Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026

Puasa Yesus Menolak Syahwat Berkuasa

Oleh Pdt Estomihi Hutagalung
- Minggu, 26 Mei 2019 09:38 WIB
467 view
Puasa Yesus Menolak Syahwat Berkuasa
Pdt Estomihi Hutagalung
Titik kritis puasa Tuhan Yesus terletak pada keteguhan hati dalam melawan jebakan populis. Titik tengkarnya berada pada ketegangan akan pemahaman identitas kemesiasan Yesus dalam realitas berpijak sosial-Nya sebagai Anak Manusia. Sebab, atas nama kemanusiaan dan panggilan nilai keberagamaan, Yesus digoda untuk melakukan tindakan populis guna menjawab kebutuhan manusia pada makanan dan menguatnya syahwat berkuasa.

Pada aspek politis, realitas godaan Yesus berdimensi populis demikian akan dapat menjadi daya magnet yang kuat dalam menggerakkan massa guna menolak dan sekaligus menumbangkan rezim yang dianggap curang. Pemikiran yang bersifat pragmatis telah menjadikan populisme seakan-akan satu-satunya saluran kebuntuan sosial politik dan dalam mewujudkan peradaban manusia yang sesungguhnya.

Dan variabel-variabel dalam mewujudkan syahwat berkuasa dimaksud, melekat sangat kuat dalam Diri Yesus. Sebab dalam pelayanan-Nya, Yesus melakukan banyak tanda mujizat dengan menyembuhkan orang berpenyakit kusta, orang buta, penderita kerasukan roh jahat, memberikan lima ribu orang makan dan membangkitkan orang mati. Sebuah tindakan heroik yang dimaknai sebagai jawaban atas teologi pengharapan mesianik Yahudi.

Realitas tindakan Yesus demikian menjadi variabel terpenting guna mewujudkan salah satu sifat dasar manusia sebagaimana dicatat oleh Nietzche yaitu adanya kehendak untuk berkuasa. Akhirnya, pada puncaknya sebagai titik krisis, Yesus berada pada jebakan populis. Maka momentum puasa Yesus dijadikan oleh para penggoda pada jebakan penghancuran visi dan misi penyelamatan Allah yang dinyatakan dalam tugas pelayanan Yesus.

Realitas Sebagai Jebakan
Itu sebabnya, tidak secara kebetulan, jika Tuhan Yesus ketika berpuasa di padang gurun selama empat puluh hari, empat puluh malam, digoda untuk melakukan tindakan populis dalam mewujudkan syahwat berkuasa. Yesus digoda untuk menjadikan batu menjadi roti, digoda bertindak atraktif di bait Allah dan digoda untuk memiliki kekuasan dunia asalkan menyembah Iblis.

Sebab, peristiwa puasa Yesus, lebih tepat dikatakan bersifat koinsidensi antara adanya upaya untuk merealisasi kemesiasan Yesus sebagai Anak Allah, dalam realitas sosial ekonomi politik dengan pengharapan mesianik Yahudi masa rezim Roma di Palestina. Ada kondisi sosiologis yang mendorong pemahaman umum bahwa kesediaan Yesus untuk membuat batu menjadi roti akan dianggap sebagai sebuah tindakan yang "masuk akal" guna menjawab kebutuhan sosial masyarakat. Tindakan demikian juga menjadi investasi politik yang sangat kuat dalam menggerakkan massa untuk melawan bahkan menggulingkan kekuasan Roma yang dianggap curang.

Implikasi sosial jebakan populis demikian, muncul atas kondisi sosiologis yang disemangati jiwa kapitalis. Sebab pada zamannya, masyarakat Palestina mempunyai pemahaman yang bersifat silogis antara kemampuan dalam menumpuk dan memiliki materi yang melimpah akan berhubungan dengan harga diri. Bahwa kedudukan sosial, kekuasan dan identitas nilai seseorang dalam masyarakat sangat ditentukan pada seberapa kuat dalam mengumpulkan limpahan harta.

Itu berarti, materi, makanan, minuman menjadi nilai utama dan terutama dalam memaknai kehidupan. Sebab, semangat kapitalisme demikian dianggap menjadi sebuah kemenangan dalam pergumulan hidup. Sebuah pemahaman yang berdimensi pada mamon dan sebuah tindakan perlawanan, penolakan terhadap kehidupan yang diberikan Tuhan.

Refleksi Puasa Yesus
Dalam perspektif populis, sesungguhnya tidak ada alasan bagi Yesus untuk tidak menggerakkan massa (people power) atas nama kebutuhan orang Yahudi yang mengalami penindasan ekonomi, politik dan agama. Jika Yesus ternyata bersedia menjadikan batu menjadi roti maka hal itu melahirkan investasi politik dan dapat dijadikan sebagai bukti teologi atas nama harga diri orang Israel sebagai umat pilihan. Sebuah jawaban atas pemahaman terhadap teologi pengharapan mesianik Yahudi.

