Suatu ketika, saat saya mengarungi jalan raya di kota metropolitan yang hiruk pikuk suara menderu kendaraan yang lalu lalang, di mana jalur yang satu sesama kendaraan berbaris teratur dan secara perlahan tidak ada yang saling mendahului karena hal itu tidak dimungkinkan oleh karena sempitnya badan jalan dibandingkan dengan jumlah kendaraan yang melintas.
Sedangkan pada jalur yang satu mereka saling berlomba dan beradu kecepatan hingga saling mendahului sebab jalannya lebar.
Di sela-sela jalan raya pun tiba-tiba terlintas dari kiri jalan seseorang memasuki badan jalan raya dengan sebuah kereta dorong, dia adalah pedagang bakso, yang menjajakan dagangannya. Di kaca lemari makanan tersebut ada menempel sebuah stiker yang bertuliskan : “Jika itu manis â€" jangan terus ditelan. Namun, jika itu terasa pahit â€" itupun janganlah dimuntahkan“.
Tulisan seperti itu menarik untuk disimak, bukan? Pertama, karena tulisan seperti ini penuh makna. Kedua, karena tulisan yang filosofis tertera pada lemari seorang pedagang kaki lima. Maka saya menafsirkan bahwa statemen pada stiker tersebut merupakan nasihat dan petuah hidup dalam menghadapi penderitaan. Dalam strata sosial, si tukang bakso adalah manusia yang siap hidup menderita di tengah kemegahan kota metropolitan, namun ia terpaksa harus melahapnya. Baginya, penderitaan itu sesungguhnya musuh â€" namun sang derita kerapkali hanya bersahabat kepada orang miskin seperti si tukang bakso ini.
Perlu kita renungkan juga, hidup orang Kristen bukan hanya dianugerahi kebahagiaan, sukacita, kemewahan, sejumlah harta benda, kenikmatan jabatan dan kuasa, atau kelimpahan gegap gempita kesemarakan. Jika hal itu ada kita miliki â€" janganlah kita menjadi angkuh dan lupa diri. Sebab jika pada suatu saat materi dan kenikmatan duniawi tidak lagi menjadi milik kita, maka jiwa kita tidak mengalami kemelaratan hati. Atau pada saat kita menderita hal itu bukan berarti kita sebagai orang yang malang.
Untuk menjawab, atau setidaknya bagaimana orang Kristen bersikap terhadap penderitaan itu maka Tuhan Yesus memprediksi bahwa orang Kristen itu tidak perlu menakuti penderitaan dalam bentuk apapun, atau pada saat kapanpun. Beginilah nasihat Tuhan Yesus : “Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita†(Yohannes 16:20).
Menurut konteks nats, ucapan ini disampaikan Tuhan Yesus menjelang masa krisis, di mana salib dan kematian segera menghampiri hidupNya. Nasihat ini ditujukan kepada murid- murid-Nya jika pada suatu saat nanti mereka tidak bersama Tuhan Yesus lagi maka dunia ini akan menghadang mereka dengan berbagai penolakan, teror, dan penganiayaan. Bahkan bisa mungkin ada juga yang harus dipenjara, dilempari dengan batu, atau mempertaruhkan nyawa dalam memberitakan Injil.
Tuhan Yesus menjamin bahwa penderitaan itu hanya sesaat saja. Sesudahnya mereka akan menerima sukacita besar. Pertanyaan, seperti apakah sukacita yang dimaksud Tuhan Yesus ? Jawabnya, meski para murid, dan rasul harus menderita karena berani bersaksi demi kebenaran, keadilan, dan perdamaian, memberitakan Injil (Kabar Baik) â€" namun karena Dia akan mengutus Roh Kudus sebagai penolong, maka mereka akan dimampukan menghadapi dan memikul penderitaan apapun dan atau siapapun membuat penderitaan itu. Hasilnya, belakang hari, penginjilan itu : jumlah pengikut orang Kristen setiap hari bertambah, persekutuan Kristiani telah mengikat dan mempersatukan mereka di mana pun mereka berada, dunia dan manusia diselamatkan dari dosa.
Saudara yang terkasih. Orang percaya perlu menyadari bahwa hidup adalah perjuangan, ada yang berjuang melawan musuh, berjuang melawan nafsu, berjuang melawan penyakit, pemerintah berjuang melenyapkan Covid-19, berjuang untuk hidup dan belajar menderita, berjuang untuk menyendiri di tengah keramaian, berjuang untuk menahan nafsu mata, nafsu hati, nafsu jiwa.
Hebatnya, jika kita renungkan salah satu harapan baru yang memotivasi perjuangan hidup saat ini, marilah kita cermati pernyataan yang lagi trend dalam menghadapi Covid-19, yaitu, mengatakan : “Stay at home, penderitaan sesaatâ€. Masyarakat dunia masing-masing punya pengalaman tersendiri dalam melewati dan percaya mampu menikmati hari-hari yang pahit, penuh tantangan, cobaan selama dalam satu dan dua bulan hidup dengan harapan satu statement.
“Stay at home, penderitaan sesaatâ€. Dengan stay at home, penderitaan sesaat maka manusia sekarang dapat bekerja dari rumah, belajar dan mengajar dari rumah, menikmati istirahat, mengendalikan usaha dan tanggungjawab dari rumah. Stay at home seolah menjadi khotbah yang menghidupkan suasana kebuntuan ketika ancaman Covid-19 masih merajalela hingga saat ini.
Penting kita renungkan bahwa penderitaan bukanlah akhir dari kehidupan, dan penderitaan tidak otomatis berujung pada kematian. Adakah kita melihat sukacita di dalam atau di balik penderitaan, atau dukacita sekalipun. Maka kemampuan kita memandang penderitaan yang sesaat jika kita memiliki sejuta pengharapan. Semoga. Amin.! (f)