Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026
RENUNGAN

Kesetiaan Allah (Roma 3: 1-8)

Oleh Pdt. Dr. Robinson Butarbutar (Ketua Rapat Pendeta HKBP)
Redaksi - Minggu, 26 April 2020 18:36 WIB
7.036 view
Kesetiaan Allah (Roma 3: 1-8)
Saudara-saudara seiman di dalam Kristus Yesus
Setiap kali kita memasuki Minggu Misericordias Domini, Firman Tuhan mengarahkan hati, pikiran, jiwa, serta perasaan kita agar semakin mengenal dan meyakini kabar baik berikut yang senantiasa mengikuti perjalanan kehidupan kita,

bagaimanapun situasi kehidupan yang tengah kita hadapi. Kasih Karunia Tuhan memenuhi dunia ini, bahkan semua ciptaan, baik yang ada di luar bumi ini seperti planet/bintang yang tidak terhitung jumlahnya itu. Sangatlah penting bagi kita meyakininya, terlebih saat-saat kita sedang menghadapi satu kondisi/situasi yang belum pernah kita alami selama ini.

Bahkan tidak mungkin kita hadapi jika hanya mengandalkan kekuatan dan kemampuan kita sendiri, namun kita bisa hadapi dengan mengandalkan Firman Tuhan yang menyatakan: “Bumi penuh dengan Kasih Karunia Tuhan (Ibrani: khesed adonai).” Bumi ini tidak dipenuhi penghukumanNya. Sangatlah penting hal itu kita camkan. Untuk itu, khotbah bagi kita didasarkan pada satu teks dari surat yang dituliskan Rasul Paulus kepada Jemaat Roma yang dari awal sampai akhir, menekankan kasih karunia Tuhan kepada orang-orang berdosa, tidak pandang bulu siapakah dia, anak-anak Allah. Teks itu adalah Roma 3:1-8 yang menekankan dua hal tentang Kesetiaan Tuhan.

Pertama, meski masih ada orang-orang yang tidak percaya pada Tuhan tetapi tidak mungkin membatalkan Kesetiaan (Yunani: pistis) Tuhan untuk mengasihi dunia ini. Seandainya Dia merupakan Allah yang tidak setia pada kasih karuniaNya, maka sudah lebih awal kita umat manusia dihukum dan semua dimusnahkanNya. Oleh karena itu, orang-orang tidak percaya bahkan dosa manusia sekalipun tidak mungkin dapat menghentikan kasih karunia Tuhan. Itulah sebabnya, walaupun Tuhan senantiasa memanggil kita untuk bertobat dari perilaku meninggalkan Tuhan dan dari tindakan yang tidak dikehendakiNya agar tidak terhukum, Ia menyampaikan janji pengampunan atas dosa-dosa kita, malah sebelum kita terhukum. “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yes.1:18).

Oleh karena itu saudara-saudara, sangatlah penting bagi jiwa dan tindakan kita untuk memuliakan Tuhan, yang setia berbelas kasihan pada kita, terlebih di masa pandemi Covid-19 ini. Ia akan memampukan kita menghentikan penyebaran Covid-19. Karena kita mengenal kesetiaanNya berbelas kasihan pada kita, mari juga berusaha setia mengasihi saudara-saudara kita yang berkekurangan di masa Covid- 19 ini sebagai cara kita berterima kasih pada Allah.

Kedua, pelaku kejahatan, pribadi maupun sekelompok orang tidak bisa mempermainkan Kesetiaan Allah mengasihi pendosa, dengan berkata ia dapat berulang-ulang dan semakin melakukan kejahatan karena pikirnya Allah toh suatu waktu akan berbelas kasihan padaNya. Tidak mungkin. Allah juga setia menghukum orang-orang jahat saat ini maupun esok. Penting sekali hal ini kita ketahui, agar kita tidak mengira bahwa karena Allah berbelas kasihan pada kita maka kita dapat melakukan hal-hal yang menyebabkan Covid-19 semakin menyebar dan menyusahkan kita semua. Jangan sampai kita pikir kita lepas dari pantauan penegak hukum polisi dan jaksa, sehingga kita tidak mengikuti apa yang dianjurkan pemerintah memutus mata rantai Covid-19 ini. Camkanlah, Kesetiaan Allah menghukum itu, misalnya dengan â€" akibat tindakan kita yang melawan anjuran pemerintah memutus penyebaran Covid-19 yang menderitanya diri kita sendiri, kawan se-keluarga, se-kampung, se-kecamatan, se-Kabupaten, se-Propinsi, bahkan se-Indonesia pada hari-hari ini. Malah Tuhan akan menghukum kita dengan kematian selamanya pada akhir zaman.

Ingatlah Firman Tuhan dalam Bilangan 14:18-19 ini: “TUHAN itu berpanjangan sabar dan kasih setia-Nya berlimpah-limpah, Ia mengampuni kesalahan dan pelanggaran, tetapi sekali-kali tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, bahkan Ia membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.” Marilah setia melakukan aturan dan himbauan pemerintah memutus mata rantai Covid-19 bersama Allah yang setia menganugerahi kita dengan kasih karuniaNya. Amen. (c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru