Pentingnya menggelorakan kesadaran terhadap dimensi fundamental kepemimpinan, bukan dimaknai pada adanya kepentingan atau kehendak personal secara khusus dalam konteks menjelang suksesi kepemimpinan di GKPI pada tahun 2020. Kesadaran fundamental dimaksud, didasarkan pada adanya keyakinan, kemauan dan pengharapan GKPI mengenai esensi dari kepemimpinan sebagai suatu upaya untuk mewujudkan panggilan dan jawaban terhadap kehendak Allah dalam melayani, mentransformasi kehidupan rohani umat-Nya.
Itu berarti, pemaknaan terhadap nilai kepemimpinan umat Tuhan harus didasarkan pada adanya kesadaran bahwa Allah yang berinisiatif untuk memilih, memanggil pribadi-pribadi sesuai dengan realitas konteks hidup personalnya untuk ditetapkan dalam tugas membimbing, menjaga, mengurus, membangkitkan semangat kehidupan jasmani dan rohani umat Tuhan. Pemaknaan terhadap panggilan kepemimpinan demikian sangat melekat kuat dalam diri Musa, Daud, Yesaya, Rasul Paulus dan pemimpin lainya sebagaimana dicatat dalam Alkitab.
Tetapi pada saat yang bersamaan haruslah diingatkan, walaupun panggilan dimaksud bersifat personal, hal itu tidak dimaksudkan sebagai sebuah panggilan Allah yang dimaknai bersifat eksklusif. Panggilan kudus dimaksud bukan hanya diperuntukkan bagi kepentingan dirinya sendiri maupun kepentingan bangsa Israel, atau gereja kita saja. Panggilan kepemimpinan oleh Allah harus dimaknai pada aspek universal bagi seluruh bangsa sebagai bagian dari dimensi nilai-nilai misioner. Prinsipnya, diberkati untuk menjadi berkat.
Sehingga panggilan kepemimpinan akan berdampak kuat bagi kehidupan di luar bangsa Israel, di luar gereja kita sebagai umat pilihan. Panggilan kepemimpinan juga akan berdampak pada realitas hidup berbangsa dan masyarakat dunia. Dengan pemaknaan terhadap esensi panggilan kudus dimaksud, menjadi sarana Tuhan untuk memberkati umat beriman demi kelangsungan hidup masa kini menuju kehidupan kekal.Itu juga berarti, panggilan kepemimpinan tidak dimaknai bersifat kekinian saja, hanya mengurus kebutuhan masa kini tetapi bersifat eskatologis, menuju kehidupan maranatha.
Atas kesadaran fundamental demikianlah, gereja GKPI yang lahir pada Agustus 1965, menetapkan salah satu Rencana Strategisnya, mengenai "Transformasi Kepemimpinan" dalam wujud kepemimpinan yang melayani sebagai tema pokok dalam tugas atau fungsi penggembalaan dalam pelayanan gereja untuk diwujudnyatakan pada pelayanan di tahun 2020.Dan pada saat yang bersamaan, mestilah disadari bahwa pokok pergumulan guna mewujudkan tema sentral GKPI mengenai kepemimpinan yang melayani dapat berdimensi sangat luas.
Sebab, pokok pergumulan ini, bukan hanya bertautan pada kecukupan dana, kesediaan sarana dan prasarana, juga berdimensi aspek kultur dalam wujud kesediaan kita semua untuk mendukung dalam kerangka tugas-tugas pembinaan atau pelatihan, penyusunan rancangan khotbah mulai dari tingkat gereja lokal/jemaat, Jemaat Khusus, Resort maupun Wilayah. Sehingga gereja kita, GKPI akan dimampukan Tuhan untuk memilih dan menetapkan pribadi-pribadi dalam mewujudkan tugas panggilan kepemimpinan yang melayani guna menjawab pergumulan realitas konteks gereja dan umat Tuhan.
Transformasi Kepemimpinan -Melayani
Pergulatan mengenai Trasformasi Kepemimpinan dalam wujud kepemimpinan yang melayani merupakan tema yang sangat kuat dan mengemuka dalam lima puluh tahun belakangan ini. Adanya kajian dan implementasi terhadap tema sentral ini, bukan hanya sebuah diskursus di lingkungan gereja atau kepemimpinan kristen. Tema ini menjadi kajian penting bagi perusahaan sekuler dalam mewujudkan program dan target usahanya. Kondisi ini menjadi sebuah tanda dan penanda bahwa gagasan mengenai kepemimpinan yang melayani, menjadi sangat relevan bagi gereja kita guna mewujudkan visi dan misi GKPI.
Secara teoritis, pemaknaan terhadap kepemimpinan yang melayani, dikembangkan oleh Green Leaf melalui kajian literalnya pada buku, "Servant Leadership: A Journey Into the Nature of Legitamate Power and Greatness". Tetapi sesungguhnya, faktor pemicu mengenai kepemimpinan yang melayani ditemukan oleh Greenleaf ketika membaca novel karya Herman Hessee, "Journey to the East" pada tahun 1960-an.Pemaknaan terhadap novel itulah yang menginspirasi dan mendorong Robert Greenleaf menyerukan bahwa "Good leaders must first become good servants".
Tetapi sesungguhnya, pokok pikiran dan keteladanan mengenai kepemimpinan yang melayani, sudah sejak lama dipraktekkan oleh Tuhan Yesus dalam memanggil, memperlengkapi dan mengutus murid-murid-Nya. Jika pada masa hidup Yesus di Palestina, pemuridan ditandai pada adanya kemauan yang kuat dari calon murid-murid untuk mencari seorang guru, tidak demikian halnya dengan Yesus. Pemuridan ini berlangsung atas inisiatif Yesus dalam mendekati, memahami cara hidup ketika memanggil Simon Petrus dan kawan-kawan.
Adanya pengakuan fundamental pada Yesus sebagai dasar dan model kepemimpinan yang melayani itulah maka GKPI dalam Rencana Strategisnya sebagaimana dalam Buku Panduan Pelaksanaan Rencana bahwa ada 8 (delapan) pokok pikiran menjadi pertimbangan dalam melaksanakan transformasi kepemimpinan di semua aras, yakni:
1. Pola Kepemimpinan yang melayani, menggembalakan, menjadi sahabat, visioner dan managerial. Pola ini menjadi salah satu syarat yang sangat penting dalam memilih pemimpin.
2. Gaya kepemimpinan yang menginspirasi dan memberdayakan.
3. Kepemimpinan yang komprehensif untuk menghasilkan perubahan pada setiap tahapan kegiatan.
4. Kepemimpinan yang menekankan pada mostivasi intrinsik dan pengembangan.
5. Kepemimpinan yang mampu mendelegasikan kewenangan, peningkatan rasa percaya diri pengikutnya, menghilangkan fungsi kontrol yang tidak perlu, dan menciptakan budaya kerja pemberdayaan.
6. Mampu mengembangkan cara kerja kolaboratif ketimbang cara kerja hierarkis.
7. Kepemimpinan yang mengambangkan pemikiran visioner pada para pengikutnya.
8. Kepemimpinan yang melayani dan rendah hati.
Pada tahun 2020 ini kita akan memasuki tahun Tranformasi Kepemimpinan. Tahun ini adalah tahun terakhir dari Periode 2015-2020 dan sekaligus juga tahun terakhir dari Tahap I: Konsolidasi Oktober 2015-2020. Sebelumnya kita telah melaksanakan beberapa tema tahun Rencana Strategis (Renstra) di GKPI:
" Tahun 2015-2016: Tahun Pembenahan Organisasi dan Staff;
" Tahun 2017 kita masuk pada Tahun Formasi Spiritual GKPI,
" Tahun 2018, sebagai tahun Pembentukan Citra Positif GKPI;
" Tahun 2019 GKPI hadir dalam Membangun Komunitas.
" Tahun 2020 GKPI hadir dalam "TRANSFORMASI KEPEMIMPINAN".
Tentu, meskipun Road Map GKPI Tahap I akan segera berakhir namun setiap thema tahun pelayanan di GKPI tidak serta merta harus berakhir setiap tahunnya tetapi harus tetap berkesinambungan dari tahun ke tahun.
Ekspektasi Kepemimpinan
Sebagai gereja yang mewarisi semangat reformasi, itu berarti Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI), dalam menjalani usianya yang sudah dewasa, kiranya mampu terus menerus mereformasi diri guna membangun dan mewujudkan kepemimpinan yang melayani untuk tujuan transformatif. Kita tetap meyakini bahwa gereja yang transformatif harus dibangun, didasarkan dan disemangati oleh kepemimpinan yang melayani sebagaimana diwariskan oleh teladan Tuhan Yesus.
