Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026
R E N U N G A N

"Gembalakanlah Domba-dombaKu" (Yohannes 21:15-19)

Oleh Pdt Sunggul Pasaribu
- Minggu, 28 April 2019 11:59 WIB
16.860 view
"Gembalakanlah Domba-dombaKu" (Yohannes 21:15-19)
Judul ini diambil dari ucapan Tuhan Yesus kepada Simon Petrus di saat menjelang masa krisis, di mana Anak Manusia akan memasuki babak penderitaan. Sebab itu, Yesus perlu mengadakan chek – rechek sejauhmana keseriusan para murid untuk meneruskan perjuangan memberitakan Injil. Sebagai saksi mata Kristus, mereka ini akan diberikan kuasa dan dari surga untuk memberitakan keselamatan, melakukan tanda mujizat, menyembuhkan orang sakit

Sebelum mereka ditugaskan, terlebih dahulu Yesus bertanya kepada Simon Petrus hingga tiga kali secara berturut-turut dengan pertanyaan yang sama diucapkan Yesus, inilah ketiga pertanyaan tersebut, kata-Nya : Simon, apakah engkau mengasihi Aku.? Maka, segera dan spontas saja Simon Petrus menjawab, : Ya, Tuhan, aku mengasihi Engkau.! Kemudian Yesus pun melanjutkan dan berkata, : " Gembalakanlah Domba-dombaKu ". Cukup singkat statemen dan perintah ini tetapi sifatnya pelimpahan kewenangan yang berbentuk tanggungjawab dan pekerjaan yang cukup berat.

Dari pertanyaan Yesus, dan jawaban Simon Petrus, maka murid-murid pun menerima perintah penugasan dari Yesus supaya 'menggembalakan domba Allah'. Menjadi pertanyaan, mengapa penugasan ini didahului dengan pertanyaan? Hal ini diartikan bahwa Tuhan Yesus merasa khawatir dengan masa depan para pengikut-Nya. Karena mereka mau menerima penugasan tersebut maka para murid inipun disebut menjadi 'gembala'. Sedangkan istilah yang dimaksud dengan kata 'Domba' adalah orang percaya. Kemudian kata 'gembala' ditujukan kepada mereka yang diutus untuk menjadi pelayan rohani.

Rupanya, Tuhan Yesus sudah melihat kenyataan di masyarakat Yahudi meskipun di tengah-tengah mereka ada diangkat dan ditentukan sebagai pemimpin di bidang pemerintahan, dan di bidang agama, seperti : Raja, Gubernur, Hakim, Ahli Taurat, Farisi, Kaum Imam, namun mereka tidak bisa diharapkan untuk menggembalakan jiwa-jiwa manusia. Karena jabatan mereka sudah cenderung sekuler, sehingga kehidupan di bidang kerohanian masyarakat ketika itu bisa terancam krisis apabila murid-murid-Nya menelantarkan mereka (umat Tuhan).

Untuk maksud penggembalaan itulah Tuhan Yesus lebih serius berbicara sebelum menugaskan para murid untuk menggembalakan kawanan domba Allah. Pemakaian istilah dari dunia pertanian, yaitu ; kata 'gembala' dan 'domba' merupakan sebagai simbol kerendahan diri. Sedangkan hakekat gembala terhadap domba ingin menekankan karakter pelayanan.

Istilah dalam pemberitaan Injil di gereja pun akhirnya mengadopsi pemakaian kata gembala dan domba. Karena hakiki Kerajaan Allah adalah untuk melayani dunia bukan untuk dilayani. Sangatlah tepat sekali Tuhan Yesus menegaskan ulang dalam bentuk penugasan kepada murid-muridNya supaya menggembalakan domba-dombaNya. Para murid sebagai saksi Kristus yang telah melihat karya keselamatan yang telah dilakukan di dalam dan melalui Anak-Nya, Tuhan Yesus harus diwariskan sepanjang jaman dan ke seluruh bumi. Artinya, Injil tidak boleh berhenti sebatas hanya pada masa hidup Yesus. Tetapi sesudah kematian, dan kebangkitan bahwa Berita Keselamatan harus dikumandangkan oleh para murid dan orang percaya kepada semua mahluk.

Benar, bahwa belakangan hari sesudah jaman para Rasul, masyarakat Yahudi menghadapi krisis kepemimpinan di masyarakat dan keagamaan. Hal itu dapat diketahui di tengah kehidupan mereka dengan begitu maraknya rupa-rupa pengajaran sesat dan guru-guru palsu. Pemerintah dan lembaga yang berkompeten tidak lagi mampu mengawasi atau menindak mereka. Kesemrawutan hidup bermasyarakat dan beragama akibat kehilangan tokoh panutan. Para pemimpin menelantarkan masyarakatnya, pemimpin rohani pun langka ditemukan di kalangan Palestina ketika itu.

Sebab ketika itu peran dan fungsi para Rasul sangat dibatasi bahkan dianggap sebagai lawan politik penguasa. Persekutuan pun diadakan secara tersembunyi. Akibatnya, kehidupan kerohanian masyarakat Yahudi pada saat itu sangat menipis dan gersang.
Setelah penugasan disampaikan Yesus maka tugas pemberitaan para Rasul tentang Kristus yang bangkit pun gencar dilakukan ke mana-mana, pembaptisan dilakukan setelah didahului dengan pemberitaan dan pengajaran tentang Firman Allah. Hasilnya, berdirilah gereja di Yerusalem, Yudea, Antiokia, dan daerah Asia Kecil, hingga sampai ke Asia Raya. Adapun nama tokoh penginjil yang populer ketika itu, seperti : Simon Petrus, Yudas (bukan pengkhianat), Bartolemeus, Filipus, Timoteus, Titus, Barnabas, dan Rasul Paulus.

Dewasa ini semua orang percaya, dan gereja terpanggil untuk menggembalakan domba-domba Allah di semua aspek kehidupan. Gereja dan gembala (Penatua, Pendeta, Guru Injil, Evanggelis) dipanggil untuk melayani kehidupan kerohanian. Para pemimpin dipanggil untuk menggembalakan dombaNya di bidang sosial, ekonomi, budaya, dan pemerintahan. Kedua aspek pelayanan ini tidak boleh dilupakan gereja. Apalagi di saat mereka mengalami berbagai tantangan dan kesulitan hidup. Gereja perlu merumuskan pola pelayanan yang terpadu dan holistik di semua aspek kehidupan manusia. Agar peran dan fungsi gereja dirasakan manfaat kehadirannya di dunia ini. Maka marilah kita menunaikan tugas panggilan untuk menjadi gembala di tengah tengah keluarga, masyarakat dan bangsa ini. Amin.! (c)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru
Militer AS Blokade Pelabuhan Iran

Militer AS Blokade Pelabuhan Iran

Washington(harianSIB.com)Militer Amerika Serikat (AS) saat ini akan memulai memblokade seluruh lalu lintas maritim terhadap kapal yang masuk