Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026

Dipenjara Karena Imannya, Pendeta Ini Bersaksi Soal Pengalamannya di Depan Trump!

- Minggu, 04 Agustus 2019 10:12 WIB
25.478 view
Dipenjara Karena Imannya, Pendeta Ini Bersaksi Soal Pengalamannya di Depan Trump!
Pastor Langjaw Gam Seng (kiri) berbicara dengan wartawan penerjemah merinci penyiksaan yang dia hadapi dalam penjara di Washington DC, Sabtu (17/7).
Jakarta (SIB) -Di kantor menteri kebebasan agama Departemen Luar Negeri AS pekan lalu, seorang pendeta Kristen Burma bersaksi tentang kehidupan yang dia jalani sebagai seorang Kristen di Burma.

Kepada Presiden Amerika Serikat yaitu Donald Trump, dan kepada menteri kebebasan beragama dia berbagi tentang pengalamannya yang mengerikan selama dipenjara di Burma.

Melalui wartawan penerjemah, Rabu (17/7) lalu, LangJaw Gam Seng, yaitu pendeta Burma tersebut merinci penyiksan yang dia hadapi dalam penjara. Dia dipenjara karena ketahuan melaporkan pengeboman gereja-gereja Kristen di provinsi Kachin.
Sementara itu, para pemimpin dunia sebenarnya sudah sadar akan apa yang dihadapi kaum Rohingnya di negara bagian Rakhine yaitu kekejaman yang dilakukan terhadap komunitas Kristen di negara bagian Kachin yang sudah menyebabkan lebih dari 100.000 orang terlantar.

Seng, yang melayani sebagai pendeta muda di gereja Baptis di Munggu tersebut menjelaskan bahwa dia dipenjara pada malam Natal 2016 dan menghabiskan waktu selama 15 bulan di penjara Pusat Lashio.

"Saya ditahan, diborgol dan dibelenggu selama lebih dari satu bulan dengan mata tertutup rapat dan saya tidak dalam melihat selama sebulan penuh. Dan mereka menempatkanku di sesuatu seperti penjara bawah tanah selama sebulan penuh dan memberiku sedikit makanan," kata Seng.

Bagian dari penahanannya yang paling buruk adalah ketika dia mencoba untuk tidur dengan posisi tangan terikat di belakang.
Nggak cuma itu, Seng juga mengatakan bahwa ternyata banyak orang Kristen yang juga dianiaya, seperti komunitasnya dan lain sebagainya.

"Negara kita sangat beragam dengan multietnis dan multi agama. Kami ingin masyarakat kami majemuk dan tidak tertindas oleh satu agama negara tunggal," katanya.

"Saya bisa membuktikan fakta bahwa melalui pengalaman saya ini, kesejahteraan masyarakat bahkan bangsa adalah kebebasan yang wajib mereka nikmati. Saya tidak ingin orang lain mengalami cobaan yang sama dengan yang apa yang telah aku alami," katanya.

Burma/Mnyanmar menempati urutan ke-18 sebagai negara yang mendukung Kristen. Sementara menurut Open Doors 2019, dari 50 negara lainnya, Burma termasuk dalam negara yang dimana penganiayaan Kristennya lebih banyak. (jawaban/d)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru
Militer AS Blokade Pelabuhan Iran

Militer AS Blokade Pelabuhan Iran

Washington(harianSIB.com)Militer Amerika Serikat (AS) saat ini akan memulai memblokade seluruh lalu lintas maritim terhadap kapal yang masuk