Pada tanggal 17 Juli 2015, Kanselir Jerman Angela Merkel bertemu dengan seorang remaja pengungsi Palestina dari Libanon, yang keluarganya mencari suaka di Jerman.Remaja itu mengatakan kepada Merkel bahwa benar-benar sulit menyaksikan bagaimana orang-orang menikmati kehidupan sementara mereka tidak bisa sebab mereka tidak tahu kemana masa depan mereka tertuju. Merkel menjawab: "Politik memang bisa keras". Merkel menjelaskan bagaimana Jerman tidak bisa menampung ratusan ribu pengungsi Libanon di Jerman. Mendengar jawaban ini, remaja tersebut menangis, Merkel mengusap-usap punggungnya tetapi tetap berkeras dengan argumen politiknya.
Orang-orang yang menyaksikan perjumpaan ini mengkritisi kebijakan pemerintah Jerman dan akhirnya Merkel mengalah dan membuka pintu bagi pengungsi Libanon.Masalah selesai? Ternyata, kebijakan baru ini juga menuai protes karena banyak warga yang tidak rela pengungsi Libanon tinggal di negara mereka dengan alasan khawatir dengan teroris radikal.Dapatkah kita membayangkan bagaimana kehidupan menjadi sangat tidak nyaman bagi para pengungsi Libanon yang seolah tidak diinginkan itu? Mungkin demikian halnya dengan bangsa Israel yang juga merasakan sengsara hidup dalam pembuangan di tanah Babel bertahun-tahun lamanya.
Bagi umat yang sedang mengalami pembuangan, janji Tuhan pada perikop ini sangat melegakan.Janji pemulihan bukan semata terletak pada respons Allah atas jeritan minta tolong umat yang menderita, melainkan pada rencana kekal Tuhan yang sedang Dia wujudkan.Memang tak terpahami kekuasaan dan kesetiaan Allah, seperti yang terungkap dalam nama-Nya yang menjamin bahwa Ia akan menggenapi semua janji-Nya. Bila perikop sebelumnya menyoroti pemulihan umat Tuhan dari sisi kemahakuasaan Allah, maka perikop ini memperlihatkan inisiatif Allah memulihkan umat-Nya dengan melakukan keadilan.Umat Tuhan dipanggil untuk menyaksikan dan mengantisipasi tindakan-tindakan Allah yang tak terpahami, serta bagaimana Ia mengembalikan umat-Nya pada keadaan yang semula, mereka hidup sejahtera lahir dan bathiniah.
Sebagaimana dalam catatan sejarah peperangan yang dialami oleh Israel dari berbagai bangsa, di mana efek perang yang menyengsarakan umat Tuhan serta negeri mereka porak-poranda.Seolah-olah Allah membiarkan peperangan tindakan amarah di dalam murka-Nya kepada kota Yerusalem dan penduduknya (Yeremia 33:4-5, 10, 12a). Berhentikah Allah dengan amarah ini? Jawabnya, tidak! Sebab, Pertama, Allah berjanji bahwa mereka akan dipulihkan di bidang kesehatan, kesejahteraan, dan keamanan sebagai menjadi atmosfir baru Yerusalem. Kedua, Allah meniadakan efek dosa yang begitu menjerat umat pada masa lampau.Hasil pemulihan itu di satu sisi menimbulkan sukacita dan sorak sorai umat Tuhan dalam bentuk ibadah syukur di rumah Tuhan, di sisi lain Allah dipermuliakan dan dihormati segala bangsa.
Semua ini menjadi petunjuk kuat akan kepedulian dan kasih Allah yang tak pernah pudar atas umat-Nya. Betapa pun jahat dan najisnya mereka karena pelanggaran dan dosa mereka, sehingga harus dihukum Allah dengan dahsyat, Allah tetap menginginkan pertobatan sehingga Ia bisa mengampuni dan memulihkan mereka. Karena itu, jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk bertobat.Raihlah tangan-Nya yang diacungkan pada Anda, agar belaskasih dan pengampunan-Nya menjadi milik Anda.
Beberapa waktu yang lalu, ada sekelompok preman berkedok agama yang suka melakukan sweeping ke tempat-tempat yang mereka anggap sebagai tempat-tempat maksiat.Mereka bermaksud menghancurkan tempat maksiat tersebut, lalu memurnikannya dari kenajisan.Sayangnya seringkali tujuan di balik kekerasan itu hanya untuk mendapatkan bayaran, sehingga akhirnya tempat maksiat itu bisa tetap dibuka, mungkin dengan sedikit dipoles penampilannya.
Ketika Tuhan menghukum umat-Nya, penghukuman itu bertujuan untuk memurnikan mereka.Itulah sebabnya, tempat maksiat harus dihancurkan, termasuk istana raja, demikian juga para pelaku kejahatan (Yeremia 33:4-5).Memang umat-Nya harus babak belur dihajar Tuhan.Namun, tujuan penghukuman itu bukan untuk pemusnahan melainkan supaya bertobat dan dimurnikan, kelak mereka boleh dipulihkan kembali.
Setelah penghukuman menyebabkan umat-Nya menderita, Tuhan siap untuk menyembuhkan dan memulihkan kita dari segala kenajisan, dosa, dan pemberontakan. Pemulihan itu akan membuat kita kembali mulia dan terhormat di mata bangsa-bangsa dan di hadapan Tuhan.Akibat pemulihan dari reruntuhan dan puing rumah-rumah umat Tuhan maka akan keluar suara sukacita dan sorak sorai seperti pada pesta perkawinan. Pemulihan itu juga dialami secara ekonomi. Tanah-tanah pertanian akan kembali menghasilkan panen, sedangkan padang-padang rumput menghijau menjadi tempat ternak milik umat Tuhan menikmati makanan mereka.
Mungkinkah janji pemulihan itu tergenapi?Pada masa Yeremia, mungkin sulit sekali bagi mereka untuk bisa melihat ke masa depan yang gemilang seperti itu. Namun, tidak ada yang mustahil bagi Allah. Oleh karena itu, Tuhan berfirman agar mereka yang sulit percaya bertanya langsung kepada-Nya.Ia akan menjawab mereka dan menyingkapkan rencana-Nya.Percayakah Anda bahwa Tuhan sanggup dan pasti akan memulihkan umat-Nya yang bertobat dan bersedia dimurnikan-Nya?.Jawabnya, lihatlah perbuatan ajaib Tuhan di sekeliling kita saat ini. Amin!