Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026

Teguh di Tengah Musibah Corona

Redaksi - Minggu, 29 Maret 2020 15:51 WIB
1.039 view
Teguh di Tengah Musibah Corona
Foto: SIB/Dok
Pdt Dr Victor Tinambunan, MST
Dunia tengah berkabung atas meninggalnya lebih dari 9000 orang akibat Covid-19. Di tengah duka yang melanda dunia saat ini kita mendengar firman Tuhan sebagaimana Mzm 69:30-31 "Tetapi aku ini tertindas dan kesakitan, keselamatan dari pada-Mu, ya Allah, kiranya melindungi aku! Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur"
Sikap Pemazmur ini di luar kelaziman. Ia tertindas dan kesakitan tetapi memuji dan mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur.

Rahasianya? Penderitaan dan rasa sakit itu begitu nyata bagi pemazmur. Tetapi Kuasa dan kasih Allah itu jauh lebih mendapat perhatianNya. Itu yang membuat dia dapat memuji-muji nama Allah dan mengagungkan namaNya. Kenyataan ini mengingatkan kita kepada Rasul Paulus yang mengalami banyak derita karena Injil tetapi dia menanggungnya dengan Tangguh dan sukacita. "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku", demikian pengakuan Rasul Paulus sebagaimana tertulis dalam Filipi 4:13.

Di tengah duka karena dan ancaman virus corona yang menimpa dunia, mungkin kita bertanya, "Di manakah Tuhan dalam situasi ini? Mengapa Tuhan tidak berbuat sesuatu?" Mungkin ada banyak pertanyaan bahkan bernada gugatan kepada Tuhan di tengah wabah yang sedang mendera kehidupan kita saat ini. Tetapi sesungguhnya Tuhan berkerja dan berkarya di tengah-tengah kita.

Kita harus melihatnya dengan mata iman. Kita dengat amat jelas dapat melihat pekerjaan Tuhan: (1) Dalam hidup saudara-saudara kita yang dapat melewati masa sulit dan banyak yang terinfeksi sembuh. (2) Melalui mereka-mereka yang sepenuh hati memberi pelayanan terbaik. (3) Melalui usaha dan kerja keras pemerintah, (4) Melalui para ahli yang berusaha menemukan vaksin.

Tugas kita bukan mempertanyakan apalagi menggugat Tuhan, melainkan mendengar dan menjawab pertanyaan Tuhan kepada kita, "Di mana tanggung jawabmu hai anak-anakKu?" Sedikitnya ada lima hal yang perlu kita hidupi dalam situasi sulit ini.

1. Beriman dan Berusaha
Pemerintah sudah menyerukan supaya memberlakukan "social distancing". Tetapi perdebatan pun muncul seputar ibadah di gereja. Dari sekian banyak pendapat sedikitnya ada dua yang sangat umum yaitu ibadah di gereja digantikan dengan ibadah pribadi atau keluarga dan ibadah tetap diadakan di gereja. Yang terakhir ini biasanya diberi dasar pembenaran: "Jika kita beriman kita tidak akan terinveksi virus corona, Tuhan pasti menolong kita." Dalam hal ini kita harus membedakan "beriman" dengan "mencobai".

Ketika Yesus dicobai Iblis untuk menjatuhkan diriNya dari bubungan bait Allah, Yesys menjawab, "Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!" (Mat 4:7). Apakah Allah sanggup melepaskan? Pasti. Tetapi mengapa Yesus tidak melakukannya? Itu adalah mencobai. Apakah Tuhan berkuasa membuat racun menjadi tawar? Pasti! Tetapi jangan pernah mencoba mengambil racunnya, dalam nama Yesus dan meminumnya.

Mungkin gambaran itu terlalu ekstrim. Tetapi inti pesannya ialah keharusan untuk bertindak bijaksana dalam menghadapi suatu masalah. Pemerintah sudah menyerukan pemberlakuan social distancing untuk mencegah penularan dan menghindari korban-korban baru. Dalam situasi seperti ini, mengalihkan ibadah bersama di gereja menjadi ibadah keluarga bukanlah mengabaikan iman tetapi merupakan bagian integral dari iman. Iman yang mengikuti kehendak Tuhan untuk mengasihi diri sendiri dan mengasihi sesama manusia.

2. Merawat Iman dan Menjaga Imun
Dalam situasi pandemi seperti ini, koban tidak saja karena terinfeksi oleh virus corona itu sendiri, tetapi bisa juga karena ketegangan atau kepanikan yang mengikutinya. Rasa takut dan kepanikan tidak memberi jalan keluar, malahan bisa menimbulkan derita yang baru. Itu sebabnya kita perlu lebih memusatkan diri pada Tuhan dan petunjukNya. Para ahli berkesimpulan bahwa kondisi imun tubuh yang kuat dapat mempermudah proses pencegahan dan pengobatan. Rasa kuatir, kecemasan, rasa takut dan kepanikan berperan dalam merontokkan imun tubuh. Untuk itu kita harus merawat iman dan memperkuat sisitem imun tubuh kita.

3. Solidaritas
Dalam keadaan musibah naluri kemanusiaan kita cenderung hanya memikirkan diri sendiri. Rush buying di berbagai tempat merupakan contoh nyata betapa pementingan diri dan ingin selamat sendiri masih mewarnai perjalanan hidup kita. Inilah saatnya kita bersatupadu sebagai sesama manusia bersatupadu mengatasi masalah dengan solidaritas tinggi. Janganlah kiranya kita "memancing di air keruh" dengan mencari keuntungan berlebihan. Biarlah keuntungan yang kita dapat hanya yang masuk kategori "berkat" Tuhan, supaya kita Bahagia dengan apa yang kita miliki.

4. Merawat Alam Ciptaan Tuhan
Apakah ada hubungan pandemi ini dengan masalah krisis ekologi yang tengah mengancam hidup kita saat ini? Studi lebih lanjut masih dibutuhkan. Tetapi untuk sementara cukup bagi kita untuk lebih serius berusaha agar alam ini terpelihara baik. Kenaikan suhu global 1 derajat Celcius sudah cukup membuat banyak mala petaka. Polusi udara, air dan tanah membuat kekebalan tubuh kita menurun hingga kurang mampu melawan serangan virus dan rentan terhadap penyakit.

5. Kritis di Tengah Situasi Krisis
Ada begitu banyak isu yang beredar yang harus kita sikapi secara kritis untuk bisa memberi sumbangsih mengatasi suatu krisis. Misalnya ada yang mengaitkan pandemic ini dengan senjata kimia yang dikembangkan negara tertentu untuk memerangi negara tertentu. Menerima isu ini sebagai kesimpulan bisa memicu kebencian dan memacu permusuhan terhadap suatu negara.
Tidak sedikit pula orang yang membuat pandemi ini menjadi bahan guyonan dengan mengabaikan kepekaan. Sebagai orang beriman, kita harus menghindari diri dari hal demikian.

Masalah Covid-19 ini amat berat dan dahsyat. Kita dapat memaknainya sebagai pembelajaran bahwa hidup kita sangat fragile, terbatas dan rentan terhadap penyakit. Tetapi kita juga disadarkan bahwa Tuhan tetap memegang kendali. (c)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru