Minggu ini menjadi minggu terakhir dalam tahun 2019 ini. Mengajak kita untuk mengingat, merasakan bagaimana perbuatan Tuhan dalam hidup kita yang menaungi, melindungi dengan kasih setia-Nya. Tuhan mengasihi dan menyayangi umat dan ciptaanNya. Segala yang telah diciptakanNya sungguh sangat berharga di hadapanNya. Kehidupan dalam alam semesta ini sudah lebih dari cukup menceritakan keberadaan, kekuasaan, pemeliharaan dan pengasihan Tuhan yang menjadikan segala sesuatunya.
Terlebih kepada kita manusia ciptaanNya begitu mulia di antara ciptaan Tuhan yang lainnya, sampai Tuhan harus hadir di tengah-tengah kehidupan kita melalui Tuhan kita Yesus Kristus untuk menyatakan kasihNya yang besar. Namun demikian tetap saja manusia masih banyak yang meragukan kuasa Allah dalam hidupnya bahkan yang tidak mempercayai keberadaan Allah yang menjadikan kehidupan ini. Ketika manusia itu masih saja kuatir atas hidupnya, mencari kebutuhannya dengan cara-cara kecurangan bahkan dengan kejahatan, menggantungkan nasib hidupnya kepada berhala.
Dengan mengingat perbuatan-perbuatan ajaib Allah pada masa lalu, maka harapan pemazmur bangkit bahwa Allah membuktikan, Dialah yang melakukan perbuatan-perbuatan mulia; Dia telah mempertunjukkan kekuatan-Nya dan telah menebus bani Israel. Di sini tersirat permohonan, agar Allah melakukan seperti itu lagi sekarang. Mengingat kebaikan Tuhan yang sudah terjadi dalam kehidupan kita adalah hal yang baik dan perlu supaya keraguan dan keputusasaan dalam menghadapi pergumulan hidup berubah menjadi pengharapan kepada Allah yang hidup.
Mazmur ini memberitahu kita bahwa pergumulan orang percaya waktu itu sangat berat. Yedutun, seorang pelayan Tuhan dari suku Lewi, menyimpulkan bahwa tangan kanan Tuhan Yang Mahatinggi berubah, artinya pergumulan terasa semakin berat seolah-olah Tuhan tidak lagi menghiraukan pergumulan orang percaya saat itu. Dia memakai pergumulan dan kesusahan sebagai kaca mata untuk melihat Allah (77:2-11). Hasilnya, seolah-olah pemazmur merasa bahwa kesusahan membuat Allah terasa jauh (ayat 2).
Kesusahan membuat mengenang Allah terasa memilukan (ayat 3). Gambaran yang ideal tentang Allah terasa sangat mengecewakan bila dibandingkan dengan pergumulan yang dihadapi manusia. Kesusahan membuat Tuhan terasa seperti menolak dan tidak bermurah hati (ayat 8). Kesusahan membuat janji Tuhan terasa seperti tidak berlaku (ayat 9). Kesusahan membuat Allah nampak seperti melupakan janji-Nya (ayat 10).
Sekalipun dalam kesusahan dan pergumulan namun sang pemazmur memakai kebaikan Tuhan sebagai kacamata untuk melihat kesusahannya. Dengan mengingat kebaikan Tuhan di masa lalu, dia mengaku bahwa Allah itu sangat besar, mulia dan berkuasa. Saat ia mengalami pergumulan, Allah tidak berubah. Kebaikan Tuhan membuat pemazmur percaya bahwa Allah akan menuntun umat-Nya keluar dari kesusahan seperti di zaman Musa dan Harun (ayat 21). Kuatkanlah dan teguhkanlah hati Anda. Lihatlah kebaikan Tuhan agar kita bisa memiliki pengharapan saat menantikan Tuhan.
Tindakan mengingat-ingat apa yang telah Tuhan perbuat di waktu lalu, jika tanpa dilandasi oleh sikap iman, hanya akan menghasilkan nostalgia belaka. Namun jika tindakan mengingat-ingat karya Tuhan ini dilandasi dengan sikap iman atau respons hati yang positif maka akan menghasilkan kekuatan dan peneguhan untuk lebih berkomitmen dan makin setia kepada Tuhan. Pemazmur menulis: "Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu." (Mazmur 77:13).
Mengingat-ingat perbuatan-perbuatan Tuhan dan keajaiban kuasa-Nya adalah hal yang harus kita lakukan, terlebih-lebih ketika sedang dalam masalah atau penderitaan, karena pada situasi itu seringkali kita mudah sekali menjadi lemah, putus asa, dan kehilangan pengharapan. Yosua berusaha mengingatkan umat Israel untuk tidak melupakan begitu saja karya keselamatan Tuhan dan mengajak mereka untuk membuat pilihan hidup yang benar. "Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini." (Yosua 24:15).
Tindakan Yosua ini mencerminkan sikap seorang pemimpin yang arif dan bijak. Yosua menambahkan, "Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" (Yosua 24:15b). Keteladanan yang ditunjukkan Yosua berdampak bahwa umat Israel pun membuat pilihan hidup yang benar dengan berkata, "Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain!" (Yosua 24:16).
Karya keselamatan yang Kristus kerjakan melalui pengorbanan-Nya di kayu salib hendaknya semakin menguatkan dan meneguhkan kita untuk bersungguh-sungguh lagi dalam mengikut Tuhan. "Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!" (1 Korintus 6:20).
Mungkin kita pernah atau sedang mengalami pergumulan berat. Ketika kita tidak dapat melihat pertolongan-Nya dengan segera, ingatlah akan pertolongan-Nya pada masa lampau. Jangan terpaku dalam situasi seperti itu! Datang dan berserulah dengan sungguh-sungguh kepada-Nya. Allah tidak pernah berubah, Ia tetap berkuasa. Hidup bergaul dengan Tuhan bukan tanpa alasan, sebab Tuhan akan membawa kita kepada kebaikan di tahun mendatang. Selamat meninggalkan kesusahan dan pergumulan di tahun 2019 ini. (q)