Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026
RENUNGAN

Memuji, Meminta, Mengampuni dalam Doa (Lukas 11:1-13)

Oleh Pdt Sunggul Pasaribu
- Minggu, 26 Mei 2019 09:50 WIB
13.245 view
Memuji, Meminta, Mengampuni dalam Doa (Lukas 11:1-13)
Pdt Sunggul Pasaribu
Saat menyeberangi Lautan Atlantik dengan sebuah kapal beberapa tahun lalu, seorang penulis sekaligus guru Alkitab bernama F. B. Meyer diminta berkhotbah kepada para penumpang. Seorang agnostik (orang yang tidak peduli akan adanya Allah) mendengarkan khotbah Meyer mengenai doa yang dijawab, lalu berkata kepada temannya, "Saya tidak percaya kata-katanya sedikit pun."

Selanjutnya pada hari yang sama, orang itu kembali mendengarkan Meyer berkhotbah kepada kelompok penumpang yang lain.

Namun sebelum pergi ke kebaktian itu, ia membawa dua buah jeruk di dalam sakunya. Ketika menuju ruang pertemuan, ia melewati seorang wanita tua yang tertidur nyenyak di kursi geladak. Lengannya terjulur dan tangannya terbuka lebar. Dengan maksud membuat lelucon, ia meletakkan dua buah jeruknya di telapak tangan wanita itu. Setelah kebaktian usai, ia melihat wanita tadi dengan gembira sedang memakan buah itu. "Anda kelihatannya sangat menikmati buah jeruk itu," kata orang agnostik itu sambil tersenyum. "Ya, Pak," jawab wanita itu. "Bapa-Ku sangat baik kepadaku." "Apa maksudmu?", tanya orang agnostik itu. Ia pun menjelaskan, "Saya telah mabuk laut selama berhari-hari. Saya memohon kepada Allah agar mengirimkan sebuah jeruk. Saya jatuh tertidur ketika sedang berdoa. Ketika terbangun, saya mendapati bahwa Dia mengirimkan kepada saya tidak hanya satu tetapi dua buah jeruk!" Orang agnostik itu merasa takjub dengan perwujudan nyata yang tidak disangka-sangka dari khotbah Meyer mengenai doa yang dijawab. Maka, ia pun percaya kepada Kristus. Ya, Allah menjawab doa-doa kita!

Demikianlah halnya dengan para murid ingin belajar tentang doa yang benar, doa yang dikabulkan, sebab doa adalah kekuatan dari Ilahi sebagai media meminta, mencari dan mengetuk hati Tuhan. Kehidupan dan pelayanan Yesus sendiri hanya mengandalkan doa kepada Bapa di Sorga. Inilah berbagai peristiswa doa Yesus, yaitu Ketika Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (Luk 3:21), Yesus berdoa dan membiarkan diri dikuatkan oleh kehadiran Ilahi. Ia berdoa semalam suntuk di sebuah bukit sebelum menetapkan ke-12 muridnya sebagai rasul (Luk 6:12). Yesus berdoa sebelum menanyai murid-murid mengenai pendapat orang mengenai dirinya dan mendengarkan pendapat murid-murid sendiri (Luk 9:18). Kemudian Ia mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes ke gunung untuk berdoa (Luk 9:28), sebelum mengajar murid-muridnya berdoa, Yesus sendiri berdoa di sebuah tempat (Luk 11:1), di Getsemani sewaktu bergulat dengan dirinya sendiri apakah akan menerima kenyataan salib dalam hidupnya (Luk 22:41), di Golgota, di kayu salib, ia masih berdoa dua kali (Luk 23:34 dan 46). Itulah kesempatan-kesempatan yang secara khusus disebut Lukas. Bagi Yesus berdoa ialah menaruh diri di hadapan Yang Ilahi yang dipercayanya sebagai Bapa. Ia membiarkan kekuatan Ilahi menghidupinya.

Dalam mengikuti perjalanannya ke Yerusalem, murid-muridnya makin menyadari hal itu. Lambat laun mulai jelas bagi mereka dari mana kekuatan dan keteguhan pribadi yang mereka ikuti itu. Oleh karena itu mereka datang kepada-Nya minta diajar berdoa, minta diberi rumusan doa yang dapat mereka pegang untuk bekal hidup dan pelayanan selanjutnya sebagai murid dan saksi Kristus dalam memberitakan injil keselamatan.

Maka Yesus pun merespon permintaan para murid agar diajarkan berdoa dengan memberikan doa yang kita kenal sebagai Doa Bapa Kami. Melaluinya, kita belajar unsur-unsur mendasar dari doa yang benar. Pertama, doa berisikan pujian kepada Allah. Hal yang sering diabaikan atau mungkin tidak diketahui oleh orang percaya, yaitu memberikan pujian kepada Allah melalui doa. Sering doa hanya dipahami sebagai ungkapan keluh kesah hati semata atau hanya sebagai sarana untuk menyampaikan daftar pergumulan dan keinginan kita. Ungkapan pujian dan syukur dalam doa menunjukkan kesadaran kita akan siapa Tuhan, siapa kita.

Kedua, doa juga berisikan permohonan. "Berikanlah kami...yang secukupnya." Tuhan mengajar kita agar meminta kepada-Nya sesuai dengan kebutuhan, bukan untuk dihambur-hamburkan. Ia menjamin bahwa ketika kita meminta maka Ia akan memberikan sesuai dengan kehendak-Nya. Ketiga, doa juga berisikan ungkapan pertobatan. Dalam doa kita mengakui pelanggaran dan dosa kita, tanpa perantara dan langsung kepada Allah. Bagian ini menuntut kejujuran dan keterbukaan kita pada-nya, sehingga dengan begitu Ia akan mengalirkan kasih dan pengampunan-Nya pada kita.

Keempat, berdoalah seolah kita sedang berbicara pada seorang sahabat . Tanpa mengurangi penghormatan kita pada Allah, Tuhan mengajar kita untuk berdoa seperti sedang berdialog dengan sahabat kita, ada kedekatan, keakraban dan tanpa kecanggungan, berdoa seperti seorang anak kepada bapaknya. Hubungan itu tentu memiliki ikatan emosional yang tinggi. Seperti seorang bapak pasti berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya. Demikian pula dengan Allah Bapa tentu juga akan memberikan yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Oleh karenanya hendaklah kita rajin dan tekun berdoa. Amin.! (h)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru
Militer AS Blokade Pelabuhan Iran

Militer AS Blokade Pelabuhan Iran

Washington(harianSIB.com)Militer Amerika Serikat (AS) saat ini akan memulai memblokade seluruh lalu lintas maritim terhadap kapal yang masuk