Pada hari Jumat (21/2) penulis yang sedang tugas belajar di Korea tiba-tiba mendapatkan pesan beberapakali dari Hosana Presbyterian Church Busan Korea tempat penulis bergabung dalam misi International Ministry di Korea. Pesan itu berisi pemberitahuan untuk tidak datang beribadah ke gereja selama dua minggu ke depan, selanjutnya ibadah akan diadakan di rumah masing-masing yang akan dipandu melalui live streaming dari website gereja dan akan diinformasikan kembali kapan aktif beribadah ke gereja setelah situasi dinyatakan aman.
Seketika itu penulis menyadari Covid-19 pasti sudah merebak di Busan, yang sebelumnya informasi dari media hanya beberapa orang saja yang positif di Seoul yang jaraknya ke Busan kira-kira 6 jam naik bus. Penulis langsung cek dan tanya kepada teman-teman, apa yang terjadi dengan Busan?
Ternyata, seorang wanita berumur 61 tahun membawa virus Covid-19 ke kota Deugu satu jam dari kota Busan bila naik mobil. Wanita ini terjangkit virus saat berkunjung ke Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, Tiongkok. Wanita tersebut ternyata aktivis gereja Shincheonji (aliran sesat - Pendetanya merasa setingkat dengan Yesus. Katanya: "Sayalah Al Masih yang disebut dalam Al Kitab sebagai Yesus yang akan turun kembali ke jagad raya), dengan jumlah jemaat sekitar 600.000 di seluruh Korsel. Bahkan sudah berkembang ke beberapa negara. Gereja itulah salah satu dari sedikit gereja yang berhasil menembus negara komunis Tiongkok.
Di Tiongkok gereja itupun dianggap illegal tapi jemaatnya sangat militan. Gereja ini tergolong baru, didirikan 14 Maret 1984. Pendirinya adalah Lee Man-hee, kini berumur 84 tahun. Di Wuhan mereka sudah memiliki jemaat 200 orang. Natal tahun lalu, wanita ini bertugas menggembalakan umat di Wuhan. Itulah awal berjangkitnya Covid-19 kepadanya di Wuhan. Ketika pulang ke Korea terbawalah virus itu darinya, dengan seketika Korea Selatan menjadi negara kedua terbanyak penderita Covid-19. Beberapa minggu setelah ia datang ke Korea, jumlah keseluruhan penderita mencapai 1.700 orang. Setengah dari jumlah itu adalah jemaat gereja "Shincheonji" di kota Deugu.
Sebelumnya Korea Selatan menjadi negara kedua dengan kasus terbanyak setelah Cina. Namun Korea Selatan mulai bergerak cepat untuk menekan penyebaran Covid-19.
Kamis (26/3), Korea Selatan menjadi urutan kesepuluh Covid-19, positif : 9.137, kematian 131, data dari https://www.worldometers.info/coronavirus/. Dari jumlah kasus tersebut, sebanyak 4.144 telah dinyatakan sembuh. Apakah yang bisa kita pelajari Korea Selatan dalam penanganan Covid-19, sehingga mereka dengan cepat menekan angka korban.
Pemerintah Korea Selatan merespons dengan melakukan pencegahan secara terkoordinasi, menekankan transparansi dan meminta kerja sama publik.Setiap warga menerima pesan gratis dari pemerintah melalui hand phone (dua sampai tiga kali dalam satu jam).
Isinya, peringatan mewaspadai Covid-19, informasi orang-orang yang sudah positif dengan inisial nomor bukan nama, informasi tempat-tempat yang harus dihindari. Semua jejak perjalanan orang-orang yang positif akan diberitahu, karena dilacak melalui cctv.
Pemerintah Korea Selatan tidak membatasi pergerakan orang dengan lock down- bahkan di Daegu, kota yang menjadi pusat wabah terbesar di Korea Selatan. Pihak berwenang fokus pada wajib karantina pada pasien yang terinfeksi Covid-19 dan orang-orang yang telah melakukan kontak dekat. Pemerintah menyarankan masyarakat untuk tetap tinggal di dalam rumah, sekolah telah diliburkan dan ibadah digeser ke rumah masing-masing melalui live streaming. Bagi gereja yang masih menjalankan ibadah dan anggota jemaatnya diketahui terpapar Covid-19 akan didenda perorang sekitar Rp.45 juta untuk biaya pengobatannya.
Setiap orang diharapkan menghindari acara-acara publik, memakai masker dan mempraktikkan kebersihan yang baik dengan cuci tangan yang bersih bila masuk dan keluar ruangan. Masker untuk ibu hamil dan anak-anak dikasih jatah dua set gratis di puskesmas-puskesmas terdekat dan untuk umum dapat dibeli di apotik dengan jatah dua set perminggu dengan harga yang normal.
Pemerintah Korea Selatan memperkenalkan "special immigration procedures" untuk negara-negara yang sudah terpapar Covid-19, para pelancong diharuskan untuk menjalani pemeriksaan suhu, menyediakan verifikasi informasi kontak hingga mengisi kuesioner kesehatan di Bandara-bandara udara Korea Selatan.
Laboratorium riset mereka mempunyai kapasitas deteksi yang cepat dan rumah sakit yang bisa segera menangani, ada 96 laboratorium milik pemerintah dan swasta yang dikerahkan untuk mengecek pasien, hasilnya angka orang yang terpapar cukup besar, tetapi angka yang meninggal rendah dibandingkan dengan negara lain.
Pemerintah Korea Selatan menjalankan program pengujian skrining kepada banyak orang. Mereka mampu melakukan pemeriksaan hingga 15.000 tes per hari. Para tenaga medis Korsel telah memeriksa sekitar 250.000 orang - sekitar satu dari setiap 200 warga Korea Selatan - sejak Februari. Untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pemeriksaan ini, pemerintah menyatakan semua pemeriksaan terkait Covid-19 gratis untuk siapa saja yang dirujuk oleh dokter atau menunjukkan gejala Covid-19.
Pengujian Covid-19 tersedia di ratusan klinik. Demi memudahkan pengujian, pemerintah membangun stasiun-stasiun pengujian bersifat drive-through. Korea Selatan dapat menyaring pasien yang dicurigai Covid-19 hanya dalam hitungan menit. Semakin banyak warga yang diperiksa, memudahkan pemerintah dalam mengelompokkan siapa saja yang wajib dikarantina dan melakukan disenfeksi. Kementerian Kesehatan boleh mengumpulkan data pribadi warga terkait dengan Covid-19 tanpa perlu surat perintah. Pemerintah bisa mengambil data pribadi mulai dari rekaman dari kamera pemantau (CCTV), sejarah penggunaan kartu kredit, hingga data lokasi dari telepon genggam. Ini yang membuat Korsel bisa dengan sangat cepat melacak ratusan ribu warganya.
Hal itu dilakukan agar warga waspada dan segera melaporkan jika pernah melakukan kontak langsung atau mengunjungi lokasi yang dikunjungi pasien positif Covid-19. Bahkan orang yang dipastikan terinfeksi virus corona dapat dilacak menggunakan GPS dan peta yang langsung menunjukkan lokasinya. Hal itu dilakukan agar siapa saja bisa menghindari kontak dengannya. Kemampuan Pemerintah Korea Selatan untuk deteksi dini virus menjadi pengalaman yang kedua ketika melewati wabah influenza pada 2009 dan wabah Mers 2015,langkah agresif Korea Selatan dalam pemeriksaan Covid-19 itu membuat jumlah kasus Covid-19 terus menurun.
Warga turun aktif perangi Covid-19, masyarakat sipil Korea Selatan secara sukarela terlibat dalam upaya menekan penyebaran corona. Mereka membatalkan acara besar mulai dari konser hingga pertunjukan yang akan menimbulkan banyaknya kerumunan orang. Gereja-gereja, warga jemaat, para artis berlomba-lomba menyumbang dana triliunan rupiah untuk memperlengkapi obat dan peralatan perlindungan buat para tenaga medis yang telah berjuang untuk mengobati para korban Covid-19.
Refleksi - Sadar Kematian yang Memberi Kehidupan.
Kehidupan dan kematian menurut penulis alkitab tak pernah menyebutkan bayang-bayang kehidupan mereka tetapi kerap berbicara mengenai bayang-bayang kematian. "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku" (Mazmur 23:4). Mengungkapkan bahwa sekalipun ia berjalan dalam "lembah kekelaman",ia tidak takut sebab Allah menyertainya. Kata lembah kekelaman memakai kata Ibrani tsalmaveth yang berarti 'bayang-bayang kematian'.
Setiap kita tidak pernah dapat menangkap sebuah bayang-bayang entah bayang-bayang tubuh kita sendiri atau tubuh orang lain, sebab memang bayang-bayang tak pernah memiliki eksistensi pada dirinya sendiri. Namun pada saat bersamaan bayang-bayang yang kita lihat menjadi tanda bahwa ada sebuah sosok yang begitu dekat dengan kita. Sosok itu adalah kematian, dimana kita harus sadar setiap saat kematian itu bersama dengan kita, bahkan tidak akan pernah lepas dari kita selama kita hidup.(Joas Adiprasetya - Labirin Kehidupan).
Saat ini Covid-19 menjadi bayang-bayang itu, hampir seluruh negara di dunia tidak lepas dari Covid-19. Belajar dari Korea Selatan, penulis mengerti makna sadar akan kematian. Sepertinya banyak bangsa hanya tahu kematian (Covid- 19), tapi belum tentu sadar kematian. Tiap orang tahu suatu waktu nanti ia akan meninggal tapi "sadar kematian" seperti halnya"sadar budaya" (berbudi dan beradab)"sadar lingkungan" (tidak merusak, tidak mengotori lingkungan). Orang yang tahu budaya dan tahu lingkungan belum tentu sadar budaya dan sadar lingkungan.
Gereja-gereja di Indonesia beserta seluruh rakyat Indonesia harusnya sadar kematian, artinya jujur terhadap diri sendiri mau berpikir tentang kematian dan mau membicarakan kematian. Sadar kematian,maut bisa merenggut nyawa bukan hanya mereka yang sakit dan renta melainkan yang segar, muda. Sadar kematian sikap realistis meskipun maut jauh kenyataannya bisa dekat dengan kita di rumah atau di luar rumah. Beribadah di rumah bukan mengurangi makna ibadah kita bersekutu dengan Tuhan. Kenapa masih banyak agama-agama yang harus memaksakan diri untuk datang beribadah ke rumah ibadah? (Andar Ismail- Selamat Membarui).
Orang-orang Indonesia dan agama-agama di Indonesia harus sadar kematian, artinya sikap antisipasi terhadap dampak kematian yang drastis merenggut segala sesuatu keluarga, teman, pekerjaan. Sadar kematian sikap celik, terhadap arti kehidupan hidup punya arti saling menghargai, membantu bukan cuek, dengki dan benci. Kita tidak ada waktu saling menyalahkan pemerintah, agama dan suku mencari-cari kesalahan ajaran dan doktrin antar agama dan gereja. Tetapi kita harus bersatu dan bekerja bersama menyelesaikan persoalan ini akal dan pikiran yang sehat.
Sadar kematian berarti, sikap kita harus mempertanggungjawabkan kepada sang pemberi hidup apa yang telah kita perbuat dalam hidup. Mazmur 90:12 ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Sadar kematian adalah hikmat yang peroleh dari Tuhan, tapi tingkat sadar kematian masih rendah baik umat dewasa dan lansia umat enggan berpikir tentang kematian.
Ingatlah, sadar kematian diperlukan bukan hanya nanti menjelang kematian justru sejak sekarang,sadar kematian justru berurusan dengan hidup sekarang bagaimana kita menyikapi hidup, sadar kematian perlu dibarui apakah kita menyia-nyiakan membuahkan masa hidup mengisi hidup dengan murah hati, cinta dan kasih sayang. Mari kita buktikan dan saksikan bersama dalam menghadapi Covid-19 ini. Mari terus berbagi kebaikan dan terus kuat berjuang, jangan menyerah. "Kau tidak akan pernah berjalan sendiri dan Teruslah Berpengharapan" (c)