Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026

Kepemimpinan Yesus yang Kekal

Pdt Dr Pahala J Simanjuntak
- Minggu, 04 Agustus 2019 10:06 WIB
1.152 view
Kepemimpinan Yesus yang Kekal
Baru-baru ini saya membaca sebuah berita luar negeri bahwa seorang pemimpin sebuah negara harus mundur dari jabatannya karena merasa dirinya gagal dalam melaksanakan tugasnya. Berita seperti ini tentu tidak hanya terjadi di luar negeri, tetapi bisa juga terjadi di dalam negeri. Seorang pimpinan di daerah atau pimpinan dalam organisasi mengundurkan diri dengan alasan tertentu. Benar atau tidak berita seperti ini akan memberikan gambaran kepada kita betapa sulitnya menjadi seorang pemimpin. Seorang pemimpin menjadi 'public figure' yang bebas dilihat dan dinilai dari kepemimpinannya. Sehingga tidak jarang menjadi bahan perbincangan hidup seorang pemimpin. Apalagi kepemimpinannya tidak benar dan tidak menguntungkan bagi rakyat. Tetapi sebaliknya seorang pemimpin yang baik dan berhasil pasti dicari dan diberi apresiasi yang tinggi atas kinerja dan pelayanannya di tengah-tengah masyarakat.

Tidak mudah menjadi seorang pemimpin sebab dia menjadi kepala untuk semua anggotanya. Bila seseorang bercita-cita menjadi pemimpin itu sah-sah saja, hal itu merupakan kebebasan setiap orang. Tetapi tergantung kepada masyarakat bagaimana dia dapat dipercaya untuk mengemban tugas itu. Menjadi seorang kepala yang menentukan arah, kebijakan dan tujuan dari yang dipimpinnya. Menjadi pemimpin harus benar-benar takut dan percaya kepada Tuhan. Memiliki kepribadian dan model kepemimpinan yang baik. Rela berkorban dan mengabdi untuk kepentingan khalayak ramai. Tidak hanya mencari keuntungan untuk diri sendiri dan mengabaikan kepetingan umum. Pemimpin yang baik adalah apabila mau mengorbankan diri sendiri daripada mengorbankan kepentingan orang banyak.

Kitab Perjanjian Lama mencatat betapa pentingnya seorang pemimpin bagi umat Allah. Tradisi Perjanjian Lama masih menganut faham teokrasi (pemerintahan Allah). Artinya Allah yang langsung memilih dan mengangkat seorang raja bagi umat-Nya, sekalipun ada permintaan dari bangsa itu untuk mengangkat seorang raja. Tetapi Allah sendiri yang mengangkat raja bagi mereka mewakili Allah. Saul misalnya diangkat oleh Allah untuk memerintah atas Israel (1 Sam. 9:18-20). Kemudian Saul digantikan oleh Daud sekalipun Saul yang membenci Daud dan berencana membunuhnya (1Sam. 16:12-23). Lalu Daud memerintah dengan kekuatan Allah untuk beberapa tahun lamanya. Kemudian Daud digantikan anaknya Salomo yang diberi kebijaksanaan dari Allah sendiri. Salomo dianggap berhasil karena dia disebut orang yang berhikmat dan bijaksana (1 Raja. 2:12-27). Sekalipun Salomo sendiri memiliki banyak kelemahan dan kegagalan dalam memimpin umat Allah, namun kepemimpinan itu diberikan kepadanya untuk beberapa tahun. Di zaman kemudian berlangsunglah pengangkatan raja secara turun temurun setelah bangsa Israel pecah menjadi dua kerajaan. Bangsa Israel dipimpin oleh raja secara bergantian dalam kurun waktu tertentu. Tetapi semua raja yang kita sebutkan tadi memiliki gaya dan corak kepemimpinan tersendiri. Ada yang kejam, jahat, sombong dan rakus. Akan tetapi ada juga raja yang tegas, jujur, bijaksana dan bertanggungjawab. Tipe raja atau pemimpin seperti inilah yang dikehendaki Allah bagi umat-Nya.

Namun di sepanjang sejarah, semua raja dan pemimpin itu memiliki waktu yang terbatas. Tidak ada seorangpun yang sempurna dan bertahan lama. Itu sebabnya Allah mengutus anak-Nya Yesus Kristus menjadi Raja ke dalam dunia. Hanya Yesuslah 'pemimpin' yang sempurna dan kekal selama-lamanya. Yesus memang tidak menyebutkan diri-Nya sebagai pemimpin tetapi Allah sendiri yang mengangkat dan mengurapi Dia menjadi pemimpin umat-Nya untuk membawa setiap orang percaya kepada Allah. Kristus diberi 'kuasa' dari Allah Bapa untuk menjadi seorang pemimpin bagi umat. Yesus Kristus menjadi pemimpin umat-Nya bukan dari dunia tetapi dari Allah sendiri. Hikmat Allah diberikan kepada-Nya dan menjadi kepala bagi Gereja. Yesus ialah seorang pemimpin yang baik, penuh kasih, damai dan rela berkorban.

