Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026
RENUNGAN

Tuhan, Allah Kekuatanku (Habakuk 3:12-19)

Oleh Pdt Sunggul Pasaribu
- Minggu, 04 Agustus 2019 10:10 WIB
8.259 view
Tuhan, Allah Kekuatanku (Habakuk 3:12-19)
Dalam kitab Habakuk Pasal 3 ini disebutkan bahwa Habakuk berdoa dengan nada ratapan, hal yang tidak dituliskan di pasal-pasal sebelumnya. Awalnya ia tidak mengerti maksud Tuhan yang sepertinya menutup mata terhadap kefasikan, serta membiarkan bangsanya ditindas bangsa lain. Namun akhirnya terjawab sudah pergumulannya selama ini, bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan dan meninggalkan orang-orang yang hidup benar di hadapan-Nya. Karena itu meski kegelapan masih melingkupi bangsa-Nya, Habakuk tidak membiarkan diri larut dalam kepedihan yang berkepanjangan.

Di dalam Tuhan selalu ada masa depan dan harapan. Walau sepertinya berlambat-lambat, saatnya pasti akan tiba, karena janji Tuhan adalah ya, dan amin. "Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh." (Habakuk 2:3). Tidak selamanya orang jahat berada di atas angin, pada saatnya mereka akan menuai akibatnya. "Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu." (Galatia 6:8).

Oleh karena itu Habakuk berketetapan hati untuk tetap mengarahkan pandangan kepada Tuhan dan mempercayai janji firman-Nya. Ini bukanlah perkara yang mudah, diperlukan iman dan penyerahan diri sepenuh hati. Dengan mata iman, Habakuk mampu melihat jauh ke depan melampaui realita dan kemustahilan yang ada. "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku." (Habakuk 3:17-18). Ini adalah bukti kedewasaan rohani Habakuk. Sekalipun situasi tidak mendukung, Habakuk tetap bisa bersukacita dan mengucap syukur. Mengapa?

Pertama, ajaran tentang "orang benar akan hidup oleh iman" (Habakuk 2:4b). Ungkapan ini menjadi akrab di telinga orang Kristen bukan karena mereka mengenalnya dari Kitab Habakuk, tetapi karena ungkapan tersebut dikutip oleh Paulus dalam suratnya (Rom 1:16). Di samping itu, ungkapan ini juga sebagai dasar dari semboyan reformasi "pembenaran oleh iman", yang dipopulerkan oleh Martin Luther.

Kedua, nyanyian Habakuk di Pasal 3. Bagian yang paling terkenal dari nyanyian ini adalah ayat 17-18. Dalam bagian ini Habakuk mengungkapkan sumber penghiburan yang ia miliki. Sukacita sejati Habakuk di dalam Tuhan yang tidak dipengaruhi oleh situasi hidupnya yang menderita telah memberikan banyak inspirasi bagi orang Kristen modern. Versi Indonesia dari nyanyian ini bisa kita temukan di Kidung Jemaat No.333 yang berjudul "Sayur kubis jatuh harga", juga dari beberapa nanyian pop rohani yang dinyanyikan Gloria Trio.

Apakah yang unik dari Kitab Habakuk? Yang paling jelas, kitab ini adalah satu-satunya kitab yang berkaitan dengan pergumulan atau pertanyaan Habakuk sendiri. Kitab ini merupakan elaborasi (perenungan mendalam) dari dua pertanyaan yang diajukan Habakuk kepada Allah (1:2-3, 12-13). Kitab para nabi yang lain biasanya merupakan teguran terhadap dosa-dosa umat, berita kelepasan yang menghibur umat Allah, berita penghukuman atas umat Allah atau bangsa kafir. Pemberitaan ini hampir semua ditujukan pada umat.

Kitab Habakuk justru terfokus pada diri sang nabi. Kitab ini merupakan jawaban Tuhan atas pergumulan Habakuk dan bagaimana Habakuk mengungkapkan keyakinan tersebut sebagai respon terhadap jawaban Tuhan. Pendeknya, kalau kitab para nabi yang lain lebih merupakan komunikasi dari Allah kepada umat, maka Kitab Habakuk adalah komunikasi dari nabi kepada Allah.

Lihatlah apa yang telah Tuhan lakukan dalam kehidupanmu, kalimat yang sangat indah dan menggugah sanubari kita. Sebagai orang Kristen sering kali terus menuntut, menuntut dan menuntut Tuhan untuk memberkati hidup kita seperti halnya umat Israel di padang gurun yang bertengkar dengan Allah mengenai nasib hidupnya. Oleh karena dan di dalam kebodohan serta dosa, kita lupa akan berkat Allah tentang apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita.

Oleh karena itu marilah kita menyanyikan pujian yang sangat indah, seperti yang saudara pernah mendengar nyanyian "hitunglah berkatmu" yang digubah oleh Johnson Oatman, Jr., demikian ; Bila laut hidupmu jadi garang-Hati jadi takut dan iman goncang-Hitunglah berkatmu satu persatu-Ingat cara Tuhan memberkatimu.

Johnson terinspirasi dari iman dan pengalaman papanya memilih untuk masuk sekolah pendeta agar ia sanggup berkhotbah dan menginjili. Namun setelah menjalani profesinya dia merasa ini bukan panggilannya dan setelah bergumul akhirnya dia menemukan talenta sebagai pengarang lagu pujian. Sekalipun Johnson bukan pemenang jiwa seperti yang dia inginkan menjadi pendeta namun akhirnya dia menemukan panggilan Tuhan yang baru di dalam hidupnya dengan menciptakan ribuan lagu pujian yang menjadi berkat kepada jutaan orang Kristen di seluruh dunia. Hal itu dapat terjadi karena Tuhan, Allah menjadi kekuatannya Amin.! (d)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru
Militer AS Blokade Pelabuhan Iran

Militer AS Blokade Pelabuhan Iran

Washington(harianSIB.com)Militer Amerika Serikat (AS) saat ini akan memulai memblokade seluruh lalu lintas maritim terhadap kapal yang masuk