Singapura (SIB)
Di masa wabah Covid-19 ini, gereja mau tidak mau mengalihkan ibadahnya ke media online. Namun bagaimana setelah wabah ini berlalu, apakah gereja dengan tatap muka akan kembali berkembang atau malah tergantikan dengan ibadah online? Bisakah ibadah online dan tatap muka berjalan berdampingan, bukan malah melakukan kanibalisasi atau mematikan satu sama lain?
Pertanyaan itu dijawab oleh Pastor Tan Seo How pendiri Heart Of God Chuch (HOGC) Singapura dalam artikel berjudul, “How to differentiate your online & on-site church to prevent cannibalization†di websitenya
www.pastorhow.com.
Menurut Pastro How, saat kondisi kembali normal, semua tidak akan sama lagi, itu sebabnya kondisi ini disebut “new normal†atau normal yang baru.
“Gereja yang dulu kita kenal berakhir. Debat tentang gereja online berakhir, Online menang,†ujarnya.
Namun Pastor How berharap gereja tetap kuat dalam kedua hal, baik ibadah online maupun tatap muka. Gereja online telah bergerak dari pelayanan sampingan menjadi yang garis depan.
Sifat alami konsumsi konten telah berubah dari tatap muka menjadi online.
Jemaat telah terekspos kepada gereja online.
Dilain pihak jemaat yang dilayani secara tatap muka biasanya lebih setia dengan gereja “rumah†mereka, sedangkan penonton online adalah poligami (menonton beberapa tayangan ibadah gereja yang berbeda-red).
Jika kamu tidak memberi pilihan online, mereka akan minum dari sumur yang lain.
Mereka yang tidak bergereja juga telah mengambil setengah langkah menuju gereja dan kekristenan seperti itu.
Kamu tidak bisa memutus kebiasaan mereka itu setelah krisis corona virus.
Sekalipun kita ingin semua kembali normal, kita tidak mau mereka yang mencari dan menyelidiki kembali normal. Mereka secara harfiah sangat dekat (secara digital) namun sangat jauh (secara fisik).
Supaya ibadah tatap muka tetap kuat maka Pastor How berharap gereja menawarkan sesuatu yang unik yang tidak bisa di dapat secara online.
Untuk itu maka Gereja online harus dibuat sedemikian rupa bagi yang belum bergereja dan non-Kristen. Ini terutama untuk penginjilan dan integrasi. Hal itu dirancang untuk menjangkau orang-orang yang tidak pergi ke gereja.
Gereja online diharapkan hanya untuk pengenalan tentang gereja dan kekristenan.
Gereja online adalah alat bagi orang Kristen untuk mengundang keluarga dan teman-teman mereka ke gereja â€" walaupun online. Ini adalah komitmen yang lebih rendah, setengah langkah yang tidak mengintimidasi.
Gereja online harus memiliki peta jalan yang mengarahkan (hampir mendorong) para pencari yang berminat menuju gereja tatap muka, bukan pengganti bagi orang Kristen yang sudah pergi ke gereja.
Gereja online adalah untuk mereka yang secara fisik tidak dapat pergi ke gerejamu karena jarak, perjalanan atau sakit, dll.
Tetapi bagaimana kita bisa secara praktis mendidik orang Kristen tentang tujuan mendasar dari gereja online ini? Kami mungkin tidak dapat mengendalikan anggota kami untuk tidak menonton online dan memaksa mereka untuk datang ibadah secara tatap muka.
Inilah yang perlu dipikirkan yaitu bagaimana membuat orang ingin datang ke kebaktian gereja secara langsung.
Ada beberapa hal yang yang didapatkan dari gereja bertatap muka langsung yang tidak ada di online.
Persahabatan, suasana kebersamaan, pelayanan tatap muka, jamahan Roh Kudus, sekolah minggu untuk anak-anak, pelayanan pemuda, keterlibatan jemaat dalam pelayanan, dan masih banyak lagi.
Menurut Pastor How, penting membangun Gereja yang Kuat, seperti model gereja dimana HOGC dibangun. Di HOGC Experience (HOGCx), yang adalah pelatihan intensif pendeta tahunan. Gereja mengajarkan 5 Pilar Gereja Yang Kuat, semuanya tidak bisa di download, yaitu Kebanguanan rohani remaja dan dewasa muda, Rumah, Karakter, Budaya dan atmosfer dan Mobilisasi.
Kabar baik dan buruk
Kabar buruknya, jika gereja dibangun di atas dasar konten ‘pewahyuan’ atau penampilan dari pendeta yang berkotbah, mereka mungkin mampu menarik follower online yang besar tetapi mereka tidak menawarkan sesuatu yang unik yang menarik orang untuk datang.
Kabar baiknya, jika gerejamu dibangun di atas dasar elemen yang tidak bisa di unduh (seperti contoh di atas), maka tekanan diambil dari tampilan panggung/kamera dan dibagi diantara departemen yang lain.
Untuk menghindarkan pelayanan online mengkanibalisasi pelayanan tatap muka, maka ibadah tatap muka harus menawarkan elemen yang tidak bisa di unduh.
Gereja-gereja yang siap menghadapi masa depan membangun ibadah tatap muka dengan berfokus pada elemen-elemen yang tidak dapat diunduh dan membangun layanan online dengan berfokus pada yang belum bergereja, menggoda mereka dan meninggalkan jejak remah roti yang mengarahkan ke gereja fisik.
Masa depan adalah milik gereja-gereja yang dapat melakukan keduanya secara online dan ibadah tatap muka.
Pastor Tan Seow How dan istrinya Pastor Cecilia Chan mendirikan gereja HOGC pada tahun 1999, mereka berfokus untuk melayani anak-anak remaja dan dewasa muda. Dalam websitenya mereka menyatakan bahwa mereka adalah gereja anak muda yang asli â€" digerakkan oleh anak-anak muda untuk anak-anak muda menjangkau anak muda.
Visi dari Pastor How sendiri adalah “Membangkitkan generasi orang-orang yang bersedia memberikan kepada Tuhan tahun-tahun terbaik dalam hidupnya.†Dan dia telah menghidupi visinya tersebut, dan menjadi teladan buat anak-anak muda melakukan hal yang sama.
Semoga inspirasi dari Pastor How di atas memberikan semangat dan masukan untuk gereja-gereja di Indonesia untuk memasuki “new normal†dan semakin bertumbuh dalam segala musim yang Tuhan ijinkan terjadi di negeri ini. (Jawaban.com/p)