Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026

Solidaritas dalam Protes dan Korban, Kristen Irak Tidak Rayakan Natal

- Minggu, 29 Desember 2019 21:46 WIB
1.600 view
Solidaritas dalam Protes dan Korban, Kristen Irak Tidak Rayakan Natal
satuharapan.com
Gereja Khaldea Irak memutuskan tidak merayakan Natal dan mengalihkan kegiatan dengan mendistribusikan makanan untuk pengunjuk rasa sebagai solidaritas dan keprihatinan atas situasi negara itu. Lebih dari 40 anggota gereja, misalnya, melakukan kegiatan itu
Baghdad (SIB)
Gereja Khaldea Irak memutuskan tidak merayakan Natal dan mengalihkan kegiatan dengan mendistribusikan makanan untuk pengunjuk rasa sebagai solidaritas dan keprihatinan atas situasi negara itu. Lebih dari 40 anggota gereja, misalnya, melakukan kegiatan itu di bawah jembatan Jumariyah dekat Lapangan Tahrir di Baghdad.

"Gerakan protes ini melanda hati kaum muda dan orang miskin, tanpa diskriminasi agama," kenang Pastor Ara Badalian, dikutip Christianity Today. "Itu telah merobohkan semua tembok yang memisahkan Irak."

Kegiatan itu dilakukan di jembatan Sungai Tigris, yang misahkan dua wilayah ibu kota Irak, Baghdad, di mana sebagian besar kekerasan telah terjadi. Gerakan protes, yang dimulai pada awal bulan Oktober, telah mengakibatkan lebih dari 400 tewas, termasuk sekitar selusin petugas keamanan dan lebih dari 17.000 orang terluka.

Sebagai tanggapan atas situasi itu, Gereja Khaldea pekan lalu memutuskan untuk tidak mengadakan perayaan Natal secara publik, tanpa dekorasi pohon Natal dan resepsi liburan, tetapi lebih pada doa syafaat.

"Alih-alih membawa harapan dan kemakmuran, struktur pemerintahan saat ini telah membawa korupsi dan keputusasaan yang berkelanjutan," Bashar Warda, Uskup Agung Khaldea Erbil, mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB pekan lalu.
"(Pemuda Irak) telah menegaskan bahwa mereka ingin Irak ... menjadi tempat di mana semua orang dapat hidup bersama sebagai warga negara yang setara di negara yang memiliki pluralisme yang sah dan menghormati semua orang."

Kelompok Minoritas
Situasi Irak ini ditunjukkan juga oleh Open Doors yang menempatkan Irak pada urutan ke-13 dalam daftar negara-negara yang paling sulit bagi warganya untuk menjadi orang Kristen.
Minoritas agama telah melihat bagian mereka dari populasi menyusut dari delapan menjadi lima persen sejak invasi Amerika, menurut US Institute for Peace (USIP). Yazidi sekarang adalah yang terbesar, dengan antara 600.000 dan 750.000 penganut. Umat Kristen antara 800.000 orang dari 1.250.000 sebelum perang, tetapi sekarang berkurang menjadi kurang dari 250.000. Jumlah kaum Kristen Injili hanya sekitar 3.000.

Meskipun jumlahnya sedikit, mereka semua dari berbagai denominasi berpartisipasi dalam protes. Badalian mengatakan mereka melakukannya sebagai warga negara, bukan sebagai orang Kristen. Namun seringkali gereja-gereja yang memberikan visibilitas kepada para pengunjuk rasa.

"Situasinya adalah bencana" dengan "senjata di setiap sudut," kata Alnaufali Jajou, Uskup Agung Kasdim Basra, kota terkemuka Irak selatan, mengatakan kepada AsiaNews. "Sebagai sebuah gereja, kami dekat dengan orang-orang muda di jalanan dan memberi mereka makanan dan tempat tinggal setiap pekan."

Tetapi kekerasan telah memaksa keuskupannya untuk menangguhkan semua kegiatan non-pastoral. Di seluruh negeri, gereja Kasdim telah menyerukan doa dan puasa selama tiga hari. Dan karena menghormati korban selama protes dan solidaritas dengan semua yang terluka, Patriark Louis Raphael Sako membatalkan semua perayaan Natal berbasis publik dan gereja.

Sako juga mengunjungi pengunjuk rasa di rumah sakit; kebanyakan Muslim, tetapi juga Kristen. "Ada kejahatan dan itu meningkat. Peran orang Kristen di Irak adalah untuk pertobatan dan kembali kepada Tuhan," kata Salwan, seorang direktur TV Irak juga mengelola saluran TV satelit Kristen. Dia membandingkan situasi negaranya dengan situasi zaman Yunus di Nineweh. (sh.com/q)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru
Militer AS Blokade Pelabuhan Iran

Militer AS Blokade Pelabuhan Iran

Washington(harianSIB.com)Militer Amerika Serikat (AS) saat ini akan memulai memblokade seluruh lalu lintas maritim terhadap kapal yang masuk