Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 03 Februari 2026
RENUNGAN

Miskin kok Bahagia?

Oleh: Pdt.Estomihi Hutagalung,M.Th
- Minggu, 24 Agustus 2014 12:32 WIB
1.020 view
 Miskin kok Bahagia?
Bagaimanakah-  kita memaknai seruan Milton Friedman tentang kehidupan yang ditandai pada sebuah ketamakan? Menurut ekonom pembela kapitalisme ini, manusia sebaiknya menyadari bahwa kerakusan sangat dekat dengan kemanusiaan. Sebab menurutnya, "Adakah sebuah masyarakat akan dapat berlangsung tanpa berdasarkan keserakahan?".

Tentu saja, kaum libertarian akan memaknai pernyataan Friedman sebagai sebuah kebenaran dalam realitas hidup.

Sebab, kapitalisme selalu melihat kehidupan sebagai sebuah mekanisme pasar. Pergulatan individu dalam pasar akan memberikan kesempatan besar bagi setiap orang untuk mewujudkan siapa dirinya tanpa harus memusingkan diri pada arti keserakahan. Pasar dianggap sebagai media yang mampu memberi kepuasan hidup tanpa batas.

Sebab, jika hasrat tidak dipuaskan dalam arti seluas-luasnya, itu berarti kehidupan dianggap tidak berguna dan menjadi bukti bahwa manusia adalah lemah, tidak mampu. Sehingga dengan dorongan hasrat demikian, manusia menjadi korup, memperkaya diri tanpa batas. Kapitalisme telah menempatkan manusia untuk memahami kekayaan sebagai variabel kehidupan yang berarti. Menumpuk harta dianggap sebagai dasar moral kehidupan yang berharga.

Pada konteks spirit nilai kapitalisme demikianlah kita menemukan makna peringatan Tuhan Yesus akan bahaya dari mamon (Matius 6; 24, Lukas 12: 13-21).

Yesus menegor manusia dalam suatu pengertian yang menganggap bahwa harta, uang yang menumpuk, kekayaan yang berlimpah tidak dimaknai hanya sebatas variabel kehidupan yang bernilai. Mamon adalah sebuah rangsangan jiwa seseorang, hasrat untuk memiliki, untuk memuaskan keinginan tanpa batas.

Pada tataran praktis, mamon juga menjadi sebuah daya, kekuatan sosiologis maha dahsyat yang membuat manusia menjadi terasing dari sesama manusia dan terasing dari Allah. Manusia ingin hidup tanpa orang lain, ingin hidup tanpa Tuhan. Mamon telah menyuburkan keangkuhan, ketamakan, keserakahan.

Kehidupan yang didasarkan pada mamon, akan semakin memperlebar jurang orang miskin dan orang kaya.

Untuk menghadapi kekuatan demikian, Allah menyatakan diri dalam sebuah opsi yaitu berpihak, membela orang miskin.

Keberpihakan Allah dinyatakan dalam diri Yesus. Sebagai Anak Allah, pada diri-Nya terdapat variabel kekayaan, kekuasaan.

Meskipun demikian, Yesus tidak memandangnya sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah menjadi manusia dan menjadi miskin karena kita supaya kita menjadi kaya oleh kemiskinan-Nya (Filipi 2: 6-8).

Afirmasi pemaknaan diri (eksistensi) demikian, diwujudkan Yesus dalam mengasihi anak-anak, menyembuhkan orang buta, menahirkan orang kusta, mengampuni dan menyadarkan manusia untuk bebas serta bangkit dari kehidupan berdosa. Yesus mengasihi orang tertindas dan menghargai orang kaya agar memanfaatkan kekayaan guna membantu orang miskin sebagaimana dilakukan Zakheus.

Itulah tindakan pemerdekaan Allah dalam kehadiran-Nya dalam dunia dengan menyadarkan dan memberdayakan setiap orang untuk berani menghadapi dan memaknai kehadiran setiap orang pada realitas hidupnya sendiri.

Seruan pemerdekaan demikian, adalah sebuah makna spiritualitas pengikut Yesus. Setiap orang yang bersedia menjadi murid Yesus, berada dalam barisan perjuangan Allah memerdekakan orang miskin sekaligus berada dalam barisan perlawanan terhadap mamon. Pengikut Yesus harus memaknai dirinya agar bebas dari kemiskinan tetapi juga tidak menjadikan harta, kekayaan sebagai modal dan jaminan kehidupan tanpa Tuhan.

Spiritualitas pengikut Yesus, akan memaknai kekayaan, harta sebagai modal perjuangan bagi pemerdekaan orang miskin.

Kekayaan menjadi modal untuk bekerja demi memuliakan kehidupan yang diberikan Allah. Kekayaan sebagai alat untuk melayani demi peningkatan kualitas pendidikan sehingga orang miskin disadarkan dan diberdayakan untuk bangkit dan menjalani kehidupan yang diberikan oleh Tuhan.

Itulah jawaban atas seruan Milton Friedman, "Adakah sebuah masyarakat akan dapat berlangsung tanpa berdasarkan keserakahan?".

 Dan pada kesadaran spiritualitas pengikut Yesus, orang Kristen semakin merasakan makna sabda Tuhan Yesus, "Berbahagialah orang miskin di hadapan Allah" (Matius 5: 3). Amin. (Penulis: Pimpinan Distrik 13 GMI, di Balige/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru