Sudah tiga minggu berturut-turut yakni 22 dan 29 Maret serta hari ini kita tidak mengadakan kebaktian di dalam gedung gereja, melainkan kebaktian di rumah masing-masing. Kebijakan yang tidak diduga ini jarang terjadi di dalam sejarah kekristenan di abad terakhir ini. Kejadian ini dianggap mengejutkan.
Keputusan ini tentu melalui pertimbangan yang sangat matang, untuk menunjukkan kepedulian dan keikutsertaan gereja (baca: orang Kristen) dalam mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19 yang telah menjadi bencana global non alam meskipun muncul pemahaman yang berbeda di antara orang Kristen dan juga para hamba-hamba Tuhan terkait kebijakan tersebut, yang pasti keputusan ini dinilai sangat tepat dan sesuai dengan iman Kristen (teologis) untuk menjawab pergumulan di tengah-tengah dunia saat ini.
Memutus Penularan COVID-19
Mengingat bahaya yang ditimbulkan virus corona serta penularan yang sangat cepat kepada manusia maka dilakukanlah upaya dan langkah strategis.
Pertama, setelah munculnya pengumuman dan himbauan dari WHO terkait dengan virus corona ini maka negara-negara di dunia sepakat memberikan perhatian yang serius menyikapi bencana ini dengan berbagai kebijakan. Di Indonesia misalnya melalui arahan dan kebijakan Presiden, Kapolri, Pemerintah Daerah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota di seluruh tanah air mengambil langkah secara cepat. Hal yang sama dilakukan oleh pimpinan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan pimpinan gereja di berbagai denominasi. Semuanya sepakat untuk membuat upaya dalam memutus mata rantai penularan Covid-19 serta pencegahan secara maksimal.
Kedua, surat resmi yang diterbitkan oleh pimpinan gereja agar semua kegiatan rohani di gereja seperti kebaktian sekolah Minggu, kebaktian (PA) kategorial Remaja/Pemuda, kaum bapak dan ibu latihan koor, sermon majelis dan kebaktian lingkungan (wijk) tidak diadakan di gereja untuk sementara waktu. Hal ini tentu mempunyai alasan yang tepat bagaimana gereja ikut mendukung kebijakan pemerintah secara arif dan bijaksana demi menjaga dampak buruk yang merugikan jiwa manusia.
Bukan hanya dialami oleh umat Kristen tetapi juga oleh pemeluk agama lain di Indonesia. Juga bagi lembaga pendidikan pemerintah maupun lembaga swasta untuk sementara ini diliburkan. Berbeda dengan kantor dan instansi Pemerintah masih tetap melaksanakan kegiatan administrasi dan pelayanan publik. Kecuali ada daerah yang masuk dalam zona merah sehingga meliburkan pegawainya dan dapat melakukan pekerjaan dari rumah saja sampai situasi aman.
Gereja Rumah
Bagaimanakah iman Kristen merespon pergumulan ini? Tentu orang Kristen juga sepakat untuk ikut ambil bagian dalam memutus mata rantai penularan virus corona ini. Salah satu fungsi gedung gereja yang selama ini dipergunakan untuk bersekutu dan beribadah kepada Tuhan, untuk sementara waktu harus dialihkan di rumah-rumah warga. Dalam kasus tertentu ibadah di rumah-rumah dapat diterapkan dalam kehidupan umat Kristen. Rumah-rumah warga jemaat menjadi gereja tempat bersekutu, bersaksi dan melayani dalam menggumuli persoalan ini. Gedung gereja saat ini dilihat bukan hanya gedungnya tetapi orang Kristen juga menjadi gereja yang dapat melakukan ibadah di rumah. Gereja rumah dapat dipahami sebagai tempat kehadiran Allah menyatakan janji-Nya.
Demikianlah halnya dengan persoalan yang terjadi saat ini dalam menyikapi pergumulan dunia ini. Maka ibadah di gereja beralih menjadi ibadah rumah bagi warga jemaat. Gereja menjadi rumah peribadahan sebagai tempat kehadiran Allah untuk menyampaikan seruan, permohonan dan memuji nama-Nya (Maz. 27:7). Tuhan Yesus berkata: Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka (Mat. 18:20).
Melalui bencana ini umat Kristen di seluruh dunia diminta untuk beribadah dan berdoa kepada Allah. Agar Tuhan tetap campur tangan dan tetap mengasihi umat berdosa ini. Dalam kitab Perjanjian Lama diceritakan Yosua sebagai pemimpin umat Israel mengajak umat Allah untuk beribadah kepada Allah. "Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan (Yos. 24:15.c)."
Sehubungan dengan gereja rumah ini, warga jemaat dapat melakukan kegiatan kerohanian yang selama ini berlangsung di gereja bersama dengan anggota keluarga atau secara pribadi. Pihak gereja harus siap melayani warganya dalam mempersiapkan tata ibadah sesuai dengan liturgi Mingguan dan ibadah lain yang diaturkan dalam tata gereja masing-masing.
