Deklarasi darurat global oleh Dewan Kesehatan Dunia (WHO) akibat wabah virus corona, menjadi pertanda semakin meningkatnya kekhawatiran banyak orang terhadap penyakit yang telah menelan korban jiwa lebih dari 220 orang ini. Para pemimpin dunia internasional juga sibuk mencari jalan keluar sambil menyatakan kekhawatirannya guna mengupayakan perlindungan dan keselamatan bagi warganya atas ancaman penyakit yang telah mengalihkan perhatian global dari upaya impeachment Trump oleh senat Amerika maupun kasus politik di Iran saat ini.
Tetapi, oleh para ahli dan pihak terkait dalam lingkup kesehatan di Indonesia memberi “harapan†bahwa kondisi suhu tropis dianggap menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya tahan tubuh guna menangkal serangan virus penyakit yang menurut beberapa oknum sebagai kutukan Tuhan. Walau pihak pemerintah berusaha meyakinkan mengenai tidak aktifnya virus dimaksud, pada faktanya banyak pihak di Indonesia masih tetap takut atas ancaman suspect penyakit yang sudah menyebar di beberapa negara.
Maka wajarlah banyak pihak di beberapa belahan dunia, termasuk Indonesia akan semakin khawatir atas ancaman penyakit yang membuat daerah Wuhan China menjadi kota mencekam seperti kota mati. Dan di dalam kondisi demikian, akan semakin banyak orang terserap pikirannya, lebih fokus perhatiannya, lebih terkuras energinya akibat kekhawatiran dan ketakutan. Hampir setiap media sosial, media internasional menjadikan kasus virus mematikan ini menjadi berita utamanya. Bahkan, para penyebar “virus hoaxâ€, virus kebencian sektarian juga aktif memperkeruh situasi.
SIKAP PADA PENDERITAAN
Ketika didera banyak penderitaan, mengalami banyak persoalan, maka salah satu kecenderungan dasar manusia adalah berputus asa. Energinya lebih banyak terkuras karena perhatiannya lebih fokus pada persoalan atau permasalahan dan pada umumnya bukan fokus pada pencarian jalan keluar. Pikirannya lebih tertutup, tidak realistis terhadap fakta hidupnya dan cenderung mempersalahkan orang lain lalu akhirnya mempersalahkan Tuhan atas persoalan hidup yang dihadapi.
Energi pikirannya akan lebih diarahkan pada mempertanyakan kuasa, penyertaan Tuhan. Mengapa Tuhan mengizinkan manusia mengalami penderitaan? Mengapa orang beriman mengalami penyakit, menderita ditimpa bencana bahkan kematian? Maka sesungguhnya, dalam kondisi demikian, sikap (attitude) menjadi faktor yang sangat menetukan pendirian, pemahaman bahkan tindakan seseorang tentang realitas hidupnya itu sendiri.
Orang yang berpijak di atas sikap, attitude yang didasarkan pada sesuatu yang logika, maka relasinya dengan Tuhan akan didasarkan pada sesuatu yang masuk akal, sesuatu yang cenderung bersifat sesuai kehendak atau sebagaimana yang diharapkan menurut desain manusia itu sendiri. Lalu, pada akhirnya, ketika sesuatu terjadi di luar logikanya, maka orang demikian akan frustasi, jatuh pada sikap putus asa dalam wujud tidak mempercayai, atau akan menyangkal Tuhan.
Sebaliknya, pribadi yang mempunyai attitude, bersikap dengan mempercayakan diri, menyerahkan totalitas dirinya pada kuasa Tuhan, maka pikirannya lebih terbuka untuk mencari jalan keluar. Sebab, setiap pribadi yang memasrahkan totalitas hidupnya pada kehendak Tuhan, akan lebih mampu bersikap tenang, keberanian berkreasi untuk meningkatkan kualitas hidupnya lebih teratur dalam menghadapi badai kehidupan serta mensyukuri hasil akhir dari setiap perjuangannya.
KUASA PENYEMBUHAN
Oleh karenanya patut untuk dipahami, apa pentingnya umat beriman agar tetap mempercayakan diri pada kehendak Tuhan? Tentu saja pemahaman demikian, sangat bertautan pada adanya kuasa Tuhan dalam meneguhkan orang beriman agar sembuh, mampu menang dalam menghadapi segala penyakit yang diderita. Sebab kuasa penyembuhan Tuhan bukan hanya terjadi pada masa Yesus ketika membuat tanda mujizat dengan menyembuhkan orang yang buta, orang yang lumpuh.
Kuasa penyembuhan oleh Tuhan juga bekerja kini dan di sini. Maka orang beriman dipanggil untuk terus menerus diteguhkan untuk meyakini, mengimani akan kuasa Tuhan yang telah bangkit dari kematian di salib, mengalahkan kuasa maut dan dosa. Oleh karenanya, orang beriman tidak akan takut, tidak khawatir sehingga akan mampu lebih fokus menghadapi dan kreatif mencari jalan keluar dari penderitaan hidupnya.
Pada konteks demikianlah, umat beriman diperhadapkan pada sebuah fakta bahwa penderitaan hidup pasti selalu ada. Jenis penyakit yang mengancam keselamatan hidup manusia akan selalu bermunculan mulai dari penyakit HIV AIDS, suspect flu burung, virus antraks, virus babi. Justru dalam kondisi demikianlah orang beriman dipanggil untuk bersikap (attitude) meyakini kuasa penyembuhan Tuhan Yesus bagi orang lumpuh di kolam Betesda, perempuan yang mengalami sakit pendarahan, orang buta dan orang kusta disembuhkan bahkan membangkitkan orang dari kematian.
Justru dalam realitas banyaknya tantangan hidup, menjangkitnya kasus penyakit yang mengancam jiwa, umat beriman akan mengalami proses pematangan, pendewasaan imannya sehingga berani berkreasi, berupaya untuk menjaga kesehatan, menjaga pola hidup. Orang beriman juga semakin termotivasi untuk mewujudkan kualitas pengetahuan di bidang kesehatan, menemukan sistim pengobatan yang lebih baik sambil mengurangi dampak negatif dari penemuan itu sendiri.
Oleh karenanya, keyakinan pada kuasa penyembuhan dari Tuhan, itulah yang meneguhkan orang beriman untuk tidak larut dalam kekhawatiran yang menimbulkan ketakutan yang berlebihan seperti orang yang tidak percaya. Keyakinan akan kuasa Tuhan, akan mendorong orang beriman untuk kreatif dalam mencari jalan keluar melalui teknologi kesehatan sambil setiap orang berusaha maksimal menjaga kesehatan dirinya. Dan kuasa penyembuhan Tuhan itu jugalah yang meyakinkan dunia untuk dapat sembuh dari penyakit virus corona.(c)