Seorang pemimpin (Kristen) seharusnya bercermin kepada Kristus sebagai kepala Gereja. Melalui darah dan pengorbanan Yesus kita menjadi orang yang dipimpin oleh Kristus Yesus Kristus menjadi pemimpin bukan karena dipilih melalui suara terbanyak atau 'vooting' juga bukan karena dimenangkan oleh sebuah kelompok tertentu atau partai pendukung. Bahkan banyak partai di zaman Yesus menolak, menghujat dan mencacimaki Dia. Misalnya orang Farisi, Saduki dan ahli-ahli taurat sebagaimana diceritakan kitab Injil. Mereka tidak menganggap Yesus itu sebagai 'yang diurapi' apalagi sebagai pemimpin bagi mereka. Kepemimpinan Yesus tidak dapat disamakan dengan kepemimpinan seorang pemimpin politik, agama dan partai lainnya. Kepemimpinan Yesus adalah berdasarkan kasih dan pengorbanan. Pengorbanan-Nya di kayu salib membuktikan kepada dunia bahwa Dia menjadi Raja di atas segala raja dan Tuan di atas tuan.

Pemimpin yang baik ialah pemimpin yang mengayomi masyarakatnya dan mendahulukan kepentingan umum. Kemenangan seorang pemimpin dalam sebuah kompetisi bukan saja memenangkan kelompok yang mendukungnya tetapi mengutamakan seluruh lapisan masyarakat, suku, golongan, ras dan masyarakat luas.

Sudah lama kita mewarisi semboyan dan keteladanan dari seorang pahlawan nasional di bidang pendidikan yakni Ki Hajar Dewantara. Semboyan itu adalah Tut Wuri Handayani (dari belakang seorang yang memberikan dorongan), Ing Madya Mangun Karso (di tengah seorang yang menciptakan prakarsa atau ide), dan Ing Ngarsa Sung Tulada (di depan, seorang yang memberikan contoh atau teladan yang baik). Semboyan ini mengajarkan model kepemimpinan yang baik bagi seseorang pemimpin. Hal yang sama bagi suku Batak Toba juga dikatakan: Ia di pudi sipaimaon, di tongatonga mangarahon, di jolo siaduon (di belakang memberikan dorongan, di tengah-tengah merangkul dan di depan memberi contoh). Filosopi seperti ini akan memberikan gambaran bahwa pemimpin itu menjadi kepala bagi anggota-anggotanya sama seperti yang dilakukan Kristus. Dia telah menjadi kepala bagi jemaat-Nya. Memimpin umat-Nya dengan kasih dan damai. Maka kita sebagai anggota tubuh-Nya mau dipimpin oleh Kristus pemilik gereja itu.

Rasul Paulus juga selalu mengingatkan jemaat yang didirikannya bahwa Kristus adalah kepala bagi tubuh yaitu jemaat. Setiap orang percaya meniru kepala yang baik itu. Hal itu ditegaskannya kepada jemaat Kolose. Dalam Kol 1:18 Paulus berkata: Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. Dengan tegas rasul Paulus mengatakan bahwa tubuh yang dimaksud ialah jemaat, perkumpulan atau umat Allah yang terdapat dalam Perjanjian Lama, atau gereja yang kita kenal dalam Perjanjian Baru.

Gereja berdiri di dunia ini terdiri dari berbagai denominasi maka yang menjadi kepala bagi gereja itu ialah Kristus sendiri. Namun Allah mengangkat hamba-hamba-Nya menjadi pemimpin bagi gereja sebagai perpanjangan tangan Allah. Allah tidak menghendaki umat-Nya kacau melainkan hidup dengan tertib dan teratur. Untuk itulah Allah menghendaki pemimpin gereja yang baik sama seperti Kristus. Gereja membutuhkan seorang pemimpin yang tegas dan jujur. Mengambil sebuah keputusan dengan bijaksana dan penuh kasih dan kesabaran.

Gereja berbeda dengan perkumpulan lain, gereja juga berbeda dengan partai lain, gereja adalah milik Allah dan tubuh Kristus. Kristus sendirilah menjadi kepalanya. Kalau Kristus menjadi kepala semua orang percaya harus tunduk kepada Kristus Raja Gereja itu. Marilah kita mendoakan para pemimpin negara dan para pemimpin gereja-gereja di seluruh dunia ini agar mereka memimpin dengan baik sebab mereka adalah hamba Allah. (d)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru
Militer AS Blokade Pelabuhan Iran

Militer AS Blokade Pelabuhan Iran

Washington(harianSIB.com)Militer Amerika Serikat (AS) saat ini akan memulai memblokade seluruh lalu lintas maritim terhadap kapal yang masuk