Bagaimanakah gereja memaknai perhatian khusus Presiden Joko Widodo mengenai penetapan kawasan Danau Toba sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional? Mungkin saja ada yang menganggap kehadirannya di daerah yang sarat dengan jejak penyebaran Injil ini, sebagai kunjungan kenegaraan biasa sehingga tidak memberi dampak signifikan dalam pertumbuhan hidup masyarakat.
Tentu saja kita menghormati, jika ada sebagian orang menganggap bahwa hal ini sebagai kunjungan terimakasih politik atas kemenangan mutlak pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin pada Pilpres April lalu di daerah yang pernah dijuluki sebagai peta kemiskinan ini. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai kunjungan kenegaraan yang menghabiskan banyak biaya.
Tetapi sebagaimana Tajuk Rencana Harian SIB, Senin, 29 Juli 2019, "Energi Jokowi Untuk Tapanuli", serta dalam realitas daerah yang menyimpan potensi pariwisata yang sangat besar, perlunya percepatan pembangunan, serta kondisi alam pertanian dan kondisi pegunungan serta keadaan air Danau Toba yang membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah maka kehadiran Presiden dapat dimaknai kehadiran "mesianik".
Sebuah pemaknaan dalam perspektif teologis terhadap realitas sosial yang membutuhkan kehadiran seorang raja, seorang pemimpin yang mampu menyadarkan, membangkitkan masyarakat untuk dapat menikmati kehidupan yang dicita-citakan. Kehadiran mesianik yang menyelamatkan umat dari keterpurukan hidup.
Jokowi di Tapanuli
Aspek mesianik dimaksud, dibangun pada pemaknaan atas realitas kunjungan Presiden Joko Widodo itu sendiri. Sebab, kesediaannya untuk menghirup udara sejuk Tapanuli sejak 29-31 Juli 2019 lalu berkunjung ke Salib Kasih, The Kaldera Nomadic Escape Desa Sigapiton Tobasa, Tano Ponggol dapat dilihat sebagai wujud dari adanya dorongan cinta yang besar yang menggerakkan hatinya dalam pembangunan Tapanuli. Sehingga pada tahun 2020, pagu anggaran untuk mendukung program pembangunan Danau Toba akan bertambah lebih dari dua triliun rupiah.
Upaya berdimensi mesianik tersebut dapat dimaknai pada kesediaannya untuk "menikmati boras Toba, minum kopi di kedai pelabuhan, membeli ulos jutaan rupiah, menikmati jeruk segar, mengunjungi wisata Siallagan, memberi sertifikat tanah, Geosite Sipinsur, Bandara Sibisa". Hal demikian adalah dorongan cinta yang besar untuk membangkitkan kembali kekaguman dunia terhadap keindahan Danau Toba. Sehingga kejayaan pariwisata Danau Toba akan bangkit kembali dan berdampak pada aspek pembangunan infrastruktur, pembangunan ekonomi.
Demikian juga dalam upaya pembenahan desa-desa adat di sekitar Danau Toba, pasar-pasar di lokasi wisata serta infrastruktur seperti dermaga pelabuhan Ajibata Toba Samosir, yang akan memudahkan akses wisata akan berdampak langsung pada pertumbuhan investasi di daerah ini. Sebagaimana diungkap oleh Menteri pariwisata bahwa rata-rata pertumbuhan PAD di 8 Kabupaten sekitar Danau Toba sebesar 79% akibat tumbuhnya sektor Pariwisata. Dengan adanya upaya-upaya mesianik demikian, maka potensi pertumbuhan ekonomi pariwisata di daerah Tapanuli, kawasan Danau Toba akan bangkit guna mewujudkan cita-cita menjadi masyarakat sejahtera.
Koresy Raja Mesianik
Siapa yang meligitimasi tindakan pembebasan Raja Koresy bagi bangsa Israel sebagai sebuah tindakan mesianik? Pada kitab Ezra 1: 1 diberi informasi bahwa "Tuhan menggerakkan hati Koresy raja Persia untuk menggenapkan janji Tuhan Allah". Demikian juga dengan Yesaya 45: 1 bahwa "Inilah Firman-Ku kepada orang yang Ku-urapi, kepada Koresy yang tangan kanannya Ku-pegang". Istilah kata "yang Ku-urapi" berasal dari kata messiah, yang membebaskan, yang membangkitkan harapan untuk mewujudkan cita-cita kehidupan yang dijanjikan Allah.
Alkitab mewariskan catatan iman bahwa hati Raja Koresy digerakkan Tuhan untuk mewujudkan rencana mesianik. Raja Persia yang lalim, yang bukan keturunan Yahudi, yang tidak percaya pada Allah Israel adalah raja yang membebaskan dan mengizinkan bangsa Israel untuk kembali dari pembuangan dan membangun kehidupan ekonomi, sosial politik dan keagamaan di kampung halaman tanah leluhur mereka. Melalui Koresy, Allah menyelamatkan, Allah mempersekutukan manusia kepada-Nya di dalam realitas hidup yang dijalani sehingga rencana keselamatan itu dapat dirasakan dan disyukuri.
Atas kesadaran teologis tersebut, maka pada masa-masa yang ditetapkan oleh Allah sendiri, ada pihak yang bukan termasuk dalam daftar keturunan Yahudi, ada orang yang bukan percaya pada Allah Israel, seseorang yang bukan anggota gereja, umat beragama yang bukan percaya pada Kristus, dapat menjadi pihak yang membangkitkan harapan, keselamatan yang dijanjikan Allah. Sehingga umat Tuhan mampu memaknai kisah hidupnya sebagai sarana Tuhan Allah yang menyelamatkan, yang memberi harapan dalam menjalani kehidupan masa kini sampai pada kehidupan kekal akan datang.
Gereja Menyambut Jokowi
Dengan demikian, gereja masa kini tidak merasa terasing dari upaya-upaya konkrit pemerintah dalam membangkitkan harapan, membangun sarana kebutuhan demi pertumbuhan ekonomi dan perbaikan hidup masyarakat. Sehingga dalam cara beradanya, gereja dengan lingkaran hermeneutiknya akan mampu menjadi faktor terpenting dalam perubahan pola pikir, lokomotif perbaikan cara bergaul, bertamu, masyarakat di kawasan Danau Toba. Sehingga tema-tema kotbah bermuatan pada aspek pariwisata itu sendiri sebagaimana pernah dicanangkan oleh penulis ketika memimpin distrik Gereja Methodist Indonesia di daerah Tapanuli.
Sebab kesadaran akan hospitalitas adalah salah satu faktor kunci keberhasilan pariwisata yang mencakup pada kebersihan sebagaimana dikenal dalam budaya Batak dengan Poda na Lima yang menyangkut pada kebersihan rumah termasuk dapur dan toilet, kebersihan hati atau kerendahan hati yang menyangkut pada sopan santun, kebersihan pakaian menyangkut pada perlunya menjaga kesehatan diri dan pertumbuhan industri tekstil, kebersihan halaman dari sampah dengan perlunya penghijauan. Pada titik krusial inilah gereja memaknai keselamatan yang diberikan oleh Tuhan Allah.
Sebab, keselamatan dimaknai pada adanya persekutuan manusia dengan Allah dan lingkungannya yang mampu merangkum seluruh kenyataan kemanusiaan sehingga mampu berubah, mampu memperbaiki diri dalam hidup kekudusan sampai pada pemenuhan Kristus. Itu juga berarti bahwa keselamatan bukan dimaknai sebagai sesuatu yang berkaitan pada sesudah kematian tetapi dialami, dimaknai dalam realitas dunia berpijaknya sebagai orang beriman.
Kesadaran eksistensial demikian akan mendorong gereja dalam mewujudkan cara beradanya bersama-sama dengan pemerintah daerah, para Bupati di kawasan Danau Toba dalam memberdayakan umat Tuhan guna mendukung program Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) di Danau Toba. Gereja menjadi faktor penting dalam program ini secara khusus pada pemaknaan hospitalitas sebagaimana Abraham menyambut orang yang tidak dikenal tetapi dilayani dengan memberi makan, mengorbankan banyak materi. Bagi Abraham, tamu yang tak dikenal adalah utusan Allah yang memberi berkat bagi kehidupannya.
Itu juga, gereja, umat Tuhan dengan nilai hospitalitasnya, dengan rendah hati, dengan sopan santun, dengan sukacita akan menyambut Jokowi-Jokowi yang datang penjuru dunia. Nilai demikian akan membangkitkan kejayaan pariwisata, menumbuhkan ekonomi dan perwujudan nilai kasih Tuhan. Dan kehadiran demikian akan menjadi berkat bagi umat Tuhan. Semoga. (d)