Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian Tuhan di negeri asing? Saudara-saudaraku, apa itu Nyanyian Tuhan? Kalau kita baca terjemahan di berbagai bahasa, itu berkisar nyanyian pujian kepada Tuhan, Nyanyian tentang Tuhan dan Nyanyian bagi Tuhan.
Tetapi kalau kita membaca Mazmur 137, ditemukan dua istilah, nyanyian sukacita dan nyanyian dari Sion. Maka pastilah merujuk kepada Mazmur secara khusus yang menceritakan kuasa Tuhan membentengi, melindungi dan memelihara kehidupan bangsa-Nya.
Oleh sebab itu Saudara-saudaraku, saya jadi melengkapkan tema ini : Menyanyikan Nyanyian Tuhan di seluruh negeri. Karena saya pikir, tidak fokus hanya kepada nyanyian itu sendiri, tetapi Firman ini jelas fokus juga kepada menyanyi itu.
Secara umum, musikolog-musikolog memberikan definisi yang beragam tentang menyanyi. Tetapi saya sendiri selalu mengatakan, "Menyanyi adalah bercerita dalam irama yang diperindah." Kita bercerita secara umum. Itu sebabnya, kritikus-kritikus musik mengkritik dulunya nyanyian kebangsaan kita Indonesia Raya. Karena tidak pernah orang berbicara/bercerita Indonesia, Indonesia tanah airku. Harus seperti karangan Ismail Marzuki, "Indonesia Tanah Air Beta". Tetapi kemudian mereka meneliti, Wage Rudolf Supratman itu orang/suku apa? orang Sunda. Pantas, orang Sunda itu selalu bicara begitu, "Baraya sadayana", Indonesia Raya.
Hanya, dia lupa bahwa Indonesia Raya itu bukan nyanyian untuk suku tertentu, tapi nyanyian untuk bangsa Indonesia, harus mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia.
Namun demikian, kita bersukacita. Saya hanya mau menjelaskan dalam gereja, menyanyi itu adalah berarti memuji Tuhan, berkhotbah dalam irama yang diperindah. Maka kita harus memahami bahwa menyanyi itu dalam gereja adalah ibadah. Memuji Tuhan itu adalah ibadah. Kalau memang memuji Tuhan itu dalam irama yang diperindah adalah ibadah, maka kita harus memahami pengertian ibadah dalam Alkitab itu.
Yang pertama adalah ibadah ritual, seperti yang kita lakukan sekarang ini. Kita diatur dalam Firman Allah. Kalau anda menyanyi, pertama harus beribadah dalam roh dan kebenaran. Rasul Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 14 : 33 - 40, kalau beribadah harus tertib, sopan dan teratur. Tuhan tidak menghendaki kekacauan. Itu sebabnya Firman Tuhan dalam 1 Korintus 14 : 14- 5 mengatakan sebagai berikut. "…aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku." Oleh sebab itu tak bisa hanya nyanyian dalam ibadah ritual. Kita harus memasuki ibadah yang kedua dan ketiga.
Ibadah yang kedua disebutkan ibadah sejati. Dalam Roma 12 : 1, dikatakan : "Aku menasehati supaya kamu mempersembahkan tubuhmu menjadi persembahan yang kudus yang berkenan kepada Allah. Itulah ibadahmu yang sejati. "Sehingga dalam ibadah ritual itu kita dibentuk menjadi anak-anak Tuhan, yang di dalam kehidupan kita sehari-hari, di dalam setiap saat kita menyanyi dalam ibadah sejati mempersembahkan tubuh kita, pikiran kita, perasaan kita, hati kita harus menjadi milik Tuhan. Sehingga kita harus mencapai apa yang dikatakan Ibrani 5 : 14 melalui ibadah ritual itu kita mempersembahkan tubuh kita sehingga kita mempunyai indera yang terlatih untuk membedakan yang baik dan yang jahat.
Dikatakan dalam Firman Tuhan, "menyanyikan nyanyian Tuhan di seluruh negeri. Seluruh negeri, berarti secara topografi, yaitu, semua tempat, semua negeri. Di dalam Firman ini, bangsa Israel mengatakan, "Bagaimana kami menyanyikan nyanyian Tuhan, kami sudah menggantungkan kecapi kami. Bagaimana kami menyanyikan Tuhan di negeri asing? "Itu menunjukkan, tidak mampu lagi beribadah kepada Tuhan karena justru di negeri asing harus lebih nyaring nyanyian kita. Kalau di negeri sendiri, untuk apa nyaring? Karena seperti kita ini banyaknya, pelan aja kita nyanyi sudah nyaring. Tidak bisa jadi redup nyanyian Tuhan di tengah-tengah negeri asing.
Kalau dikatakan seluruh negeri, dalam semua kondisi. Kita harus mau menyanyikan nyanyian Tuhan. Kita harus dapat beribadah. Bangsa Israel dalam Firman ini, "Mengingat Sion sedang meratap, mengingat Yerusalem mereka menangis. Sebab mereka menderita." Apa penderitaan mereka saudara-saudara? Pembuangan Kerajaan Yehuda ke Babilonia sangat berbeda dengan pembuangan Kerajaan Israel Utara ke Kerajaan Assur. Karena pembuangan Kerajaan Yehuda, mereka ditawan ke Babel.
Mereka ditempatkan di satu tempat secara berkelompok di tepi sungai Keybar. Itu yang dikatakan dalam Firman ini di tepi-tepi sungai Keybar mereka harus bekerja, mereka bebas berdagang, mereka bebas berniaga. Hanya, pada hari-hari tertentu mereka melakukan rodi (kerja paksa). Oleh sebab itu banyak di antara mereka berhasil. Mereka yang berhasil itulah yang tidak mau pulang dalam tiga kali kepulangan : pada waktu Zerubabel, pada waktu Ezra dan pada waktu Nehemia.
Mereka tidak mau pulang karena mereka telah hidup makmur di sana. Kalau begitu, apa penderitaan mereka? karena jelas dikatakan di sini, Sion lagi meratap. Harus kita sadari saudara-saudaraku, pusat identitas bangsa Israel adalah Yerusalem, Sion, Bait Suci. Bagaimana pun penderitaan mereka, kalau Yerusalem tetap baik dan bait suci ada di sana, mereka tetap bangga dengan identitas mereka sebagai bangsa Allah.
Bagaimana pun kondisi hidup mereka, kalau Yerusalem tidak ada, kalau Bait Suci tidak ada, mereka kehilangan identitas sebagai bangsa Allah. Sebenarnya, sebagai bangsa Allah, ada Yerusalem, ada bait suci, tapi masalahnya mereka di negeri asing tidak bisa bebas menyanyikan Tuhan.
Saudara-saudara, jangan pernah takut untuk menyanyikan Tuhan di negeri asing, di manapun dan kapan pun, sebab Tuhan Yesus akan menjamin kesaksian kita sebagaimana dalam Firman-Nya dalam Matius 28:20," Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."Amin! (Cuplikan khotbah pada acara syukuran Bona Taon Ketua Rapat Pendeta HKBP, Sabtu (5/1) di Pematangsiantar. (f)