Itulah sebabnya, sebagaimana dihimbau dalam Buku Panduan Transformasi Kepemimpinan disebutkan bahwa "Periodisasi di setiap aras hendaknya berlangsung dengan damai dan penuh kasih. Untuk itu sebelum periodisasi dilakukan maka pertama kali masing-masing aras perlu mendapat pembinaan bahwa periodisasi bukan untuk merebut jabatan atau kedudukan melainkan penyegaran untuk pengabdian yang memuliakan Allah dan pembangunan Jemaat. Pembinaan perlu supaya pelayan dan anggota sama-sama memahami bahwa gereja adalah komunitas spiritual yang dipimpin orang yang rohani, berintegritas, rendah hati (humble) dan hidup dalam firman, melayani dan bukan untuk dilayani (Mrk. 10:45)."
Dengan demikian, GKPI tidak lagi sibuk dalam pencarian identitas kepemimpinan tetapi meyakini dan mendasarkan diri untuk meneladani kepemimpinan Tuhan Yesus. Keyakinan demikian (confidential) akan membuat GKPI fokus pada pengembangan dan menggerakkan potensi, karunia, energi serta sumber daya yang Tuhan berikan. Sehingga gereja Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) mampu merespon zaman yang dikenal sebagai era revolusi industri 4.0 khususnya dalam konteks kebutuhan umat Tuhan akan sentuhan pelayanan (personal touch) oleh kepemimpinan yang melayani guna membangkitkan kesadaran iman (awarness) umat Tuhan. Sebab mestilah disadari bahwa kemajuan zaman pada revolusi industri 4.0 yang melanda seluruh peradaban manusia sangat berdampak pada kekeringan jiwa dan kehausan spiritualitas.
Maka pada konteks adanya kepemimpinan yang melayani, Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) mencanangkan program kepemimpinan yang melayani. Harapan dan komitmen, kerja keras dan doa kita, akan dapat dan mampu membangkitan, mentransformasi kerohanian, iman jemaat dan akan berdampak positif pada pertumbuhan GKPI di segala aspek melalui departemen diakoni, departemen marturia, departemen koinonia. Itulah sebabnya, di setiap gereja, tingkat Jemaat, Jemaat Khusus, Resort maupun Wilayah, upaya pembinaan, pelatihan dilakukan dengan menggerakkan segala potensi, karunia dan energi yang ada sambil kita tetap memohon penyertaan Roh Kudus dalam membantu kita merealisasikannya.
Tahun 2020 adalah sebuah moment yang paling berharga untuk MERAJUT kehidupan bersama dalam setiap tugas dan tanggung jawab bersama. Ada duaratus tujuh puluh (270) daerah Propinsi, Kota dan Kabupaten akan mengadakan Pilkada serentak dan ada 6 (enam) denominasi Gereja Luthteran akan mengadakan Periodesasi (GBKP, GKPPD, HKI, GKPS, GKPI dan HKBP). Kita berharap semuanya berjalan atas tuntutan Roh Kudus, sehingga apa yang menjadi pilihan Tuhan dapat menuntun dan saling melayani dimasing-masing pelayanannya demi kemulian Tuhan.
Namun, kami juga menyadari dalam Periode Kepemimpinan kami masih ada program-program yang belum maksimal kami kerjakan. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh Jemaat GKPI yang telah memberikan waktu, tenaga, hati, bahkan materi demi terlaksananya setiap program yang boleh dilaksanakan dalam periode 2015-2020 ini. Untuk itu kami menghimbau kepada kita semua agar di tahun Tranformasi Kepemimpinan yakni Periodesasi ini kita semua bisa melaksanakannya dengan baik, tertib dan teratur.
Kita berharap melalui Tranformasi Kepemimpinan ini kita betul-betul mendapatkan Pemimpin yang melayani, menggembalakan, dapat menjadi sahabat bagi semua orang, visioner, dan manajerial. Marilah kita merawat kebersamaan dan saling menawarkan kebaikan serta kebersamaan diantara kita sebagai suatu pesan Domestik khususnya bagi warga Jemaat, para Hamba Tuhan di GKPI.
Tuhan memberkati - Shalom. (c)