Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026

Meneguhkan Umat Tuhan di Masa Covid-19

Oleh Pdt Ro Sininta Hutabarat MTh, Sekretaris Jenderal GKPI
Redaksi - Minggu, 31 Mei 2020 10:48 WIB
648 view
Meneguhkan Umat Tuhan di Masa Covid-19
Foto Dok/Pdt Ro Sininta Hutabarat MTh
Pdt Ro Sininta Hutabarat MTh
Pandemi Covid-19 saat ini berdampak sangat luas dan kompleks. Pandemi Covid-19 telah menjungkirbalikkan banyak pemahaman yang dibangun selama ini secara khusus dalam aspek sosial dan ekonomi.

Gereja di hampir seluruh penjuru dunia juga sangat merasakan dampak pandemi virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan China. Sebab, dengan adanya pandemic ini telah mengganggu pertemuan-pertemuan ibadah di kebaktian Minggu, kebaktian rumah tangga, kebaktian kategorial. Pandemi Covid-19 saat ini "memaksa" gereja untuk memahami atau memaknai ulang aspek-aspek teologi yang telah diyakini, dijadikan sebagai pegangan bergereja.

Jika makna gereja yang kita pahami adalah persekutuan orang-orang beriman yang dipersatukan melalui ibadah di dalam gedung gereja, maka pemahaman demikian perlu dikaji ulang. Sebagaimana telah kita lakukan sejak akhir Maret sampai Mei 2020 atau mungkin sampai pada batas waktu yang tidak dapat diketahui pastinya, ibadah dilaksanakan di rumah-rumah dengan beberapa metode. Ada sebagian jemaat beribadah dan mendapat khotbah melalui acara ibadah yang difotocopy dan sebagian ada jemaat beribadah dengan menggunakan teknologi media elektronik.

Panggilan Gereja
Bagaimanapun juga teologi tidak dapat dipisahkan dari pergumulan konteksnya. Jika pembicaraan tentang Tuhan tidak bertautan dengan realitas hidup umat percaya, itu bukan teologi. Itu hanyalah utopia yang justru membuat umat percaya tidak disadarkan, dimampukan untuk memahami dan menjawab kondisi hidupnya. Dengan kesadaran demikian, maka gereja dalam fungsi lembaganya dan pastoralnya, berada pada barisan perjuangan sebagaimana dilakukan oleh Yesus untuk memberi pencerahan dan peneguhan sebagaimana khotbah di bukit.

Gereja juga berada pada perjuangan memelekkan mata orang buta jasmani dan rohani, orang lumpuh secara jasmani dan rohani, membangkitkan harapan orang yang mati, putus asa serta menjadi bagian aktif dari pemerintahan yang ada. Tetapi untuk mewujudkan panggilan demikian, gereja harus benar-benar memaknai kuasa yang diberikan kepala Gereja di dalam Roh Kudus guna menjawab realitas konteksnya.

Gereja dalam realitas tidak adanya pertemuan-pertemuan langsung di dalam gedung gereja mestilah mampu mewujudkan panggilan menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah. Itu berarti gereja mesti terus memaknai metode penyampaian khotbah, bagaimana isi teologi khotbah di masa pandemi Covid-19 saat ini. Gereja juga harus memaknai panggilan pastoralnya guna meneguhkan jemaat dalam realitas pergumulannya. Bagaimana metode penggembalaan dilakukan gereja melalui penggunaan teknologi virtual.

Theodise: Kuasa Allah dan Penderitaan
Karena salah satu sifat dasar dari manusia adalah menghindari penderitaan, maka kesadaran demikian akan berimplikasi sangat luas secara khusus dalam meghadapi pandemi Covid-19 saat ini. Tentu saja, ini berkaitan dengan theodise, kemahakuasaan Allah dalam realitas penderitaan. Maka pertanyaan besar yang muncul akan berada antara kuasa Allah dan penderitaan manusia. Mengapa orang percaya pada kuasa Tuhan mengalami penderitaan? Apakah penderitaan Covid-19 ini berasal dari Tuhan?

Secara umum, ada dua pendapat mengenai hal ini. Ada yang menganggap bahwa kondisi saat ini merupakan perwujudan dari kuasa Allah dalam konteks semakin berdosanya manusia. Manusia semakin jauh bahkan semakin tidak percaya pada kuasa Tuhan yang dinyatakan dalam praktek hidup yang amoral, korupsi, pengrusakan alam ciptaan-Nya. Maka dengan adanya pandemi Covid-19 dimaknai sebagai cara Tuhan dalam menyadarkan manusia untuk kembali kepada panggilan Tuhan. Maka dibutuhkan pertobatan secara massal sebagaimana panggilan Yunus kepada Niniwe.

