Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026
(Kolose 3:18-21)

Merawat Keluarga Bahagia

Oleh Pdt Dr Victor Tinambunan MST
Redaksi - Minggu, 28 Juni 2020 16:43 WIB
2.127 view
Merawat Keluarga Bahagia
Foto:Dok/Pdt Dr Victor Tinambunan Mst
Pdt Dr Victor Tinambunan Mst
Di perguruan tinggi ada banyak fakultas dan program studi (prodi). Ekonomi, hukum, kedokteran, politik, gizi, hubungan internasional, teologi dan lain-lain dipelajari. Tetapi tidak ada Prodi apalagi Fakultas Keluarga. Dalam hal ini, hidup keluarga membutuhkan proses belajar terus-menerus dan Mahaguru untuk keluarga adalah Kristus.

Bagi orang Kristen, keluarga itu merupakan sebuah "jemaat kecil" yang dipimpin dan dipelihara oleh Kristus. Sebagai "jemaat kecil" di situ ada kasih, kesetiaan, keteraturan dan disiplin. Firman Tuhan. Kolose 3:18-21, mengatur dengan tegas tanggung jawab seorang suami, istri dan anak, yang masing-masing harus melihat keberadaan dan tanggung jawabnya dalam hubungan dengan Tuhan.

Keberadaan dan tanggung jawab ini tidak bisa dipisahkan dari ayat-ayat sebelumnya (ayat 5-17) yaitu sebangai "manusia baru", manusia yang hidup dalam Tuhan. Di situ secara khusus kita lihat beberapa penekanan. "Kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan" (ayat 14). "Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu (ay 15). "Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu" (ay 16). "Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah itu dalam nama Tuhan Yesus" (ay 17). Semua ini berlaku bagi suami, istri dan anak.

Istri-Suami (ayat 18). Kepada istri dikatakan, "Tunduklah kepada suamimu." Tunduk di sini berarti taat, setia, dan siap sedia. Dan yang paling penting adalah "tunduk di dalam Tuhan". Dalam hal ini jelas sekali kaitannya dengan yang sudah ditegaskan sebelumnya yaitu: "damai sejahtera Kristus diam dalam hati" dan "segala sesuatu yang dilakukan dengan perkataan atau perbuatan, dilakukan dalam nama Tuhan Yesus" (ay 15 dan 17).

Seorang istri harus menjaga kehormatan suaminya. Janganlah seorang istri bangga kalau suaminya bisa dikendalikan. Belakangan ini banyak perbincangan seputar kedudukan istri dalam keluarga. Seorang istri pernah berkata, "di keluarga kami ada dua kepala: suami saya dan saya." Satu saja kepala sudah susah apalagi dua kepala! Dan terutama, Alkitab bersaksi bahwa suami adalah kepala rumah tangga (Efesus 5:23).

Bagaimana pula kalau ada seorang istri mengatakan, "Memang suami saya adalah "kepala" tapi saya leher. Kepala bergerak seturut gerak leher. Kepala bergerak kalau leher bergerak. Inilah yang disebut dengan suami "DKI", di bawah kendali istri. Keadaan seperti ini merupakan bibit-bibit pertengkaran bahkan perceraian. Jadi, istri harus tunduk kepada suami; tunduk seturut kehendak Tuhan demi keutuhan dan kebahagiaan keluarga itu sendiri dan demi kemuliaan Tuhan.

Suami-Istri (ayat 19). Perintah kepada seorang suami ada dua. Pertama, "Kasihilah istrimu." Kasih di sini adalah kasih yang tidak menuntut syarat, rela berkorban, dan mengampuni. Kasih merupakan sesuatu yang sangat sentral dalam kekristenan. Kasih yang kita terima dari Tuhan, kasih juga yang harus kita hidupi. Seorang suami yang sungguh-sungguh mengasihi sangat menentukan suasana sebuah keluarga. Kedua, "Jangan berlaku kasar". Berlaku kasar ini meliputi menjadikan rasa pahit, memicu kebencian, menggoreskan luka di hati. Kata yang digunakan adalah "jangan", artinya sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar.
Bagaimana seorang suami bisa mewujudkannya? Hendaklah damai sejahtera Kristus bertakhta dalam hati seorang suami. Pada pemberkatan perkawinan di gereja-gereja kita sangat jelas janji yang harus diungkapkan mempelai laki-laki untuk menghidupi kedua perintah ini.

Anak-Orangtua (ayat 20). Kepada anak-anak dinasihatkan, "Hai anak-anak, taatilah orangtuamu". Yang dikatakan adalah "taat kepada orangtua" (bukan hanya bapak atau hanya ibu, tetapi keduanya). Kata kunci adalah "ketaatan". Kata taat atau patuh di sini dalam bahasa aslinya (Yunani) adalah dari akar kata "mendengar”. Jadi, anak harus mendengarkan atau memperhatikan dan taat kepada orangtua. Taat dalam Tuhan.

Seorang anak harus sadar betul bahwa satu di antara sekian yang tidak dapat kita pilih adalah : orangtua kita. Kita dilahirkan dan dihadirkan ke dunia ini menurut kehendak Tuhan yang harus kita terima dan syukuri. Kesadaran seperti ini kiranya mendorong anak-anak untuk memperhatikan nasihat dan taat kepada orangtua.

Banyak anak-anak sekarang ini yang terlalu sibuk dengan gejetnya dan tidak peduli pada orangtuanya yang berulang-ulang memanggilnya. Tidak sedikit pula anak-anak yang marah bahkan minggat dari rumah karena apa yang diminta dari orangtuanya tidak diberikan. Masakan barang yang diminta lebih berharga dari orangtua? Ini adalah bentuk kedurhakaan. Kebiasaan seperti ini harus ditanggalkan dan ditinggalkan. Orangtua harus lebih berharga ketimbang apa yang diberikannya.

Bapak-Anak (ayat 21). Kembali kata "jangan" hadir di sini. "Janganlah sakiti hati anakmu". Menyakiti hati di sini mencakup: membangkitkan amarah, memrovokasi, dan mengakibatkan kebencian bersarang dalam hati. Akibat dari sakit hati ini adalah menjadi tawar hati, patah semangat, merasa ngeri, cemas, dan bingung. Sudah lama beredar pameo tentang adanya dua pasal Undang-Undang dalam keluarga. Pasal 1: Bapak tidak pernah salah. Pasal 2: Kalau bapak salah, kembali ke pasal 1. Barangkali itu sebabnya mengapa seorang bapak jarang meminta maaf kepada anaknya. Padahal, kalau kita jujur sebagai bapak bisa saja kita bersalah. Keluarga Kristen memiliki "Undang-Undang" Keluarga yang berintikan kasih di atas segalanya. Itu yang membuat keluarga berbahagia.

Dari seluruh uraian di atas, kita dapat tekankan tiga hal untuk merawat keluarga bahagia. Pertama, setiap anggota keluarga harus menyambut damai sejahtera Kristus bertahkta dalam hati masing-masing. Kedua, sebagai istri, sebagai suami, sebagai anak dan orang lain yang menjadi anggota sebuah keluarga harus memahami keberadaan dan mewujudkan tanggung jawab masing-masing.

Dengan demikian harmoni keluarga tercipta. Ketiga, ada pepatah Jerman mengatakan, "Kalau setiap keluarga menyapu halaman rumahnya, maka seluruh kota akan bersih. Keadaan masyarakat kita, keadaan bangsa kita, keadaan gereja-gereja kita ditentukan oleh keadaan keluarga-keluarga. Keluarga yang berbahagia menjadi pembawa kebahagiaan ke lingkungan yang luas. (f)

SHARE:
komentar
beritaTerbaru