Yesus tidak meminta anda atau saya untuk mewartakan kabar baik kepada dunia seorang diri, sebab kita tak akan mampu melakukannya. Tetapi Dia meminta agar kita berbuah banyak (Yohanes 15:8). Salah satu caranya adalah dengan membawa seseorang kepada Kristus. Jika kita membawa seseorang kepada Tuhan, dan orang itu membawa satu orang lagi dan demikian seterusnya, maka ada potensi besar untuk melipatgandakan jumlah orang percaya, sama seperti biji yang ditanam dan memberikan hasil.
Beberapa tahun silam, Museum Ilmu Pengetahuan dan Industri di Chicago memamerkan sesuatu yang menarik. Di sana diperlihatkan sebuah papan permainan dam dengan satu butir gandum di atas bidang pertama, dua butir di bidang kedua, empat butir di bidang ketiga, dan selanjutnya berturut-turut sampai dengan butir delapan, enam belas, tiga puluh dua dan enam puluh empat butir hingga tak ada lagi tempat. Lalu ada sebuah pertanyaan, "Dengan dasar pelipatgandaan pada tiap bidang secara berurutan seperti ini, berapa butir gandum akan ada kita dapati pada bidang keenam puluh empat?" Anda dapat menekan tombol di bawah papan tersebut untuk menemukan jawabannya. Maka jawaban yang muncul, "Sembilan triliun (satuan dengan dua puluh satu nol) cukup untuk menyelimuti seluruh benua India setinggi lima belas meter." Luar biasa!
Jika setiap kita membawa satu orang saja kepada Kristus setiap tahun, dan setiap tahun pula orang tersebut membawa satu orang lagi kepada Kristus, maka tuaian akan berlimpah. Ini sedang terjadi di beberapa bagian dunia saat ini. Bukankah sudah tiba waktunya bagi kita untuk mulai mewartakan kabar baik melalui strategi pembuahan secara hitungan berlipat ganda sebagaimana rumus deret ukur dalam ilmu matematika?
Perumpamaan pokok anggur yang benar ini disampaikan Yesus kepada murid-murid-Nya (minus Yudas) pada suatu malam sebelum Paskah seusai mereka makan bersama (Yoh 13:1-2), Yudas pada saat itu tidak ikut lagi karena ia meninggalkan mereka setelah diperingatkan Yesus. Lokasi peristiwa ini tidak diketahui secara pasti, namun jika mengacu pada Yoh 14:31 diperkirakan terjadi dalam perjalanan mereka dari ruang makan menuju taman Getsemani, tempat Yesus ditangkap. Tidak lama setelah peristiwa ini terjadi, Yesus ditangkap. Jadi, bagian ini adalah satu dari beberapa pesan terakhir Yesus kepada murid-murid-Nya. Pesan-pesan terakhir biasanya mengandung sesuatu yang sangat penting untuk diingat oleh orang yang ditinggalkan.
Biasanya Yesus memulai perumpamaan (sebagian penafsir mengatakan ini bukan sebuah perumpamaan, melainkan sebuah ilustrasi) dengan kalimat seperti, "Hal kerajaan sorga itu seumpama.", atau: "Adalah seorang…." Kali ini Yesus menggunakan cara yang agak berbeda. Dia memulainya dengan kalimat "Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya." Masih berbeda dengan perumpamaan-perumpamaan lain yang biasanya dimulai dengan sebuah cerita kemudian dilanjutkan dengan artinya, perumpamaan ini menempatkan cerita dan artinya secara silih berganti. Mengapa Yesus memakai cara yang agak berbeda? Setidaknya ini bisa menunjukkan adanya kekhususan perumpamaan ini dibanding dengan perumpamaan yang lain, kekhususan yang sepertinya mengharapkan perhatian khusus juga dari kita.
Allah, Bapa mengundang kita untuk tinggal di dalam Dia agar Dia tinggal di dalam kita. Tinggallah dalam Aku dan Aku dalam kamu. Bila kita tinggal dalam Bapa dan Yesus, maka kita akan menghasilkan buah yang melimpah. Luar biasa ajakan ini. Ia menggambarkan diri-Nya sebagai pokok anggur dan kita sebagai ranting-ranting-Nya. Ranting tidak bisa berbuah jika terlepas dari pokoknya, namun pokok anggur hanya akan menghasilkan buah melalui ranting-rantingnya, dan bukan pada pokoknya. Luar biasa! Yesus membuat kita agar mengalami buah yang berlimpah meskipun diri kita adalah orang yang lemah, rapuh, dan berdosa.
Kemudian Yesus juga menegaskan bahwa bila kita tinggal di dalam Dia dan Dia tinggal di dalam kita, apapun yang kita minta kepada Bapa, pasti akan dikabulkan. Kunci utamanya adalah iman dan harapan. Dengan iman dan harapan yang kita bangun dalam diri Yesus sendiri maka Allah akan memberkati dan kita akan menghasilkan buah yang berlimpah dalam pekerjaan dan hidup kita.
Sebagai orang Kristiani, Kristuslah pokok anggur dan kitalah ranting-rantingNya yang diharapkan mampu berbuah manis dan melimpahi dunia. Namun buah akan dihasilkan hanya apabila kita bersatu dengan batang anggur yaitu Yesus sendiri. Ketika ranting itu dipotong dan tidak menyatu lagi dengan pokoknya, maka pelan-pelan ranting itu akan mati.
Sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk berbuah. Buah akan dihasilkan kalau kita dengan cara tertentu bersatu dengan Yesus sendiri. Tanpa persatuan dengan Kristus, tanpa kedekatan dalam relasi pribadi, kita akan menjadi kering dan mati. Tuhan Yesus adalah kekuatan yang memungkinkan kita berani dan kuat di tengah kelemahan dan keberdosaan kita untuk menghasilkan buah ke-Kristenan. Percayalah! Amin! (f)