Sebab sebagai bangsa yang mewarisi pemahaman teologi sejarah pembebasan oleh Musa kepada bangsa Israel dari Mesir, maka Yesus dianggap mampu menjawab realitas sosial berpijak masa itu. Jika Musa sebagai manusia biasa, ternyata mampu melakukan hal-hal yang revolusioner, maka Yesus sebagai Anak Allah seharusnya mampu melakukan hal itu. Suatu silogisme bernuansa teologis. Itu sebabnya penggoda itu memberi suatu pernyataan yang menuntut tindakan politik revolusioner yang dibungkus gagasan agama, "Jika Engkau Anak Allah".

Implikasi ekonomi atas realitas yang dialami pada masa puasa Yesus, akan dapat juga mendorong setiap umat yang berada dalam kondisi kelaparan, berkekurangan, dalam kemiskinan, untuk menuntut agama, gereja agar dapat bertindak revolusioner demi kesejahteraan umat. Realitas sosial yang tertindak dijadikan sebagai alasan untuk melakukan tindakan walau melewati batas etika atau norma. Jika demikian halnya, maka kekerasan akan dapat menjadi legal karena dibungkus nilai-nilai agama.

Tetapi, tindakan puasa Tuhan Yesus, sesungguhnya hendak menunjukkan bahwa kondisi lapar, kemiskinan, adanya penindasan bukan justru mendorong tindak revolusioner. Realitas kelaparan, kemiskinan tersebut harus dijadikan sebagai momentum menggantungkan diri sepenuhnya pada kuasa Allah. Bukan karena Yesus tidak mampu untuk tindakan demikian. Maka sebaliknya, justru karena adanya kemampuan, modal, kekuatan, kekayaan maka setiap orang diundang untuk berpuasa sebagai tanda dan makna ketergantungan manusia pada Allah dan sekaligus sebagai tanda bahwa puasa adalah ketidak berdayaan manusia.
Menjawab Realitas

Kita sesungguhnya sedang diuji, dengan memerhatikan realitas terancamnya relasi kebangsaan pasca Pilpres dan Pemilihan Calon Legislatif. Sebagaimana terlihat dalam media sosial, para politisi saling menghujat, mendorong seruan untuk mendelegitimasi bahkan adanya upaya menumbangkan pemerintahan. Apakah sesungguhnya masyarakat kita sedang lapar, haus, akan roti dan kekuasaan? Apakah sesungguhnya masyarakat kita membutuhkan tokoh, pimpinan gereja, pimpinan negara, gubernur, yang dapat membuat batu menjadi roti?

Kesadaran akan adanya relasi kekuasan dan jebakan populisme itulah yang menjawabnya. Jika Yesus membuat batu menjadi roti, maka hal itu akan melahirkan pemahaman baru yang keliru bahwa hidup akan berlangsung tanpa Tuhan dan pada akhirnya menimbulkan keserakahan. Maka roti akan menjadi sesuatu yang bersifat mamon; menguasai pikiran untuk bertindak serakah. Akibatnya, hidup tanpa ketergantungan pada Tuhan dan bertindak irrasional. Halal atau tidak halal, tidak menjadi persoalan; itulah komitmennya. Akibatnya, tindakan korupsi bukanlah suatu hal yang salah.

Itulah sebabnya Yesus menjawab sipenggoda, bahwa "manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah" (Mat. 4:4). Jika demikian halnya, Yesus memperhadapkan pembaca Injil pada suatu pemahaman bahwa roti bukanlah tujuan hidup manusia. Pembaca Injil akan diingatkan bahwa manusia tidak boleh menggantungkan hidup pada roti.

Itulah sebabnya Yesus tidak bertindak pada jebakan populis untuk menjawab realitas fakta sosialnya, walaupun momentum demikian sangat prinsipil masa itu. Puasa Yesus menolak syahwat berkuasa. Justru pada masa kondisi kebutuhan akan makanan, kebutuhan akan kekuasaan seperti itulah Yesus menyerukan agar ketergantungan pada Tuhan lebih diutamakan dalam kehidupan itu sendiri.

Puasa Yesus menolak syahwat berkuasa, menolak keinginan populis. Jika demikian, maka hidup bukan lagi diukur pada pencapaian materi, kekayaan, roti tetapi pada teguhnya komitmen manusia untuk menggantungkan diri pada Tuhan. Salam! (h)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru
Militer AS Blokade Pelabuhan Iran

Militer AS Blokade Pelabuhan Iran

Washington(harianSIB.com)Militer Amerika Serikat (AS) saat ini akan memulai memblokade seluruh lalu lintas maritim terhadap kapal yang masuk