawa cukup persiapan minyak. Sebaliknya, perempuan bijaksana, mengadakan persiapan dengan baik. Minyak yang mereka miliki cukup untuk waktu yang lama (ay. 4).
Dalam kenyataan hidup, tentu kita ingin seperti perempuan yang bijaksana tersebut, senantiasa dalam sikap berjaga dan bersiap. Namun kehidupan kita lebih sering diibaratkan seperti refleksi perempuan yang bodoh tersebut. Kita bukan hanya tertidur saat menanti-nantikan kedatangan Tuhan, namun justru lebih suka berada di luar perayaan itu. Hati kita tidak bersama dengan sukacita seorang mempelai tersebut. Ibarat para penggembira yang meneriakkan "Hosana bagi Anak Daud" dan menyambut Yesus (Mat 21:9b) namun mereka jua yang meneriakkan: "Ia harus disalibkan!." (Mat 27:23b).
Meister Eckhart, seorang tokoh mistis Kristen dari Jerman pernah mengatakan, "Allah selalu bersiap setiap saat, namun kita sangat tidak siap; Allah mendekati kita, namun kita justru menjauhiNya; Allah ada di dalam, namun kita tetap berdiri di luar." Inilah pertanyaan besar bagi umat Kristen dan gereja di masa ini. Kita mengatakan, hidup di dalam Tuhan, namun tingkah laku kita jauh dari kehidupan orang yang hidup di dalam Tuhan. Kita hidup di dalam gereja, namun kita tertidur dan pelayanan kita tidak terisi dengan minyak yang cukup. Kita menyatakan sebagai terang di tengah dunia namun perilaku umat Kristen ibarat mereka yang kebingungan di tengah kegelapan.
Kedatangan Mempelai itu digambarkan sebagai kedatangan Hari Tuhan, kematian dan kegelapan yang kita lupa untuk mempersiapkannya dengan bijaksana. Mazmur 90:12 yang tertulis di dalam terjemahan Martin Luther berbahasa Jerman mengatakan, Herr, lehre uns bedenken, dass wir sterben müssen, auf dass wir klug werden (Artinya, Tuhan, ajarlah kami memikirkan bahwa kami harus mati, sehingga kami beroleh hati yang bijaksana).
Kita sedangberada di tengahruangan, dimana kematian akan mengakhiri kehidupan dan penantian kita. Bagaimana sikap kita menyambut datangnya Mempelai tersebut? Kematian, baik itu kematian Kristus maupun kematian kita adalah realita yang berada sangat dekat dengan kita. Karenanya, buli-buli minyak yang penuh terisi merupakan panggilan kehidupan bagi kita (Ay. 4). Hidup, penantian, persiapan dan terus terjaga adalah respons dari rahmat yang senantiasa harus kita rawat dan pelihara sepanjang kehidupan.
Selagi pintu masih terbuka, marilah kita tetap menyalakan cahaya kehidupan kita dengan minyak firman Tuhan dan kobaran Roh Kudus yang terus menguatkan semangat kita di dalam penantian tersebut. Selama Mempelai itu belum tiba, selama kematian itu belum tiba, teruslah menjadi generasi milenial yang mempergunakan masa mudanya dengan bijaksana.
Di masa-masa musim kompetisi politik di Indonesia, marilah kita mengisi minggu-minggu ini dengan doa dan keputusan politis yang diterangi oleh Roh Kudus. Marilah menjadi orang tua dan gereja yang benar-benar mempersiapkan sebuah generasi yang bijaksana dan senantiasa bersiap di dalam segala kondisi zaman. Selama mempelai belum tiba, selama pintu belum tertutup, selama Hari Tuhan masih ditunda kedatangannya, teruslah hidup sebagai anak-anak terang yang diisi oleh Firman Tuhan yang tidak boleh habis. Ketika Anda mengingat kematian Kristus, ingatlah juga bahwa maut sedang mengintai Anda.
Namun kematian Kristus bukanlah akhir dari segalanya. Dia mengalahkan kematian dengan kebangkitan dan kenaikanNya ke Sorga untuk mempersiapkan ruang perjamuan kawin bagi kita (ay. 10). Kita yang telah beroleh kasih karuniaNya adalah gambaran gadis yang bijaksana, yang harus bersiap, berdoa, bersukacita dengan obor yang menyala, menantikan kekasih kita, Juruselamat yang akan datang itu. Kematian dan kehidupan kekal, pintu yang ditutup dan masih terbuka. Berjaga dan bersiaplah, sebab kamu tidak bisa memastikan hari kedatangan-Nya! Amin.! (d)