Majelis gereja dapat menyediakan ibadah secara online atau live streaming terutama dalam penyampaian firman Tuhan. Memang hal ini tidak mudah dilaksanakan sebab membutuhkan biaya dan persoalan teknis. Namun bagi yang tidak terjangkau dengan online pihak gereja juga dapat menyediakan acara dalam bentuk hard copy yang dapat dipergunakan oleh seluruh warga jemaat.
Sama halnya seperti ibadah-ibadah yang berlangsung pada kebaktian Natal keluarga, kebaktian akhir tahun dan ibadah lain yang dilaksanakan di rumah masing-masing. Sehingga makna dan kekudusan hari minggu bagi orang kristen tidak hilang begitu saja. Dengan kata lain, sekalipun ibadah di gereja tidak dapat dilaksanakan untuk saat ini tetapi orang kristen tetap menguduskan hari Minggu sebagai hari perhentian (titah keempat). Jemaat dapat bernyanyi, berdoa sungguh-sungguh dan memohon pertolongan dan kekuatan Tuhan Maha Pengasih.
Dalam Injil Markus tertulis bahwa Yesus mengusir roh dari seorang anak yang bisu. Murid-murid datang kepada Yesus untuk bertanya mengapa mereka tidak dapat mengusir roh itu? Lalu Yesus menjawab mereka: "Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa (Mark. 9:29)." Mari kita tetap berdoa untuk pencegahan virus corona yang menakutkan dan membahayakan ini agar campur tangan Tuhan selalu hadir.
Dalam menjawab pergumulan dunia ini, iman Kristen harus diandalkan serta menantikan kasih setia Tuhan. Kita memang takut dan cemas, tetapi dengan iman kita dapat menghadapinya sambil berserah diri kepada Allah di dalam Yesus Kristus. Menghadapi pergumulan ini dengan iman yang teguh kepada Yesus Kristus yang mampu mengalahkan dan memenangkan kita dalam pergumulan besar ini. Kitab Injil mencatat pada waktu perjamuan malam Tuhan Yesus bercakap-cakap dengan murid-murid-Nya sambil menasihati mereka. Di tengah-tengah percakapan itu Yesus berkata kepada Simon Petrus: Tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur (Luk. 22:32; bnd. Maz. 37:5). Perkataan Yesus ini tentu sangat relevan saat ini agar iman kita tidak gugur (mati) dalam menghadapi pergumulan yang terjadi terkait Covid-19.
Mematuhi Protokoler Kesehatan
Di samping melaksanakan ibadah, doa dan permohonan kepada Tuhan, maka kita juga tetap memperhatikan dan mematuhi protokoler kesehatan yang diatur oleh pemerintah dan pihak peduli kesehatan. Sebagai orang Kristen ikut dan wajib menjadi pelaku dan bertanggung jawab dalam memutus mata rantai penyebaran virus corona ini. Melalui siaran televisi, media cetak, dan media sosial lainnya tentu kita sudah mengetahui apa yang dimaksud dengan protokoler kesehatan itu. Di antaranya adalah menjaga jarak sosial (social distancing), rajin mencuci tangan dengan air mengalir, memakai masker (penutup mulut-hidung) dan petunjuk kesehatan lainnya. Semuanya itu harus dipatuhi demi mencegah penularan virus corona ini demi kesehatan tubuh.
Saling Mendukung
Maka kita berdoa dan berharap kepada Tuhan agar tetap memberikan kekuatan dan kebijaksanaan kepada pemerintah dan seluruh aparatur pemerintah dan masyarakat untuk selalu giat menanggulangi permasalahan ini secara bersama-sama. Bencana ini bukan hukuman dari Allah melainkan sebuah ujian iman kepada manusia.
Sehingga manusia dapat mengambil hikmah dan pelajaran yang berharga dari situasi ini. Tidak saling menyalahkan, tidak menyebarkan hoax terkait virus corona, apalagi jangan menghakimi tetapi bekerjasama dan saling mendukung dan saling mengasihi. Banyak yang sudah korban akibat virus corona yang membahayakan ini, maka kita turut berduka cita atas kesedihan yang dialami keluarga serta mendoakan semua keluarga yang ditinggalkan agar tabah dan dihibur oleh yang Maha Kuasa. Mendukung dan mendoakan semua pihak, para petugas kesehatan dan para medis kiranya diberikan kekuatan dan semangat dalam menjalankan tugasnya dan mendapat berkat Tuhan.
Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Galatia mengajak semua jemaat untuk bekerjasama dan saling mendukung: "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu. Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus (Gal. 6:2)." Ajakan ini juga berlaku kepada semua orang Kristen di seluruh dunia terutama bagi orang Kristen di Indonesia dalam menjawab pergumulan iman di tengah-tengah pandemi virus corona ini. Sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama kita akan menerima informasi dari pemerintah bahwa negara kita aman dari pandemi virus ini dan kegiatan kembali normal seperti sediakala. (d)