Merayakan Paskah, sama artinya kita diingatkan dengan peristiwa Salib (Penyaliban) Yesus di Golgota. Apabila kita memandang Salib Yesus, kita membayangkan bagaimana perilaku manusia yang menyalibkan-Nya, serta faktor apa yang menyebabkan sehingga Ia disalibkan. Ibarat kata pepatah ; “Air susu dibalas dengan tubaâ€. Mengapa?
Bukankah Yesus itu sebagai Duta Allah yang melakukan kebajikan Illahi kepada mereka yang berdomisili di Galilea, Yudea, Samaria, Palestina, hingga berakhir di Yerusalem? Tidak ada fakta-fakta kejahatan hukum yang pernah dilakukan-Nya, baik secara terang-terangan maupun secara tersembunyi. Semua khotbah, ajaran, nasehat, maupun visi-Nya tentang masadepan adalah Kerajaan Sorga di dunia ini maupun di akhirat. Namun riwayat pelayanan-Nya berakhir di atas kayu Salib. Sungguh tragis,bukan?
Konon, orang-orang Yahudi sebenarnya sedang diperdaya oleh kepentingan kekuasaan Pemerintahan Romawi ketika itu, sementara Raja Herodes, Pontius Pilatus, yang menjadi boneka Kaisar Agustus di Galilea dan sekitarnya memakai jalur demokrasi untuk menghukum Yesus dengan sepakat mengatakan “Salibkan Dia, Salibkan Dia, Salibkan Diaâ€. Begitupun pengalaman pahit yang dihadapi Yesus, Ia masih mampu memberi pesan pastoral Illahi dari kayu Salib.
Pesan Pastoral
Inilah beberapa pesan pastoral Yesus dari kayu Salib yang disampaikan-Nya dari bukit Golgotha.
1. Pengampunan, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.†(Luk 23:34). Di kayu Salib Yesus sebagai korban kejahatan manusia namun ia tidak dendam justru dari pesakitan ia menyampaikan pengampunan atas salah dan dosa manusia. 2. Negeri Firdaus disediakan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.†(Luk. 23:43). Negeri Firdaus yang pertama disebut taman Eden, negeri di mana awal peristiwa dosa manusia. Kini, pada peristiwa Golgota kembali terulang, namun dari ucapan Yesus negeri itu kembali diperbaharui-Nya, sebab kita bersama Dia yang disalibkan. 3. Mengasihi keluarga Allah, “Ibu, inilah, anakmu!†dan “Inilah ibumu!†(Yoh. 19:26-27). Hendaknya semua orang melihat dan mengasihi Yesus yang disalibkan â€" dan hendaknya juga semua orang menganggap setiap perempuan adalah ibu kita juga. Keluarga Allah tidak lagi dibatasi oleh garis keturunan, garis darah. 4. Suara yang nyaring, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?†(Mark 15:34). Pertanyaan Yesus di sini sebagai peringatan kepada kita, bahwa dalam penderitaan tidak boleh berputus asa, hendaknya kita berseru, memanggil nama-Nya pada saat menderita sekalipun. Dalam situasi penyebaran Covid-19 saat ini marilah kita memanggil dan menyebut nama-Nya yang agung untuk membebaskan kita dari segala bentuk cobaan dan maut, Allah akan mendengar. 5. Yesus haus keselamatan manusia, “Aku haus!†(Yoh. 19:28). Logika ini, seharusnya manusia di sekitar Golgota yang memberi minum. Namun yang termahal dari ungkapan ini justru Yesus merasakan bahwa manusia haus keselamatan. 6. Pasrah diri, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.†(Luk 23:46). Kepasrahan Yesus untuk menyerahkan sepenuhnya terhadap rencana dan kehendak Bapa di sorga. Allah akan mengasihi jika kita pasrah terhadap petunjuk, dan arah jalan Tuhan. 7. Bekerja dalam waktu, “Sudah selesai†(Yoh. 19:30). Allah bekerja dalam kurun waktu tertentu, pekerjaan Illahi telah diselesaikanNya, waktu adalah Alfa dan Omega di dalam Yesus Kristus.
Mulia Meski Dihina
Menurut pandangan duniawi, peristiwa Salib yang diemban Yesus bertepatan pada hari Paskah agar orang-orang yang sedang berjiarah ke Yerusalem mengetahui dan sebagai proklamasi kepada dunia bahwa Yesus itu hina, menderita dan disalibkan. Tujuannya, supaya manusia dan dunia ini tidak percaya lagi kepada Tuhan Yesus, kepada Allah, dan kepada agama Kristen.
Ketika Salib yang dijatuhkan sebagai hukuman kepada Yesus, kita diingatkan dengan kekejaman, kekejian, dan ketegaan penguasa politik dan pejabat agama Yahudi terhadap Yesus. Tetapi apa yang terjadi dari Salib di Golgota.?
Yesus masih sempat berdoa di tengah sakit dan menjelang kematian yang tersiksa itu (Lukas 23:46). Beberapa kata-kataNya yang dicatat menunjukkan lebih banyak kepedulianNya bagi orang-orang lain daripada bagi diri-Nya sendiri (Lukas 23:34,43), meskipun terdengar jeritan hati yang kuat. Ia berkata : “Ya, AllahKu, ya AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku (Markus 15:34)â€. Jeritan dan penderitaan Yesus tidak menghambat pesan pastoral Illahi dari kayu Salib.
Semuanya begitu luar biasa sehingga perwira Roma pun yang mengepalai regu eksekusi, yang sudah sering menyaksikan orang disalibkan, terkesan : “sungguh Dia tidak bersalahâ€, katanya menurut laporan Lukas. Sedangkan Markus melaporkan bahwa ia berkata : “Memang benar orang ini Anak Allah†(Markus 15:39, Lkas 23:47).
Inilah pengakuan orang berdosa bahwa tadinya mereka berfikir bahwa Yesus itu adalah manusia biasa saja, sekarang melalui peristiwa salib ternyata kemuliaan Allah menyinari dunia, membersihkan otak kotor penguasa yang lalim dan jahat. Hukuman yang dijalani Yesus menjadi pembebasan dan keselamatan bagi dosa-dosa manusia yang percaya kepadaNya.
Penutup
Peristiwa Paskah (kematian Yesus di kayu salib) dipandang bukan hanya sebagai bagian dari rencana keselamatan, dan penyelamatan manusia atas dosa-dosanya. Tetapi, juga untuk merepresentasikan kasih dan pengorbanan Allah kepada umat manusia. Dalam tulisan ini telah diungkapkan meskipun Anak Manusia sedang menghadapi siksaan hingga pada titik kematian-Nya, namun Ia masih mampu memberi pesan pastoral sebagai bentuk adanya harapan baru setelah peristiwa Golgota.
Maka ketujuh pesan pastoral Yesus dari kayu Salib itu penting kita renungkan pada saat umat manusia, bangsa dan negara di seantero dunia ini berjuang untuk menghentikan penyebaran Covid-19 di mana Tuhan Yesus juga ikut merasakan penderitaan kita dan mendampingi kita. Percayalah. Selamat Paskah. (c)