Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026

Advent: Nyalakan Harapan

Catatan Pdt Estomihi Hutagalung
- Minggu, 15 Desember 2019 19:35 WIB
381 view
Advent: Nyalakan Harapan
SIB/Dok
Pdt Estomihi Hutagalung
Selain adanya ancaman radikalisme beragama dalam wujud adanya teror yang mengancam orang Kristen ketika beribadah di gereja pada masa Natal dan Tahun Baru, Indonesia juga sedang mengalami dampak dari krisis ekonomi global sebagai akibat dari adanya ketegangan antara Amerika Serikat dan China. Sebab, sebagaimana diungkap oleh pihak pemerintah melalui kementerian keuangan, ketegangan dagang antara AS dan China sudah bersifat global dan berpengaruh pada kehidupan orang miskin.

Sebuah realitas ekonomi global yang dianggap telah memasuki fase jebakan Thucydides, sebagaimana diungkapkan Graham Allison, seorang akademisi dari Harvard. Artinya, ketegangan kedua negara raksasa dunia tersebut lebih dari sekedar perang dagang dan berdampak besar bagi perekonomian dunia termasuk Indonesia. Ketegangan ini juga bermuatan pada aspek politik dan peradaban layaknya perang Peloponnesian antara Athena Yunani dan Sparta sebagaimana pernah ditulis Thucydides, sejarawan Yunan Kuno.

Selain adanya rentetan tragedi kemanusiaan di sekitar kita, dunia juga sangat terguncang dengan kematian dokter Tetsu Nakamura, seorang pejuang perdamaian yang juga memberi pendampingan kepada para pasien penderita lepra di Afganistan dan Pakistan. Dokter kelahiran Fukuoka Jepang dan peraih penghargaan Ramon Magsaysay tahun 2003, untuk perdamaian ini, menghembuskan nafas terakhirnya dalam perjalanan menuju rumah sakit setelah diberondong peluru tajam dari orang yang tidak dikenal. Peluru yang bersarang di dadanya, membuat harapan hidupnya menjadi punah.

Nah, jika seorang pejuang kemanusiaan, yang sudah memberi "air kehidupan" kepada para penderita penyakit lepra, dibunuh dengan alasan yang tidak jelas, tentu saja kondisi demikian akan menjadi tragedi dan teror kemanusiaan. Dengan realitas global yang suram demikian, bukan saja berdampak pada kebutuhan hidup dalam aspek ekonomi dan keamanan sosial, tetapi juga akan mengancam daya tahan iman umat Tuhan dalam realitas berpijaknya.

Tentu saja, tidak semua orang mampu bertahan dalam menghadapi penderitaan hidup yang dijalani. Sebab, secara umum, ada dua tipikal manusia ketika mengalami pergumulan yaitu bertahan lalu akhirnya menyerah kalah atau bertahan dan berjuang lalu akhirnya menang. Dan, mungkin, semua orang akan memilih untuk hidup pada tipikal yang kedua, sebagai manusia pemenang.

Tetapi, pencapaian hidup menjadi pemenang bukan diraih dengan mudah. Ancaman nyawa sebagaimana dialami Nakamura, atau ancaman kebutuhan ekonomi sebagai dampak ketegangan perdagangan global AS dengan China serta ancaman terorisme maupun radikalisme beragama menjadi realitas berpijak yang harus dijalani atas dorongan (inner drive) semangat (roh) di dalam diri setiap orang. Dan adanya roh (spirit) sebagai buah dari pemaknaan iman akan mampu meneguhkan daya tahan (self endurence) umat beriman menghadapi tantangan hidupnya.

Untuk menggelorakan semangat bertahan dimaksud, maka setiap umat beriman harus menyalakan api pengharapan (hope). Dan itulah yang diserukan gereja kepada umat Tuhan pada masa minggu advent menjelang natal kelahiran Mesias, Tuhan Yesus. Sebab harapanlah yang menjadi varibel terpenting dan fundamental sifatnya dalam menggelorakan semangat bertahan umat beriman. Pada masa advent inilah gereja terus menyalakan pengharapan untuk bebas dan bangkit dari perhambaan dosa dan kuasa maut.

Belajar dari warisan iman Yahudi, maka pengharapan mesianik itulah yang selalu digelorakan sehingga mampu bertahan dalam menghadapi tantangan hidup dalam realitas berpijaknya yang penuh dengan ancaman keselamatan. "Taruk dari pangkal Isai akan terbit, dan Ia akan bangkit untuk memerintah bangsa-bangsa, dan kepada-Nyalah bangsa-bangsa akan menaruh harapan." (Roma 15: 2, Yesaya 11: 1-8). Warisan demikian, juga dimaknai oleh jemaat mula-mula sehingga mampu bertahan menghadapi penganiayaan. Pengharapan akan hadirnya mesias penyelamat, itulah yang menyemangati jemaat mula-mula menjadi jemaat yang bertambah-tambah jumlahnya dan disukai oleh banyak orang.

Dengan demikian, gereja masa kini, khususnya pada masa minggu-minggu advent harus terus menyalakan lilin pengharapan sehingga menerangi hati dan menggelorakan semangat umat beriman dalam menghadapi tantangan hidup. Sehingga, adanya ancaman teroris dan radikalisme beragama, adanya krisis ekonomi global tidak akan membuat semangat dan daya tahan orang Kristen menjadi lemah dan kalah tetapi, menjadi kuat, dan ditambahkan jumlahnya dan disukai banyak orang sehingga mampu bertahan, bangkit dan menang. Salam Advent. (c)

SHARE:
komentar
beritaTerbaru
Militer AS Blokade Pelabuhan Iran

Militer AS Blokade Pelabuhan Iran

Washington(harianSIB.com)Militer Amerika Serikat (AS) saat ini akan memulai memblokade seluruh lalu lintas maritim terhadap kapal yang masuk