Kamis 21 Mei 2020 merupakan Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga. Peristiwa kenaikan Yesus terjadi di bumi Palestina dekat Betania (Luk.24:50; Kis.1:50), 40 hari setelah kebangkitanNya (Kis.1:1-11). Ada saksi mata, yaitu murid-murid Yesus (Kis.1:9). Malaikat-Malaikat mengatakan kebenaran kenaikan itu (Kis.1:10-11). Sungguh, Yesus telah naik ke Sorga. Sekarang kita memeringati dan merayakan kenaikan itu. Kepada bapak, ibu, saudara-saudara, saya ucapkan: Selamat Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus!
Yesus datang dari Sorga, turun ke bumi. Ia lahir di Betlehem (Luk.2:4-7). Kemudian Ia naik ke Sorga (Mark.16:19; Luk.24:51; Kis.1:51). Itu artinya Ia pulang ke tempat dari mana Ia datang. Jelasnya, Ia pulang ke Sorga (bnd.Yoh.3:13; 13:3; 16:28).
Disebutkan, bahwa Yesus duduk di sebelah kanan Allah (Mark.16:19). Posisi duduk di sebelah kanan Allah adalah gambaran dari pemuliaan. Yesus dimuliakan di Sorga. Kemuliaan itu ialah pemilikan kekuasaan. KepadaNya diberi segala kuasa di Sorga dan di bumi (bnd.Mat.28:18). Yesus berkuasa atas Sorga dan bumi. Yesus Juru kunci Sorga dan bumi. Yesus Juru kunci hidup kita di Sorga dan di bumi. Ia menentukan hidup kita apakah bisa ke Sorga setelah hidup kita di bumi berakhir (bnd.Yoh.14:6). Yesus
Juru kunci hidup semua manusia karena Dia yang bertakhta di Sorga, berkuasa atas seluruh dunia, Raja alam raya.
Saudaraku kekasih Tuhan, pada dinding suatu bangunan ada batu paling bawah dan ada batu paling atas. Standar kehebatan bangunan bukan batu yang paling bawah dan bukan pula batu yang paling atas. Standar bangunan adalah langit, yang lebih tinggi. Bangunan yang sangat tinggi termasuk yang tertinggi disebut “Pencakar Langitâ€.
Tidak ada kekuasaan di dunia ini yang menjadi standar. Tidak ada seorang-pun yang menjadi standar. Standar bagi semua kekuasaan dan bagi semua orang ialah Yesus yang naik ke Sorga. Ia lebih tinggi dalam segalanya. Ia lebih tinggi dari apa-pun dan dari siapa-pun yang ada di dunia. Kuasa-Nya lebih tinggi dari segala kuasa yang ada di dunia. Apa dan bagaimana-pun jawaban dan sambutan, sifat dan sikap manusia terhadapNya sepanjang masa, pada akhirnya, standar itu sepenuhnya dinyatakan dan digenapi. Di Filipi 2:9-11 dikatakan: “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!â€
Kita semua sama-sama berada di bawah standar yang satu itu. Kita semua sama-sama patut merendahkan diri dan sujud menyembah, memuliakan Yesus yang adalah Penguasa tertinggi, Raja kita, Raja segala bangsa. Dan kita pun pergi. Yesus pulang ke Sorga dan kita pun pergi. Kita pergi mengikut Yesus. Pergi ke mana? Bukan mengikut Yesus ke Sorga. Orang Kristen tidak mengikut Yesus ke Sorga.
Amanat Yesus kepada kita ialah mengikut Dia pergi ke belahan-belahan bumi menjadi saksiNya (Kis.1:8). Selama Yesus di bumi, Tuhan sudah mengerjakan segala sesuatu untuk kita. Sesudah Yesus naik, adalah tugas kita mengerjakan sesuatu untuk Tuhan. Kita disuruh pergi ke seluruh dunia, memberitakan Injil kepada segala makhluk (Mark. 16:15). Artinya setiap orang Kristen disuruh memberitakan Injil kepada semua orang.
Apa Injil yang diberitakan ialah Kabar Baik atau Kabar Kesukaan, yaitu Yesus (bnd. Luk.2:10-11). Memberitakan Injil kepada semua orang ialah memberitakan Yesus Juru kunci hidup di sorga dan di bumi, memberitakan bahwa Yesus bertahta di Sorga tetapi tetap berkuasa atas dunia dan Raja atas segala bangsa.
Apapun alasannya, demi apa pun dan dengan cara baru apapun, Penginjilan tanpa nama Yesus adalah menyimpang, dan sekalipun melesat pasti meleset dari tujuan. Karena siapa yang akan sampai ke tujuan, yaitu keselamatan ialah yang percaya kepada Yesus, yang mengaku nama Yesus adalah Tuhan dan melakukan kehendak Allah (bnd. Mat.10:32; Kis.4:12; Mat.7:21). Mari, kita pergi memberitakan nama Yesus, dan dalam nama Yesus melakukan segala kehendak Allah kepada siapapun. Dalam nama Yesus, kita melakukan diakonia, perbuatan baik kepada siapapun. Kita pergi memberitakan Injil supaya banyak orang diselamatkan. Apa guna yang paling penting atau paling utama dari setiap orang Kristen ialah supaya orang lain diselamatkan. Bagaimana caranya? Kita memberitakan Injil. Dengan kata lain, kita memperdengarkan Firman Tuhan. Tidak semua ikut berkhotbah di mimbar Gereja. Itu tidak perlu.
Penatua pun tidak mesti demikian. Mimbar Gereja hanya satu kavlingan dari ladang pemberitaan Injil yang sangat luas. Apa semestinya? Semua orang Kristen membuat bumi menjadi mimbar menuturkan cerita Tuhan Yesus dan cintakasihNya kepada siapa saja. Camkanlah, dari pendengaran akan Firman Tuhan, orang menjadi percaya (bnd.Roma10:17). Orang yang percaya kepada Yesus dan dibaptis akan diselamatkan (Mark.16:16).
Diselamatkan artinya memperoleh hidup yang kekal (bnd. Yoh.3:16). Setiap orang Kristen memberitakan Injil supaya orang lain memperoleh hidup yang kekal. Di ayat 16 nats khotbah ini disebutkan bahwa siapa yang tidak percaya akan dihukum. Orang yang tidak percaya kepada Yesus berada di bawah hukuman (Yoh.3:18). Apa yang ditekankan ialah desakan keikutsertaan kita pergi memberitakan Injil agar orang lain menjadi percaya sehingga memperoleh hidup yang kekal. Yesus pulang ke Sorga dan kita pun pergilah memberitakan Injil ke mana saja.
Mulailah dengan mengutip satu ayat Alkitab dan mengatakannya saat bincang-bincang (kombur) dengan satu orang atau lebih, di mana saja, maupun saat berbicara dalam acara ada atau saat berbicara dalam acara formal dan tidak formal lainnya.
Saudara-saudara, Yesus mengatakan bahwa ada tanda-tanda akan menyertai orang percaya. Maksudnya akan menyertai orang percaya dalam hidup dan tugas pelayanan, dan tentu dalam tugas utama pemberitaan Injil. Tanda-tanda itu adalah bentuk penyertaan Yesus kepada orang percaya di dunia walaupun Yesus berada di Sorga (bnd.Mat.28:20).
Di ayat 17 dan 18 nats khotbah ini disebutkan: “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh."
Penyertaan Yesus dengan kelima tanda dimaksud adalah perkataanNya, bukan perkataan manusia dan sekali-kali tidak menjadi propaganda penginjilan. Itu bukan sebagai alat uji iman dalam pemberitaan Injil. Itu tidak menjadi motivasi dan tujuan Pemberitaan Injil.
Bukan pula menjadi demonstrasi yang dicanangkan dalam pemberitaan Injil. Itu demonstrasi Allah yang akan menyertai orang percaya dalam pemberitaan Injil. Kita percaya kepada Firman Tuhan yang berkata bahwa sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil (Lukas 1:37). Pada hari Pentakosta, murid-murid berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru (Kis. 2:1-12); mereka berulang kali menyembuhkan orang sakit (Kis.3:1-10; 5:12-16; 9:32-43; 14:8-10;28:8); Paulus mengusir setan dari seorang perempuan di Filipi (Kis.16:16-18); dan di Pulau Maltaia tidak menderita apa-apa ketika ular terpaut pada tangannya (Kis.28:3-6). Dalam sastra Kristen awal, karangan Eusebius disebut tentang Yustus yang minum racun tanpa mendapat celaka apa-apa.Tanda-tanda yang disebut di nats khotbah ini hanya beberapa dari berbagai bentuk penyertaan Allah yang tak terpikirkan dan tak terselami oleh dunia, oleh siapa-pun. Peganglah kebenaran ini, bahwa bagi orang percaya yang mati dalam pemberitaan Injil, tetap ada bentuk penyertaan Allah, yaitu darahnya berteriak kepada Allah dan Allah mendengarnya (bnd.Kej.4:10; Ibrani11:4;
Mat.5:10).
Inilah iman kita, sekalipun kita berpisah dari Yesus secara fisik karena Ia telah pulang ke Sorga, segala penganiayaan, maut, kuasa apapun tidak dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (Roma 8:31-39). Saat ini wabah Virus Corona-19 membuat kita tidak beribadah sama-sama di Gereja dalam waktu yang cukup panjang karena melakukan “physical distancing†dan “social distancingâ€. Kita tidak boleh merasa dirugikan oleh siapapun atau oleh pihak manapun. Tetapi di tengah kerugian dalam banyak hal yang harus kita alami akibat wabah itu, kita menguntungkan orang lain, kita menguntungkan bangsa dan negara kita, Indonesia, kita menguntungkan dunia. Dalam nama Yesus, kita melawan Covid-19 demi kesehatan dan kesembuhan sesama manusia, dengan melakukan jarak fisik dan jarak sosial dan sama-sama beribadah di rumah masing-masing. Itu satu segi pemberitaan Injil saat ini.
Saudara sekalian, Tuhan Yesus tetap berkuasa. KuasaNya nyata menyertai kita di zaman apa-pun sampai akhir zaman. Negeri kita dan dunia akan pulih dari wabah Covid. Firman Tuhan yang disampaikan Yesus dalam nats khotbah hari ini menjadi motivasi, semangat, keberanian, dan suka cita kita untuk memberitakan Injil, untuk terus berjuang dalam hidup dan pekerjaan kita masing-masing. Yesus pulang ke Sorga, kita pun pergi memberitakan Injil sampai ke ujung bumi.
Amin. (d)