11
Hamba yang Membawa Keadilan
(Yesaya 42:1-9)
Yesaya 42 ini diawali dengan Tuhan menyatakan pahitnya pembuangan, lalu datangnya sang Hamba yang membawa keadilan yang bukan hanya bagi bangsa Israel tapi kepada segala bangsa. Pemimpin yang akan datang adalah sebagai hamba, baik secara pribadi maupun secara komunitas di mana Israel adalah hamba. Identifikasi pemimpin hamba dan panggilannya adalah kata kunci dalam melihat pemulihan bangsa Israel.
Narasi sejarah umat Tuhan dimulai dengan keluarnya bangsa itu dari perbudakan Mesir, membuat perjanjian lalu menuntun ke Kanaan sebagai tanah perjanjian yang walaupun melewati padang gurun. Lalu mereka menjadi sebuah bangsa dan membangun Bait Allah. Selama berabad-abad dalam sejarah kerajaan Israel mereka mengalami hidup yang pasang surut, menang dan kalah. Mengapa?
Karena mereka seringkali menyimpang dan meninggalkan Tuhan, tapi para nabi memanggil mereka kembali. Lalu enam abad sebelum masehi di mana Babel mengalahkan Israel. Bangsa Israel ditawan dan dibuang ke tanah Babel dalam kurun waktu 70 tahunan, dan pembaca Alkitab akan merasakan pahitnya pembuangan dan bagaimana Israel menangis karenanya. Mazmur berkata : "Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat" (137:1). Kemenangan Babel atas Israel dalam narasi kitab Yesaya sangat absolut, di mana Israel hancur secara politik, sosial, ekonomi, agama dan peristiwa ini masih diingat dalam sejarah Israel hingga di zaman modern saat ini.
Pertanyaan mendasar dalam konteks pemulihan umat Allah dan kepemimpinan di mana bangsa Israel terpuruk adalah apakah Allah itu masih sebagai Tuhan? Apakah masih ada harapan untuk pemulihan kepemimpinan umat Allah? Di kitab ini dipaparkan bahwa Tuhan ditegakkan, siapa Dia dan bagaimana karya-Nya dengan mengutus hamba-Nya sebagai pemimpin yang membawa pemulihan.
Di sini Yesaya memproklamirkan pemimpin yang akan memulihkan umatNya. Ekposisi sederhana dari Yesaya 42:1-9 memberikan beberapa makna tentang pemulihan bangsa lewat pemimpin, Pertama, Tuhan akan mengirim hamba yang dipenuhi Roh Kudus dan bukan pemimpin tirani (ayat 1-3). Ungkapan "buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya" dan "sumbu yang pudar tidak akan dipadamkannya" untuk menggambarkan kedatangan pemimpin yang menjadi pembebas, penguat, penggembala dan pada saat yang sama menjaga kebenaran dan hukum-hukum Tuhan. Ia penegak kebenaran dan sekaligus menyatakan kasih dan setia Tuhan. Kata kunci adalah hamba Tuhan yang dipenuhi Roh Kudus.
Kedua, Tuhan menegakkan keadilanNya di bumi sebagai gambaran Dia adalah Tuhan untuk semua bangsa dan Tuhan akan menyertai hambaNya sampai terwujudnya keadilan Tuhan dan ditegakkan ke segala pulau dan kepada semua bangsa (ayat 4). Pusat pemberitaan adalah pada keadilan Allah yang dibawa oleh para pemimpin-pemimpin yang ditunjuk Tuhan. Ketiga, rencana Tuhan adalah umat Tuhan dipanggil untuk menjadi alat penyalur berkat. Mereka dilepaskan dari pembuangan untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.
Hamba Tuhan dan umatNya dipanggil untuk "membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara", melawat orang di penjara, memberi makan mereka yang lapar, menyembuhkan orang sakit (ayat 5-7). Model pemimpin yang digambarkan dalam kitab Yesaya kemudian digenapi pada diri Yesus sebagaimana ada di dalam kitab-kitab Injil. Bahwa Yesus datang ke dalam dunia sebagai terang dan kegelapan tidak akan mengalahkannya (Yohannes 1:5) yang adalah sebagai kegenapan Yesaya 42:6, "menjadi terang bagi bangsa-bangsa". Baptisan Yesus dalam Matius 3:13-17 adalah kegenapan Yesaya 42:1 yaitu Roh Allah ada padaNya dan suara dari surga memproklamirkan "Inilah anak yang Kukasihi kepadanyalah Aku berkenan".
Lalu dalam kitab Lukas, Yesus dinyatakan sebagai hamba yang menegakkan keadilan, di mana dikatakan: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Lukas 4:18-19).
Yesus adalah model pemimpin sejati untuk melakukan pemulihan. Penggenapan Yesus dalam kitab Yesaya bukan hanya pada kelahiran dan kematian serta kebangkitan-Nya saja, tetapi telah menggenapi kepemimpinan yang membawa kepada pemulihan. Kepemimpinan yang membawa pemulihan ini merupakan "blue-print' (cetak biru) bagi model kepemimpinan Kristen pada masa kini.
Tetapi, sayangnya, kita melihat kepemimpinan di gereja dewasa ini lebih banyak dipengaruhi oleh teori kepemimpinan sekuler (duniawi) dalam membangun kerajaan Allah yang ditandai dengan semakin terbukanya konflik di internal para hamba Tuhan di gereja dan konflik sesama warga jemaat. Nats renungan kita pada hari ini mengingatkan, marilah kita menjadi hamba yang membawa keadilan agar damai sejahtera yang menyelimuti orang percaya dan dunia ini dan nama Tuhan semakin dipermuliakan. Amin! (f)