Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026

Kasih di Tengah Pandemi

Oleh Pastor Masro Situmorang OFMCap
Redaksi - Minggu, 31 Mei 2020 10:27 WIB
653 view
Kasih di Tengah Pandemi
Foto Dok/Pastor Masro Situmorang OFMCap
Pastor Masro Situmorang OFMCap

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala (Matius 9: 36).

Seorang anak kecil difabel tergerak oleh belaskasih nuraninya yang bening mengambil dua celengannya. Ia lalu mendonasikan seluruh tabungannya itu bagi korban yang terdampak pandemi Covid-19. Di tempat lain, seorang ibu, yang sudah berumur menggantungkan beberapa bungkus mie instan di pagar rumahnya. Setiap orang yang lewat bisa mengambilnya. Intensi mulia dari sang nenek adalah untuk mereka yang paling membutuhkan, yang kehilangan mata pencaharian karena aturan dan anjuran dari pemerintah untuk bekerja, berdoa dan belajar dari rumah.

Saudara-saudara yang dicintai Tuhan. Kita masing-masing juga mungkin pernah mengalami pengalaman semacam ini. Bertemu dengan orang yang butuh pertolongan lalu tergerak untuk menolong tanpa memikirkan balasan dari yang kita berikan. Inilah tindakan ‘belaskasih’ atau yang juga kita kenal dengan istilah compassion. Kalau bukan karena dorongan kasih dari dalam hati, kita mungkin tidak akan pernah merasakan perasaan untuk berbelaskasih.

Pengkhotbah kenamaan Charles Spurgeon mendefinisikan belaskasihan itu sebagai “ekspresi dari emosi terdalam yaitu sebuah perjuangan dan kerinduan yang paling mendalam atas rasa iba”. Dia mengakui bahwa Yesus adalah satu-satunya pribadi yang punya belaskasih yang besar kepada orang-orang. St. Fransiskus dari Asisi, mendefenisikan belaskasih itu sebagai tindakan “ada bersama orang kusta”. Artinya, memberi diri seutuhnya untuk melayani yang menderita, miskin dan sengsara. Bunda Theresia dari Calcutta memaknai kasih itu sebagai hati yang terbuka untuk orang-orang yang terbuang. Oleh karena itu, bunda Theresia selalu membuka hati dan cintanya untuk orang-orang yang lapar, telanjang, tunawisma, orang cacat, orang buta, penderita kusta, semua orang yang merasa tidak diinginkan, tidak dicintai dan tidak diperhatikan.

“Yesus Kristus adalah wajah belaskasih dari Allah Bapa di surga”. Demikian dikatakan Paus Fransiskus dalam bulla “Misericordiae Vultus” (Wajah Belalaskasih Allah)”. Melalui seluruh hidup, tindakan dan kata-kata-Nya, Yesus Kristus menunjukkan belaskasih dan kerahiman Allah yang begitu besar bagi umat manusia. Belaskasih dan kerahiman adalah bukti konkrit dari kasih Allah yang tidak terbatas. Kasih Yesus itu nyata dalam perbuatan-Nya dan tidak hanya tampak dalam kata-kata belaka. Ketika Ia melihat orang yang lemah, Ia memberi kekuatan. Ketika ia melihat orang yang sakit, ia memberi kesembuhan dan ketika Ia melihat orang yang kelaparan dan telanjang, Ia memberikan makanan dan pakaian. Kasih Kristus sungguh hadir di tengah manusia dan melebihi segala kasih dan kasih ini jugalah yang harus kita tampakkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Hakekat dari belaskasih itu adalah ketulusan dan tanpa pamrih. Dalam (Roma 12:9) dikatakan, Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Ketulusan dan sikap tanpa pamrih didasari oleh altruisme yang tinggi. Artinya, kita keluar dari diri kita untuk ada bersama orang lain dan memperhatikan kesejahteraan orang lain. Lawan dari altruisme adalah egoisme. Hati yang berbelaskasih dan tanpa pamrih akan mendorong kita untuk membantu sesama yang berkekurangan, peduli terhadap sesama, memberi sedekah dan menderita dengan orang yang menderita. Belaskasih harus pertama-tama tampak dalam perbuatan dan bukan hanya orasi yang muluk-muluk. Inilah perintah kasih dari Yesus Kristus.

Para saudara yang terkasih, di tengah pandemi Covid-19 ini, kita juga hendaknya menunjukkan belaskasih Allah melalui perbuatan cinta dan saling menolong. Belas kasih itu harus kita tunjukkan melalui perbuatan nyata dan tertuju pada semua orang tanpa harus memandang perbedaan sosial, agama, ras dan budaya. Hendaknya perbedaan latar belakang tidak menghalangi niat kita untuk membantu sesama. Rasa kemanusiaan kita harus menyatukan perbedaan untuk meringankan beban saudara kita yang berkesusahan akibat pandemi Covid-19. Jika kita mampu bersatu, alhasil sekat-sekat sosial akan luruh oleh kesadaran untuk saling menguatkan. Maka, mari menunjukkan belaskasih kita dengan menjadi dapur kemanusiaan sejuta insan yang membantu dengan tulus.

Sedekah itu menyehatkan. Setiap agama mengajarkan umatnya untuk berbagi atas apa yang mereka miliki kepada orang lain demi kehidupan jasmaniah dan spiritual yang baik. Dengan memberi, kita mampu meningkatkan kualitas hidup kita. Melalui berbagi, kita mampu meningkatkan harga diri kita di hadapan Allah, rasa percaya diri, kebahagiaan hidup dan perasaan yang memiliki tujuan hidup. Belaskasih itu kita wujudkan dengan semangat ABC (A= Awali yang baik dari dirimu; B= Bagikan kepada sesama; C= Cinta Tuhan akan menyempurnakan kita). Sesuatu yang kita miliki merupakan bagian dari kita. Saat bagian dari diri itu kita bagikan kepada orang lain, maka kita ikut memberi kebahagiaan kepada orang lain. Inilah bukti belaskasih Allah yang nyata.

Saudara-saudara yang terkasih, kita hidup dalam bumi yang sama. Oleh karena itu, kita harus saling memperhatikan dan saling menolong apalagi dalam situasi pandemi Covid-19. Mari membuka hati untuk melihat sesama sebagai saudara. Kita harus tetap memelihara semangat one human family, one common home.

Saat pandemi ini, kita perlu menularkan semangat kasih karena kasih itu masih mungkin kita bagikan. Kata solidaritas menjadi seruan yang harus menggema. Solidaritas harus meninggalkan sekat-sekat primordial. Kita harus bangga bahwa di tengah situasi kegelapan dan krisis ini, pendar-pendar cahaya bermunculan di pelbagai tempat dan dari beragam kalangan masyarakat untuk saling membantu satu sama lain, tanpa adanya sikap membeda-bedakan. Mari menyingsingkan lengan untuk membantu sesama yang berkekurangan.

Pikiran, tenaga, usaha dan dana yang kita miliki, kita berikan kepada orang yang sangat membutuhkan. Tuhan bersabda: ketika engkau melayani saudaramu yang berkekurangan, engkau telah melayani Aku. Maka, mari menunjukkan belaskasih Allah, melalui kasih kepada sesama. Tuhan memberkati kita semua. Amin.
SHARE:
komentar
beritaTerbaru