Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026

"Jiwaku Haus kepada Allah" (Maz. 42:1-6)

Oleh Pdt. Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBP
Redaksi - Minggu, 19 April 2020 18:03 WIB
2.070 view
"Jiwaku Haus kepada Allah" (Maz. 42:1-6)
Foto: SIB/Dok
Pdt. Dr. Robinson Butarbutar
Saudara-saudara seiman di seluruh tanah air. Biasanya ketika menghadapi kesusahan dan penderitaan hidup, salah satu dari dua sikap ini yang kerap kita tunjukkan. Pertama, sedih, pasrah, patah semangat, terpuruk, dan tenggelam. Kedua, sedih, tetapi segera bangkit di dalam pengharapan pada Allah. Pada awalnya, sebelum mengenal Tuhan, bangsa Batak hidup dalam kemiskinan dan tertutup dari kemajuan. Namun, setelah mengenal Allah Tritunggal, kita pun mengenal kasih dan anugerah-Nya.

Kita mengenal apa yang menjadi kepiluan kita (mananda lungun), tetapi tetap teguh di dalam pengharapan pada Allah. Oleh sebab itu, ketika orang Batak hendak beranjak dari kampung halamannya menuju perantauan, baik untuk mencari pekerjaan maupun bersekolah, biasanya orangtua kita membekali kita dengan dua petuah ini: 1) Ingat kepiluanmu” (Tanda lungunmu) dan 2) Kuatkan jiwamu. Jangan takut. Yakinlah sepenuhnya pada Allah (Pir ma tondim. Unang ho mabiar. Pos roham di Debata). Biasanya, anak yang melaksanakan petuah ini berhasil, yang mengabaikan akan menemukan kesulitan dalam hidupnya.

Pada teks khotbah ini, Pemazmur juga terlihat sangat pilu. Sampai sampai dia digambarkan seperti rusa yang merindukan air, sangat kehausan. Dari pagi sampai malam dia berurai air mata menahan kerinduan kepada Allah. Sebab, sudah tidak bisa lagi dia berjumpa dengan Allah seperti biasa di Bait-Nya di Yerusalem. Pilu hatinya, karena dia berada jauh dari Bait Allah; sebab dia tidak dapat lagi merasakan tangan Allah memberkatinya. Bahkan, dia merasa sudah ditinggalkan Allah, dan musuh-musuhnya mengejek dia. Jiwanya tertekan dan gundah gulana, hatinya gelisah.

Bukankah hati kita pun saat ini sedang sedih, pilu, gundah, khawatir karena pandemi Covid-19? Sudah banyak dari antara kita yang mungkin seperti Pemazmur, rindu sekali ingin berjumpa dengan Allah di gereja bersama dengan saudara-saudara seiman, meskipun kita tetap beribadah secara online selama pandemi ini. Kita juga rindu untuk berkumpul dengan para sahabat, keluarga, pesta, dan lain-lain. Yang lebih sedih, kita bahkan tidak bisa melayat saudara kita yang meninggal karena virus ini. Hanya keluarga dekat yang bisa mengantarkan saudara kita ke kuburan, dan itu pun dari jarak yang cukup jauh dan harus bermasker. Selepas itu, tidak ada acara penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan. Bahkan, ada pula korban Covid-19 yang ditolak warga untuk dikuburkan di kampung halamannya, sangat memilukan. Hati kita makin pilu, karena mungkin kita melihat seolah-olah Allah tidak bekerja di tengah pandemi ini.

Kepiluan kita bisa saja bertambah-tambah jika kita menganggap remeh virus ini dengan tidak mengindahkan aturan dan anjuran yang disampaikan pemerintah. Oleh karena itu, kita tetap harus waspada dan disiplin agar tidak tertular atau mungkin menularkan virus ini pada orang lain. Di sisi lain, kita berharap dan berdoa, kiranya kawan-kawan kita yang Muslim mau menjalankan imbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait pelaksanaan bulan Ramadhan dan Idul Fitri tahun 2020, yaitu: 1) Menjaga jarak dari keramaian; 2) Beribadah di rumah; 3) Mengubah kebiasaan sembahyang; 4) Tidak usah dulu mudik.

Saudara-saudara sekalian, kita tidak boleh berhenti pada kesedihan dan kepiluan. Kita harus bangkit di dalam keyakinan teguh pada Allah (pos ni roha). Inilah hal kedua yang hendak ditekankan khotbah ini setelah kita mengenal kepiluan kita. Seperti Pemazmur, mari kita katakan pada diri kita sendiri: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” Allah tetap bekerja dengan cara-Nya. Dia memberikan penghiburan bagi mereka yang sedih dan pilu.

Dia tetap menolong kita. Oleh sebab itu, kita pun mesti bersemangat untuk mengatakan kepada diri kita sendiri supaya tidak berlama-lama bersedih, kita harus bangkit! Bangsa Indonesia pun mesti berkata kepada dirinya sendiri agar jangan terpuruk dan sedih, tetapi bangkit secara bersama-sama demi kehidupan yang lebih baik bagi semua. Di dalam keyakinan dan pengharapan inilah, sambil mengerjakan tugas dan tanggung jawab masing-masing, kita tetap bisa bermazmur dan memuji-muji nama Tuhan serta mensyukuri kasih setia-Nya. Amin! (c)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru