Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026
Menghadirkan Mukjizat dengan Nalar Sehat:

Korea Selatan Membawa Tanda Keselamatan Lawan Pandemi Covid-19

Redaksi - Minggu, 26 April 2020 14:59 WIB
573 view
Korea Selatan Membawa Tanda Keselamatan Lawan Pandemi Covid-19
Foto SIB/Dok
Pdt Maruasas Nainggolan

Dalam beberapa berita, Perdana Menteri Chung Sye-Kyun melalui siaran televisi mengatakan, jika dapat mempertahankan manajemen yang stabil pada level saat ini, maka Korea Selatan akan beralih ke 'jarak sosial rutin' mulai 6 Mei 2020.

Pada 9 April 2020, Korea Selatan memiliki sekitar 10.423 kasus, 8501 orang telah sembuh dan 204 kematian dengan lebih dari 589.711 orang telah diuji. Tingkat fatalitas kasus 1,95%, lebih rendah dari tingkat fatalitas kasus global WHO 4,34%. Pada Minggu 19 April 2020 jumlah kasus positif Covid-19 di Korea Selatan hanya bertambah delapan kasus. Jumlah itu merupakan yang terendah selama dua bulan terakhir. Melihat data itu, pemerintah Korea Selatan pun melonggarkan aturan jaga jarak sosial dan mengizinkan gereja memberikan pelayanan kembali.

Korea Selatan membawa tanda keselamatan dengan nalar sehat, antara lain dengan Rumah Sakit yang menyediakan peralatan pelindung bagi staf medis adalah langkah pertama dalam perang melawan virus. Ketika seseorang menunjukkan gejala Covid-19, mereka diarahkan untuk menghubungi hotline kesehatan masyarakat, yang dapat menilai gejala dan memberikan penilaian awal melalui telepon. Jika dicurigai infeksi, pasien diarahkan ke tempat pengujian Covid-19 khusus. Mereka yang dinyatakan positif menerima perawatan medis di lingkungan yang dikarantina untuk menghentikan infeksi lebih lanjut. Pengujian drive-through membantu dan melindungi staf medis. Perawatan medis difokuskan merawat mereka yang memiliki gejala parah.

Pemerintah Korea Selatan mengumumkan akan menanggung semua biaya medis terkait dengan Covid-19 untuk warganya dan orang asing yang tinggal di negara itu. Orang yang terinfeksi diberikan cuti dan para pengangguran menerima biaya hidup dasar. Ini menciptakan rasa kepastian finansial dan lingkungan di mana tidak ada yang punya alasan untuk bersembunyi jika mereka terinfeksi.
Korea Selatan efektif dalam melacak orang-orang yang mungkin berhubungan dengan mereka yang dinyatakan positif Covid-19.

Hampir semua warga Korea Selatan memiliki smart phone dan menggunakan kartu kredit, jadi ketika seseorang dites positif, pemerintah dapat melacak di mana mereka berada, pada jam berapa, dan moda transportasi apa yang mereka gunakan. Dengan data ini, pemerintah dapat melacak populasi yang berpotensi terinfeksi, menggunakan rekaman CCTV untuk mengidentifikasi kontak potensial bila diperlukan.

Pemerintah menjadikan prioritas untuk menyediakan masker dan sanitizer (pembersih tangan) bagi warga negara. Pemerintah kemudian mendorong perusahaan untuk meningkatkan produksi masker mereka dan memasok ke apotek di mana sejumlah masker dijual kepada setiap warga negara. Untuk mencegah warga berbaris di apotek, pemerintah dan mitra sektor swasta membuat aplikasi untuk menampilkan jumlah masker yang tersedia di lokasi terdekat. Jumlah masker yang dibeli oleh setiap warga kemudian dilacak melalui database Layanan Asuransi Kesehatan Nasional.

Perdana menteri Korea Selatan menempatkan dirinya di kota Dae-gu (kota terbanyak infeksi) dan mengarahkan respons terhadap wabah di sana. Kehadiran kepemimpinan puncak di episentrum pandemi dapat memfasilitasi dukungan dan respons yang kuat untuk mengurangi infeksi lebih lanjut seperti yang terjadi di Korea dan meningkatkan komunikasi antara semua tingkat pemerintahan.Bagi siapa pun yang melanggar aturan karantina, dengan hukuman satu tahun penjara atau denda hingga 10 juta won ($ 8.210). Apakah itu warga negara Korea Selatan atau warga negara asing, adalah kewajiban yang harus diterima sebagai anggota masyarakat. Saat ini Korea Selatan bersiap untuk menghadapi infeksi Covid-19 gelombang kedua.

Mukjizat dengan Nalar Sehat
Kata mukjizat adalah terjemahan dari tiga kata berbeda, yaitu semeia artinya tanda, dunamis artinya kuasa dan terata artinya ajaib (Andar Ismail, Selamat Membarui). Bagi Yesus melakukan mukjizat bukanlah tujuan melainkan sebagai alat atau tanda yang menunjukkan bahwa dirinya adalah Mesias yang sudah ditunggu berabad-abad. Yesus berkata, "Tetapi jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu" (Lukas 11:20).

Tujuan Yesus melakukan mukjizat adalah agar umat percaya dan bertobat kepada Allah. Ketika mendengar bahwa Lazarus meninggal dan sudah dimakamkan, berkatalah Yesus"… syukurlah aku tidak hadir supaya kamu dapat belajar percaya (Yohanes 11:5). Kemudian di depan kuburan Yesus berdoa mohon kuasa melakukan mukjizat,"…supaya mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku"(ay.42). Yesus mengecam penduduk Khoraizim dan Betsaida karena mereka ingin melihat mukjizat, namun tidak mau bertobat (Lukas 10:13).

Yesus melakukan mukjizat sebagai tanda. Tanda itu menandakan bahwa Kerajaan Allah yang ditunggu sejak zaman Musa kini sudah datang. Mukjizat itu mengandung dua unsur, unsur yang pertama minyimpang dari kelaziman hukum alam, dan unsur yang kedua ia diyakini sebagai rancangan Allah untuk maksud tertentu. Tetapi ada orang yang hanya memegang salah satu unsur, hanya memegang unsur hukum alam sebaliknya hanya memegang unsur perbuatan Allah.

Mukjizat adalah terobosan Allah yang menyimpang dari kelaziman. Lalu orang beriman menemukan rancangan Allah di dalamnya. Untuk menemukan rancangan Allah itu diperlukan nalar sehat atau akal waras. Misalnya, Jika ada orang yang menjanjikan keberhasilan atau kesembuhan asalkan kita menyerahkan sejumlah uang atau benda tertentu, kita perlu berpikir dengan waras.

Apakah itu rancangan Tuhan ataukah rancangan palsu. Janganlah kita membiarkan pikiran kita yang waras dikecoh oleh fanatisme keagamaan. Dalam mukjizat ada penyimpangan dari kelaziman namun bukan penyimpangan dari nalar sehat dan logika.

Pada saat-saat sekarang banyak orang yang berpikir dan mengatakan Covid-19 merupakan kehendak Allah. Covid-19 penyakit yang membawa kesedihan, penderitaan dan kesusahan ini merupakan bagian dari rencana Allah. Sudah dirancang sebelumnya dan menyimpulkan bahwa Covid-19 tidak akan mengambil apa pun dari dunia ini kecuali itu merupakan rencana Allah yang baik, kita tidak akan dapat mengubahnya, apa pun yang kita pakai dan lakukan untuk mencegah dan berjuang bertahan hidup.

Melihat pengalaman dan respon Korea Selatan melawan Covid-19, mereka sungguh menggunakan nalar sehat menghadirkan keselamatan. Penulis mengutip Thomas Jay Oord yang membantah pemikiran yang mengatakan Covid-19 adalah kehendak Allah.

Jika seandainya pikiran ini benar berarti kita tidak perlu berbuat apa-apa untuk melindungi diri kita, karena ini sudah kehendak atau rencana Allah.Kita menerima saja bahwa Allahlah yang membunuh jutaan orang, membuat banyak orang sengsara. Bagaimana dengan penyiksaan, pembunuhan, pemerkosaan, perang, diktator yang kejam. Apakah itu semua rencana Allah?

Penulis melihat respon Korea Selatan melawan Covid-19 setuju dengan tanggapan Thomas Jay Oord. Bagaimana kita dapat mempercayai satu Allah yang pengasih yang akan merancang rencana sedemikian! Jika seperti itulah kasih Allah, apakah kita masih mau berurusan dengan Allah?Seorang ayah yang penyayang tidak akan membiarkan anak-anaknya saling-mencekik, begitu juga Allah yang penyayang tidak akan membiarkan satu virus dengan liar menyebarkan kematian dan penghancuran.

Allah ingin mengalahkan virus ini bahkan mencegah kematian-kematian dan penghancuran yang sedang kita saksikan. Allah selalu aktif terlibat dalam peperangan melawan Covid-19, pada semua tingkat keberadaan dan masyarakat. Allah tidak ingin sendirian dan membutuhkan kita mengalahkan Covid-19. Di saat pergumulan semacam ini, Allah membutuhkan obat terbaik, yang terbaik dari setiap peran dan partisipasi kita.

Thomas Jay Oord memahami "kasih Allah yang tidak mengendalikan," karena Allah mengasihi semua orang dan segala sesuatu, Allah tidak mengendalikan setiap orang atau setiap hal. Kasih Allah yang tidak mengendalikan merupakan kekuatan yang paling dahsyat di dalam semesta! Karena kasih tidak memaksakan kepentingannya sendiri (1Kor. 13:5), bahkan Kekasih yang terkuat tidak dapat mengendalikan yang lain.

Refleksi
Di dalam pandemi Covid-19 saat ini, Allah memanggil setiap orang, setiap keluarga, setiap persekutuan, dan setiap struktur politik untuk menanggapi dan melawan Covid-19 ini dengan secara unik. Panggilan-panggilan khusus dari Allah ini bersifat khas bagi setiap ciptaan untuk dapat bertindak di setiap situasi. Allah memanggil kita semua untuk bertindak dengan cara nalar yang sehat dan yang penuh kasih. Korea Selatan telah mencoba membawa tanda keselamatan melawan Covid-19.

Nalar sehat menghadirkan mukjizat dengan menyadari, social distancing dapat menjadi sebuah bentuk kasih yang bermakna. Berbagi barang kebutuhan, masker dan hand sanitizer. Bekerja sama dengan pejabat kesehatan dapat menjadi sebuah ungkapan kasih yang kuat. Mengambil tindakan pencegahan yang wajar dapat pula menjadi sebuah tindakan kasih. Kita selalu diundang untuk mengasihi.

Ketika Yesus melihat seseorang yang membutuhkan, injil-injil menunjukkan kepada kita bahwa hati-Nya "tergerak oleh belas kasihan." Ia adalah seorang model bagaimana kita harus peduli selama krisis ini: dengan hati yang tergerak oleh belas kasihan dan menggunakan nalar sehat. (c)


SHARE:
komentar
beritaTerbaru