Ada yang beranggapan bahwa kondisi saat ini adalah akibat dari proses alamiah dari alam semesta itu sendiri. Kelompok ini berada pada posisi tidak mengaitkan pada kuasa Tuhan tetapi pada kondisi alamiah dari ciptaan Tuhan. Dengan berbagai argumentasi, kelompok ini beranjak pada kesadaran bagaimana manusia memahami Tuhan dalam realitasnya. Jika pada kelompok pertama theodise dimaknai dalam kaitan pada kemahakuasaan Tuhan bahwa Tuhan berkuasa dalam perjalanan hidup manusia, maka kelompok kedua berada pada posisi bagaimana manusia bertindak dalam sejarah perjalanan hidup pemberian Tuhan.

Kelompok kedua memahami pentingnya manusia untuk berada pada kesadaran fungsi manusia sebagai ciptaan menurut gambar dan rupa Allah. Itu berarti, kepada setiap orang diberi kuasa untuk menghadapi tantangan hidup dalam realitas sejarahnya.
Penderitaan tidak boleh dihindari tetapi justru di dalam penderitaan itulah manusia harus berperan. Di dalam penderitaan itulah gereja hadir menyatakan tanda-tanda kerajaan Allah sehingga orang percaya tidak menganggap penderitaan sebagai akhir dari segala-galanya.

Tentu saja theodise tidak terlepas dari pemahaman Allah yang turut menderita. Maka dalam hal itulah kita berada pada seruan akan adanya pengharapan (hope). Gereja dalam realitas konteks panggilannya, harus menyerukan pengharapan justru di dalam penderitaan. Allah yang mengasihi dunia harus menderita dan mati di kayu salib. Tetapi wujud kuasa Allah dinyatakan dalam adanya kebangkitan Yesus dari kematian.

Inilah dasar seruan adanya hidup yang berpengharapan bagi umat Tuhan dalam menghadapi penderitaan. Maka, gereja di dalam doa-doanya harus membangkitkan keyakinan jemaat yang berprofesi sebagai peneliti medis, para dokter, ahli kimia, ahli biologi agar bekerja keras guna menemukan vaksin sehingga penyakit dapat dihadapi. Gereja harus membangkitkan keyakinan jemaat yang mempunyai investasi, harta yang melimpah untuk dapat saling berbagi di dalam penderitaan sebagai dampak pandemi Covid-19.

Meneguhkan Umat Tuhan
Kita mestilah menyadari bahwa dalam sejarah perjalanan dunia, penyakit, penderitaan, masalah hidup tidak pernah lepas dari adanya penderitaan, masalah, penyakit. Kita mesti menyadari bahwa dari ratusan tahun lalu, penyakit akibat dari virus selalu menghantui kemanuisaan. Misalnya adanya virus Spanyol yang menewaskan jutaan manusia. Ketika perang Padri di Tapanuli, banyak orang Batak mati dan tertular wabah. Dunia juga ditandai dengan penyebaran virus ebola, flu burung, SARS, AIDS dan wabah lainnya.
Itu sebabnya tahun 1979, atas kemajuan teknologi kedokteran, WHO mengumumkan kemenangan melawan penyakit cacar.

Sehingga sejak deklarasi sampai menjelang akhir tahun 2019, dunia tidak mengalami ancaman wabah virus yang sangat berarti. Tetapi, di akhir tahun 2019 dan awal tahun 2020, dunia dikejutkan dengan pandemi Covid-19. Dan sebagaimana pengumuman WHO bahwa pandemi Covid-19 ini akan berlangsung lebih dari satu tahun.

Dengan demikian, kita selalu berada pada keyakinan bahwa Allah berkuasa dalam penderitaan dan oleh situasi yang ada kita dipanggil. Tetapi pada saat yang bersamaan, kita juga harus meyakini adanya kuasa Allah dalam diri manusia untuk mampu menghadapi penderitaan. Maka kemajuan teknologi kedokteran, kemajuan teknologi pada masa Revolusi Industri 4.0 saat ini harus dihadapi gereja dengan segala cara beradanya.

Itu berarti gereja harus sadar bahwa wabah selalu ada dan kuasa Tuhan tetap abadi. Kepada umat Tuhan ada diberi kuasa untuk menghadapi segala penderitaan. Sehingga paradigma peradaban hidup manusia selalu berubah sesuai dengan konteksnya. Itu berarti, melalui khotbah, melalui pastoralnya, gereja harus mendorong umat Tuhan agar kreatif dalam perubahan, kuat dalam penderitaan. Dalam perubahan itulah kita meyakini kuasa Tuhan memberi kekuatan, harapan dalam mewujudkan kehendak Tuhan Allah. (p)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru