Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026
Hari Doa Internasional dan Puasa 14 Mei 2020

Sekjen PBB, Imam Besar Al Azhar dan Paus Fransiskus Gabung Doa Bersama

Redaksi - Minggu, 10 Mei 2020 18:38 WIB
572 view
Sekjen PBB, Imam Besar Al Azhar dan Paus Fransiskus Gabung Doa Bersama
New York, (SIB)
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Antonio Guterres, mengumumkan bahwa dia akan ambil bagian dalam hari doa internasional dan puasa pada 14 Mei 2020 mendatang untuk memohon Tuhan membantu umat manusia mengatasi pandemi virus corona.

Komite Tinggi Persaudaraan Manusia antar umat beragama telah mengeluarkan seruan internasional agar semua orang dari semua agama untuk menjadikannya hari doa, dan puasa, dengan melakukan tindakan berdoma memohon belas kasihan Tuhan agar menyelamatkan dunia dari pandemi.

"Dalam masa-masa sulit, kita harus berdiri bersama untuk perdamaian, kemanusiaan dan solidaritas. Saya bergabung dengan Yang Mulia Paus Fransiskus, dan Imam Besar Al-Azhar Mesir, Sheikh Ahmed El-Tayeb, dalam dukungan mereka dalam doa untuk Kemanusiaan pada14 Mei ini. Ini adalah momen untuk refleksi, harapan, dan iman," kata Guterres dalam pesan Twitter.

Komite Tinggi Persaudaraan Manusia terdiri dari 11 pemimpin agama, cendekiawan dan pemimpin budaya dari seluruh dunia. Komite ini bertujuan untuk mendukung dunia yang damai di bawah Dokumen Persaudaraan Manusia yang ditandatangani oleh Sheikh El-Tayeb dan Paus Fransiskus pada Februari 2019.

Dokumen ini dimaksudkan untuk mencapai perdamaian universal, mendorong kedekatan di antara orang-orang dan meninggalkan kekerasan dan ekstremisme.

Paus Ajak Umat
Sementara itu, Paus Fransiskus dari Vatikan juga mengajak "orang-orang beriman dari semua agama" untuk bersatu memohon "Tuhan membantu umat manusia mengatasi pandemi virus corona."

Imam Besar Al Azhar Mesir, Sheik Ahmad Al-Tayeb, juga menyambut inisiatif ini. Dia mengundang orang-orang di seluruh dunia untuk berdoa dan melakukan pekerjaan amal "demi Allah SWT, untuk mengangkat pandemi ini dari kita dan seluruh dunia," katanya dalam sebuah posting di akun Facebook.

Hari itu akan menjadi momen bersejarah, menurut ajudan Paus Fransiskus, Yoannis Lahzi Gaid, seorang imam dari Mesir dan anggota Komite Tinggi Persaudaraan Umat Manusia.

"Ini akan menjadi pertama kalinya bahwa semua umat manusia bersatu untuk satu tujuan: berdoa bersama, masing-masing sesuai dengan iman mereka, memberikan bukti bahwa iman bersatu, tidak terpecah," kata Gaid dalam sebuah wawancara dengan Al Arabiya.

Memahami Kerapuhan Manusia
Pandemi Covid-19 telah melintasi perbatasan dan budaya tanpa pandang bulu, mempengaruhi kehidupan orang tanpa memandang agama dan latar belakang mereka. “Virus ini membuat kita memahami kerapuhan kita dan kebutuhan untuk bersatu sebagai saudara.

Kita tidak bisa keluar dari (situasi) ini secara terpisah," kata Gaid. “Covid-19 telah membuat kita semua bertekuk lutut. Tetapi berlutut adalah posisi terbaik untuk berdoa,” tambahnya.

Komite itu didirikan tahun lalu dengan dukungan dari Uni Emirat Arab (UEA) yang juga menyerukan kepada orang-orang untuk berdoa agar para ilmuwan menemukan vaksin sesegera mungkin.

Meskipun bidang sains modern dan kepercayaan tradisional sering dianggap tidak sejalan, Gaid mengatakan tidak ada kontradiksi antara keduanya, seperti yang ditunjukkan dalam pandemi ini. “Ada yang komplementer. Ilmu tanpa iman tetap tanpa cakrawala, dan iman tanpa ilmu tetap tanpa dukungan. Ini pelajaran hebat dari Covid-19,” kata Gaid.

Ini bukan pertama kalinya komite para pemimpin dan cendekiawan agama internasional yang beraneka ragam menekankan ilmu pengetahuan. Merefleksikan kemajuan ilmiah dan teknis adalah fokus dari pertemuan komite antar agama yang mengarah pada penandatanganan "Dokumen Persaudaraan Umat Manusia," oleh Paus Fransiskus dan Ahmad Al-Tayeb tahun lalu.

Dilaporkan bahwa beberapa pemimpin dunia juga menyambut panggilan doa pada 14 Mei ini, termasuk Putra Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Presiden Lebanon Michel Aoun, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, dan Patriark Ekumenis Konstantinopel Bartholomew. (Al Ahram/Al Arabiya/SH/p)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru