Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026

Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang

Oleh Bishop Kristi Wilson Sinurat STh MPd (Pimpinan GMI Wilayah I)
- Minggu, 29 Desember 2019 21:28 WIB
744 view
Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang
SIB/Dok
Bishop Kristi Wilson Sinurat STh MPd
Pergulatan tema ini menjadi sesuatu yang mendesak dalam realitas kebangsaan Indonesia maupun pada peradaban global. Kesadaran mengenai perlunya relasi yang baik terhadap sesama manusia maupun alam semesta, bukanlah produk teologi yang lahir pada masa orde reformasi masa kini. Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia yang bernaung di PGI maupun KWI sudah sejak lama menggumuli pentingnya pemaknaan dan refleksi terhadap tema ini. Memang, mestilah disadari bahwa realitas sosial kebangsaan kita sejak era reformasi ditandai dengan semakin rusaknya alam ciptaan Tuhan dan semakin menguatnya jiwa sectarian dogmatis di kalangan umat beragama sehingga menimbulkan dampak kekerasan, radikalisme agama.

Demikian juga dengan gereja-gereja sedunia, sudah sejak lama menyerukan pentingnya gereja, masyarakat, pemerintah untuk hidup dalam perjuangan untuk menjaga keutuhan ciptaan, menjaga perdamaian dan perhatian terhadap ekonomi politik global. Jika PGI dan KWI saat ini "kembali" mendorong gereja-gereja untuk memaknai tema ini pada masa-masa ibadah perayaan Natal tahun 2019 ini, hal itu sangat bertautan pada pergumulan gereja dalam konteksnya masa kini sehingga di masa-masa yang akan datang relasi kebangsaan kita akan dapat mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Sebuah tema Natal yang lahir sebagai buah pergulatan teologis gereja-gereja di Indonesia dalam realitasnya. Maka salah satu penyebabnya adalah pemaknaan negatif terhadap proses Pilkada atau Pilpres. Sebab, pasca penetapan para calon pemimpin bangsa di level kabupaten, kotamadya, provinsi maupun presiden dan wakil presiden, masyarakat kita mengalami kegelisahan yang sangat dalam (untuk tidak mengatakan terjadinya perpecahan). Dan, sebagaimana diprediksi para pengamat, agama menjadi entitas penting dalam "menggelisahi" realitas demikian.

Pada faktanya, tanpa menafikan adanya peran positif para elit politik yang menjadikan agama sebagai perekat sosial, proses politik Pilkada atau Pilpres menjadikan agama sebagai faktor penting. Agama dimaknai pada wajah destruktif sehingga memobilisasi pikiran dan tindakan masyarakat dengan segala dampak negatifnya termasuk pada penghinaan pada simbol agama dan simbol negara.
Maka, patutlah kita untuk mengapresiasi tema yang ditetapkan oleh PGI dan KWI sebagai sebuah refleksi atas pergulatan teologi dan sosial gereja dan masyarakat dalam realitas konteks Indonesia masa kini.

Kasih Membuka Hati
Beranjak dari kesadaran akan pentingnya kedudukan manusia sebagai subjek utama dalam kosmologis-Nya, maka pemaknaan dari seruan Tuhan Yesus pada Yohanes 15 akan berimplikasi sangat luas dan melewati spirit egalitarian itu sendiri. Yesus, dengan disemangati oleh kasih agape, mendekati murid-murid-Nya untuk menyatakan isi hati dan sikap-Nya yang terbuka untuk menjalin persahabatan dengan murid-murid-Nya. Sehingga pola relasi yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus bukan pada pola relasi antara budak dan tuan.

Dengan kasih agape, Yesus sebagai logos (transenden), membuka diri-Nya (immanent) sehingga murid-murid terhisab, berada bersama, merasakan dan mengetahui kehendak, perintah, kemuliaan Allah yang dinyatakan dalam diri Tuhan Yesus. Murid-murid, tanpa harus berusaha untuk mendapatkan kasih seperti seorang budak, akan menerima kemurahan hati Allah. Kondisi demikian akan menyadarkan dan menggerakkan hati (awarness) murid-murid-Nya sebagai pribadi yang dikendalikan oleh kuasa Bapa di Sorga sehingga berpikir dan bertindak sesuai dengan kehendak-Nya. Dan adanya spirit agape dimaksud harus direspon, dipraktekkan dalam kehidupan bersama para murid Yesus.

Dalam hal pentingnya praktek hidup yang dibangun pada kasih agape, penulis injil Yohanes menyatakan seruan Yesus dengan kasih philia, philos. Ini hendak menunjuk adanya relasi murid dan Yesus dan relasi sesama murid untuk saling mengasihi, saling membangun sehingga komunitas tersebut hidup sesuai dengan kehendak Allah. Ada relasi antara iman dan perbuatan: kepercayaan yang aktif pada panggilan Yesus akan mendorong murid-murid pada tindakan yang sesuai dengan iman. Dan jika dalam prakteknya ada tindakan yang membuat murid-murid jatuh ke dalam kesalahan, dosa, maka mereka harus mengasihi, mengampuni tanpa batas (penulis Yohanes kembali memakai kata agape).

Dengan demikian, kasih agape menjadi dasar inisiatif logos, Allah yang mulia untuk berelasi dengan murid-murid, manusia sebagai orang berdosa. Dengan kasih (agape) maka murid-murid dimungkinkan untuk hidup saling mengasihi yang diwujudkan, dipraktekkan dengan kasih philia. Inisiatif demikian adalah sebuah jawaban teologis atas realitas konteks pemahaman teologis penerima pertama dari injil Yohanes. Sebab, masyarakat helenis sebagai penerima pertama surat Yohanes, berpijak pada keyakinan bahwa tidak mungkin terjadi perjumpaan antara yang mulia dengan yang berdosa, tidak ada perjumpaan surga dan bumi.

Mewujudkan Kasih
Panggilan persahabatan oleh Yesus adalah bentuk tertinggi dan terdalam dari pola hubungan Allah kepada manusia. Yesus memanggil para murid, memanggil gereja, orang beriman agar membangun realitas peradaban pada kehendak kerajaan Surga. Adanya keterhisaban dengan kasih Allah, akan mendorong setiap orang beriman untuk merevitalisasi diri, membangun keyakinan diri yang dikaruniai berbagai talenta guna mengembangkan daya kreatif kasih sehingga terjadilah kehidupan yang transformatif sesuai dengan kehendak kerajaan Allah.

Keterhisaban pada persahabatan kasih telah memberi status baru dan membawa gereja, murid-murid, orang beriman pada dunia baru yaitu adanya relasi istimewa antara Allah dengan dunia melalui hadirnya Tuhan Yesus sebagaimana dirayakan pada Natal. Pemberian status baru dimaksud bersifat transformatif dan bukan hanya kepada murid-murid-Nya yang pertama. Pemberian ini, mempunyai konsekuensi fundamental agar gereja, orang beriman mewujudnyatakannya dalam mengasihi semua orang yang berbeda agama, keyakinan, suku, satus sosial ekonomi dan perebedaan lainnya.

Sehingga, dalam realitas hidup yang saling mengasihi dimaksud, maka setiap orang diberi kekuatan untuk mengeskpresikan diri pada realitas kosmiknya. Dengan spirit kasih, akan memotivasi setiap orang beriman untuk mengembangkan daya kreatifitasnya sebagai pelaku aktif dalam menjaga kelestarian hutan, menjadi pribadi yang mengurangi penggunaan plastik, mengolah sampah plastic sebagai komoditas ekonomi dan menjaga kelestarian lingkungan. Dengan spirit kasih, maka tiap orang akan mampu menciptakan pola hidup yang saling membangun antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan alam dengan alam.

Sebuah kesadaran teologis yang mendorong gereja, orang beriman untuk membuka hati, menjadi sahabat sebagai sesama anak bangsa Indonesia yang berbeda agama, suku, bahasa. Juga menjadi seruan agar gereja dan umat beriman menjadi pelaku aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan dan menjaga perdamaian dunia. Dengan adanya kesadaran hidup di dalam kasih, maka pola relasi sesama manusia dengan alam akan dapat melewati paham kesadaran homo sapiens Yuval Noah Harari.

Oleh karenanya, diiringi doa dan harapan kasih Kristus dalam damai natal, maka saya Bishop Kristi Wilson Sinurat, Pimpinan Gereja Methodist Indonesia Wilayah I, menyampaikan Salam Natal 2019 dan Tahun Baru 2020. Semoga kita semua mewujudkan persahabatan sejati; menjadi sahabat bagi sesama gereja, menjadi sahabat bagi sesama anak bangsa Indonesia dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, menjadi sahabat alam ciptaan Tuhan, sehingga di tahun-tahun menjelang, gereja akan semakin mewujudkan tanda-tanda kehadiran Allah dalam praktek bergereja dan berbangsa Indonesia. Amin. (q)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru
Militer AS Blokade Pelabuhan Iran

Militer AS Blokade Pelabuhan Iran

Washington(harianSIB.com)Militer Amerika Serikat (AS) saat ini akan memulai memblokade seluruh lalu lintas maritim terhadap kapal yang masuk