Pemilihan kandang ternak sebagai lokasi kelahiran Yesus Kristus menghasilkan sebuah interpretasi teologis universal bahwa kasih Allah tidak semata ditujukan bagi manusia tetapi juga bagi keseluruhan ciptaan.
Saksi hidup pertama kelahiran Yesus selain orangtuanya Maria dan Yusuf ternyata hewan ternak juga menjadi saksi dalam peristiwa Natal (kelahiran). Kisah menarik kelahiran Juruselamat ini diperkuat lagi oleh pernyataan universal Yohanes yang menekankan bahwa Allah begitu mengasihi dunia atau Kosmos (Yoh 3:16), yaitu dunia dengan segala jenis spesies dan tetumbuhan termasuk di dalamnya manusia sebagai mahkota ciptaan Allah.
Kekeliruan Hermeneutis
Injil Yohanes sangat menekankan makna kedatangan Kristus sebagai manifestasi hidup yang berkelimpahan (Fullnes of life) (Yoh 10:10). Kelimpahan dalam hidup dipahami sebagai hidup berkeadilan dan berkedamaian, di mana segala bentuk kekerasan, diskriminasi, penindasan dan pengrusakan ciptaan telah berakhir. Apa yang terjadi dengan ciptaan yang dipandang baik itu? Sidang Raya Dewan Gereja-gereja Se-Dunia (DGD) di Canberra, Australia tahun 1991 menyuarakan kerusakan bumi baru dimulai sejak maraknya industrialisasi sekitar 200 tahun yang lalu. Bumi sendiri diperkirakan telah berusia 4,5 milyar tahun. Konferensi Eco-Theology United Evangelical Mission (UEM) pada bulan Juni 2019 bersama dengan DGD dan Bread for the World, yang berlangsung di Wuppertal menuturkan tangisan anak-anak dan kaum perempuan sebagai korban dari perubahan iklim ini.
Salah satu penyebab kebrutalan manusia dalam mengeksploitasi bumi justru terletak di dalam kesalahan manusia dalam penafsiran Alkitab. Sejak lama, pengajaran tentang ciptaan selalu meletakkan tugas manusia untuk "memenuhi", menguasai, dan menaklukkan bumi dan segala isinya. Mandat ini sering dipahami sebagai bentuk kebebasan absolut manusia dalam mengeksploitasi hewan dan tumbuhan demi keberlangsungan hidup manusia sekarang. Kata "menguasai" selalu menimbulkan kontroversi di dalam penafsiran Alkitab. Mesias selalu dinantikan sebagai penguasa dalam pengertian politis dan militeristik.
Namun kata menguasai (Radah) di sini seharusnya dilihat dalam fungsi seorang gembala yang bertugas mendampingi, merawat bumi serta isinya. Kata "menaklukkan bumi", sering salah dimengerti sebagai toleransi Allah bagi manusia dalam menghisap kekayaan alam tiada henti. Walaupun kata "Kibbes" untuk "menaklukkan" di sini justru berarti "kuasa" untuk merawat dan menjamin kelestarian ciptaan itu hingga kepada generasi selanjutnya. Pemahaman destruktif tentang Dominum Terrae (Menaklukkan/menguasai bumi) sesungguhnya telah dipatahkan oleh kehadiran Kristus sebagai gembala yang merawat, memelihara dan mengasihi ciptaanNya.
Tantangan Kemiskinan
Ibarat Yusuf dan Maria yang harus menyelamatkan sang Bayi Kristus dan bermigrasi ke Mesir, banyak penduduk dunia yang juga harus bermigrasi ketika kehidupan mereka terancam oleh kerusakan iklim. Kita mengingat semburan lumpur panas Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, tragedi Tsunami di tahun 2016 yang lalu, banjir tanah longsor di beberapa wilayah, menurunnya debit air di Danau Toba, kebakaran hutan yang mengakibatkan punahnya populasi hewan dan gangguan pernafasan bagi anak-anak, hingga kepada penggunaan berbagai bahan kimia bagi konsumsi pertanian dan peternakan.
Krisis iklim memang bukan semata wujud ketidakpedulian manusia terhadap alam. Terdapat ketidaka
dilan masyarakat dunia, di mana penduduk di belahan bumi utara dan negara-negara maju dengan kekuatan teknologi serta industrinya menjadi konsumen pengguna karbon emisi terbesar yang menyebabkan pemanasan global di seluruh dunia. Sedangkan negara-negara dunia ketiga terus kehilangan sumber daya alamnya seperti hutan dan air yang justru lebih banyak dinikmati oleh penduduk belahan bumi utara.
Spirit Keugaharian
Spirit keugaharian yang sering disuarakan oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) merupakan panggilan kepada umat untuk hidup di dalam etos kesederhanaan. Komunitas Kristen yang merayakan Natal akan bersiap merubah pola hidup konsumerisme menjadi gaya hidup yang bersolidaritas dan sederhana. Wujud keugaharian dalam kehidupan berekologi adalah mendorong produksi yang bebas pestisida dan kimia beracun, mengakhiri konsumsi sampah plastik termasuk penggunaan botol minuman plastik, mengurangi pemakaian kertas dalam berbagai pertemuan dengan mengintensifkan pemakaian teknologi digital sebagai respons ekologis gereja bagi Revolusi Industri ke-4, memasyarakatkan makanan tradisional yang bebas bahan penyedap, dan lain sebagainya.
Allah yang mengambil rupa seorang anak juga menjadi pesan menarik, bagaimana komunitas Kristen di Indonesia meningkatkan peran pendidikan dan pengajaran kepedulian iklim bagi para generasi muda. Di bulan September yang lalu anak-anak dan para pemuda dunia turut menyatakan kepedulian ekologis melalui aksi "Jeda Iklim Global" (Global Climate Strike) yang berlokasi di 4.500 wilayah dari 150 negara termasuk Indonesia. Kita membutuhkan lebih banyak aksi "Selamatkan Bumi" di mana Kristus pernah lahir dan tempat kita berpijak saat ini. Pesan teologis Natal adalah: "Bagi Allah tidak ada yang mustahil", selama manusia ciptaanNya tidak egois dan bersedia bersama-sama mengasihi keutuhan ciptaan demi anak cucu kita mendatang.
Refleksi Natal
Natal adalah keprihatinan dan inkarnasi Allah terhadap realita kemiskinan dan ketidakadilan. Persoalan ekologi tentu berkaitan dengan akibat sifat keserakahan dan pertumbuhan ekonomi yang angkuh tanpa menaruh perhatian terhadap tangisan penduduk bumi yang menjadi korban. Karenanya salah satu solusi dalam menangani kerusakan alam adalah "Etika Cukup" (Ethics of enough). Parameter perekonomian yang beretika bukanlah menghasilkan profit besar-besaran, namun menciptakan keadilan yang mensejahterakan seluruh ciptaan.
Komunitas Kristen terpanggil untuk mentransformasi pesan-pesan idealis dan retorisnya dengan menjembatani diskursus teologi dan lintas ilmu lainnya dalam mencari sebuah kepastian hukum di mana kebutuhan ekonomi warga dan kelestarian ciptaan terwujud secara menyeluruh. Tuntutan ekonomi dan ekologi harus diseimbangkan demi mewujudkan kembali tatanan ciptaan yang sungguh amat baik itu. Semoga.! (f)