Bila kita membaca kitab Mazmur seolah-olah kita dibawa ke dalam suasana yang menyenangkan. Apalagi bila kita sedang mengalami situasi yang sulit, mencekam, gundah gulana, takut dan bersedih. Namun hati kita menjadi tentram, nyaman dan bahagia seperti tidak ada beban yang menimpa. Memang itulah sebenarnya pengalaman seseorang yang dekat dengan Tuhan dan bersandar kepada kekuatan Tuhan. Itu sebabnya orang Kristen di seluruh dunia sering membaca kitab Mazmur karena kitab ini dianggap paling istimewa dan memiliki nilai tersendiri dalam membangun kembali spritualitas hidup yang lebih baik.
Salah satu kitab kesayangan Martin Luther (1483-1546) reformator gereja Protestan adalah kitab Mazmur ini sendiri yang dibacanya setiap hari. Maka tidak berlebihan kalau kitab Mazmur ini disebut sebagai buku pengakuan iman (the book of confession). Karena di dalamnya kita mendapat sesuatu yang sangat berharga dan menumbuhkan iman dan pengharapan kita kepada Tuhan pemilik kehidupan ini. Sejak abad mula-mula gereja menggunakan kitab ini sebagai bahagian dari tata peribadahan melalui nyanyian pujian, doa, liturgi dan pengucapan syukur kepada Allah.
Demikianlah yang terjadi dalam Mazmur 27:1-6, Daud menceritakan pengalamannya tentang kemahakuasaan Tuhan yang dasyat dalam hidupnya. Keadaan pemazmur yang diceritakan dalam teks ini telah lolos dari tiga tahap yang mencekam. Pertama: Penjahat-penjahat yang akan memakan dagingnya, kedua: Tentara yang berkemah mengepungnya dan ketiga, timbul peperangan dalam dirinya. Tetapi semuanya itu Allah menjauhkan dari padanya dan Allah menjadi tempat perlindungannya.
Untuk itulah dia bersaksi: Tuhan adalah terangku dan keselamatanku kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar? Daud sungguh merasakan bahwa Tuhan itu dekat dengan dirinya dan tidak pernah meninggalkannya. Allah selalu menjawab doa-doa dan permohonannya. Dia menganggap Tuhan sebagai tempat persembunyiannya setiap hari dalam menghadapi lawan dan musuhnya. Semua orang menjauh daripadanya sebab tidak dapat berbuat apa-apa atas musibah yang menimpanya. Hanya Allah sendirilah andalannya mengatasi segala persoalan tersebut. Atas sukacita melalui keselamatan yang dialaminya itu dia datang bersyukur dan berterimakasih. Menghadap kembali kepada Tuhan mempersembahkan korban dengan sorak-sorai. Maka dia berkata: Aku mau menyanyi dan bermazmur bagi Tuhan.
Pengalaman seperti ini jugalah yang terjadi bagi orang yang selalu dekat dan mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Ketika menghadapi pencobaan dan kesulitan bahkan menghadapi para lawan yang membenci dan menghancurkan hidupnya. Namun Allah beserta dengan dia untuk melindungi dan menjagainya dari berbagai pencobaan. Terutama di tengah-tengah kehidupan kita saat ini dalam menapaki perjalanan hidup di awal tahun 2020 ini. Allah menjadi penolong dan jaminan serta benteng kehidupan kita.
Menjelang akhir tahun 2019 yang lalu peristiwa peledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan membawa ketakutan kepada masyarakat khususnya di Sumatera Utara. Demikian juga dengan musibah banjir menimpa sebahagian ibu kota Jakarta di tahun baru yang mengakibatkan korban jiwa dan kerugian material yang sangat banyak. Kita bersyukur keadaan bisa berangsur-angsur normal dan Pemerintah serta gereja tanggap mengantisipasi keadaan yang menakutkan ini. Allah bekerja melalui orang-orang yang peduli di sekitar kita. Sehingga beban kita bisa ringan. Allah tidak tidur namun selalu menjaga kita setiap hari.
Oleh sebab itulah teks khotbah ini mengajak kita untuk selalu dekat kepada Tuhan penyelamat kita. Dengan tegas pemazmur mengajak kita untuk menjadikan Tuhan sebagai keselamatan dan terang.
Saat ini kita telah memasuki minggu terakhir di bulan Januari 2020 dan saat dimana sebahagian dari saudara kita Tionghoa di seluruh dunia merayakan tahun baru Imlek 2571 Kongzili. Perayaan seperti itu juga dimaknai sebagai ucapan syukur atas penyertaan Allah bagi umat-Nya. Tidak terasa perjalanan kita berlalu dari hari ke hari dan mengalami baik suka maupun duka. Namun kita tetap aman dan selamat. Itulah pertanda Tuhan mengasihi kita selalu. Baru-baru ini juga ditakutkan dengan epidemi corona virus yang dapat membahayakan kehidupan manusia. Maka untuk itu kita perlu tetap waswas dan tetap menjaga kesehatan dan gaya hidup dengan baik agar tidak terjangkit epidemi corona virus menular ini.
Maka teks khotbah hari ini mengingatkan kita akan penyertaan Tuhan selalu dalam kehidupan kita. Pertama: pengharapan yang tidak henti-hentinya kepada Tuhan sebagai keselamatan dan kekuatan kita (Rom. 12:12). Kedua, sebagai orang yang berpengharapan harus selalu menjalin hubungan yang dekat dengan Tuhan. Sebagaimana rasul Yakobus berkata: "Mendekatlah kepada Allah, Ia akan mendekat kepadamu (Yak 4:8). Membaca firman Tuhan dan berdoa setiap hari. Ketiga, menyerahkan segala kekuatiran dan ketakutan kita kepada Tuhan (2 Pet. 5:7). Sebab Tuhan itu dekat kepada setiap orang yang berseru kepada-Nya.
Dialah benteng pertahanan kita dan perlindungan kita setiap hari. Orang bijak berkata: "Pengalaman adalah guru yang terbaik." Melalui pengalaman-pengalaman yang kita lalui membuat kita semakin kuat dalam iman dan membawa hikmat kepada kita. Maka kita tidak perlu ragu dan kuatir akan campur tangan Allah. Imanuel, Allah beserta kita. Tuhan tidak memberikan kita apa yang tidak bisa kita pikul. Penderitaan kita tidak melampaui kekuatan kita. Itu artinya Allah sendiri ikut dan campur tangan di setiap perkara yang kita alami. Maka tepatlah judul renungan ini:Aman dalam Perlindungan Tuhan.
Keselamatan dan terang kita ada pada Yesus Kristus Anak Allah yang telah datang ke dalam dunia ini. Sebab Yesus berkata: "Akulah terang dunia, barangsiapa mengikut Aku, ia tidak berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup (Yoh. 8:12)." Amin. Selamat Tahun Baru. (c)