Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026

Mengenang "Nabi Bisu" Pendeta Sularso Sopater

* Dahulu Ingin Jadi Insinyur Pertanian
Redaksi - Minggu, 28 Juni 2020 17:01 WIB
549 view
Mengenang "Nabi Bisu" Pendeta Sularso Sopater
Foto:Dok/ Pdt Sularso Sopater
Mantan Ketum PGI 1987-2001 Pdt Sularso Sopater 
Jakarta (SIB)
Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) 1987-2001 Pdt Sularso Sopater meninggal dunia. Pdt Sularso meninggal dunia Jumat (26/2) sore.

"Telah meninggal dunia Pdt Dr Sularso Sopater, Ketua Umum PGI pada 1987-2001. Meninggal sore tadi pukul 18.47 karena gagal ginjal dan gangguan jantung," kata Ketua PGI Pdt Gomar Gultom dalam keterangannya, Jumat (26/6).

Pdt Sularso lahir di Yogyakarta, 9 Mei 1934. Pdt Sularso juga pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden pada tahun 1993 hingga 2003.

"Beliau juga pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (DPA RI) periode 1993-2003 dan anggota MPR RI pada 1987," ujarnya.

Pdt Sularso yang meraih gelar Master Teologi di Michigan, AS itu juga pernah menjabat sebagai Rektor STT Jakarta. Pdt Sularso meninggalkan 3 anak dan 6 cucu.

Pdt Gomar mengenang Pdt Sularso sebagai sosok yang kebapakan. Pdt Sularso juga dikenal sebagai sosok yang tak banyak bicara tetapi banyak berkarya.

"Saya menilai beliau sebagai seorang pemimpin yang kebapakan. Beliau menghargai setiap orang sebagai pribadi yang utuh, tidak sungkan untuk menyapa terlebih dahulu, dan selalu siap untuk menolong. Tidak banyak bicara tapi banyak berkarya. Itu sebabnya beliau dijuluki sebagai Nabi Bisu," ujar Pdt Gomar.

Ingin Jadi Insinyur PERTANIAN
Nama Sularso Sopater (86) mungkin tak terlalu familiar di telinga anak muda, namun semangat belajar dan ketaatan pada Tuhan serta Ibu menjadi hal yang perlu diteladani.

Beberapa keteladanan dan kisah hidup mantan Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) itu, terangkum dalam sebuah buku berjudul Memoar Sularso Sopater-Kukuh Menempuh Jalan Ibu.

Saat peluncuran buku hasil karya Agoes Widhartono empat tahun lalu itu, Sularso berkisah bagaimana kehidupannya "diputar" 180 derajat oleh Tuhan melalui ibunya, R Ngt Sukinah, yang ketika itu meminta dirinya menjadi seorang pendeta.
"Saya tidak dilahirkan sebagai pendeta, dulu saya ingin jadi insinyur pertanian," ucapnya.

"Hal itu ditunjang dengan pendidikan di bidang matematika dan lainnya, yang bisa dibilang bagus," ujarnya.
"Namun ketika saya sakit infeksi ginjal, ibu saya bilang agar menunaikan pesan dari ayah saya agar salah satu anaknya bisa menjadi pendeta," kata dia.

"Dari situ aku wis ra noleh (yakin, Red), yen Gusti sing ngutus, Gusti kang minangkani (Jika Tuhan yang mengutus, Tuhan akan menyediakan jalan)," ujarnya menegaskan.

Ia berujar sempat bimbang terhadap pilihan tersebut, sebab kehidupan sebagai seorang pendeta di masa mudanya tak bisa dibilang mudah.

Hal itu ia rasakan sendiri ketika ayahnya, Ponidi Sopater, menjadi pendeta, dari sisi finansial keluarganya menghadapi kehidupan yang sulit.

Ketika ayahnya meninggal dunia, ibunda Sularso harus menghidupi anak-anaknya dengan susah payah.
Keinginannya Sularso kala itu menjadi insinyur pertanian, juga didasari keinginan menghindari kesulitan dari sisi finansial.
"Hidup saya 'diputar' Yang Punya Hidup," katanya mengenang.

"Saya sebenarnya menghindari beban yang berat dari menjadi pendeta dan memilih belajar ilmu sekuler, namun demikian saya begitu menghormati ibu saya," ujar dia.

"Selain itu dengan keadaaan saya yang pada waktu itu sakit kan tidak mudah masuk ke sekolah insinyur pertanian," ungkap Pak Larso, panggilan akrab Sularso.

Melalui Memoar Sularso Sopater-Kukuh Menempuh Jalan Ibu, Pak Larso ingin mewariskan nilai-nilai yang dipegang teguh oleh dirinya : kepercayaan pada Tuhan, penghormatan terhadap sosok orangtua, dan kesungguhan dalam menghadapi suatu pekerjaan.
Hal itu dibuktikannya dengan sejumlah prestasi dan kepercayaan untuk memegang jabatan.

Di antaranya, Rektor Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta, anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI (1993-2003), anggota MPR RI, dan Ketua Umum PGI (1989-2000).

Adapun di masa senjanya, Pak Larso tetap meluangkan waktu untuk mengolah gagasan yang ada dibenaknya melalui membaca dan menulis.

Satu yang unik dari pria kelahiran 9 Mei 1934 itu, ia mengaku memiliki akun Facebook yang ia gunakan sebagai sarana komunikasi virtual dengan kolega maupun murid-muridnya dahulu.

"Kadang sampai jam dua pagi (chatting) Facebook, sebab dari obrolan itu, ada pancingan pertanyaan kepada saya, lalu saya menjawab," katanya.

"Hal itulah yang bisa memancing daya pikir saya hingga sekarang," ujar Pak Larso.
"Terbitnya buku ini saya berharap dapat menjadi semacam life witness perjalanan seorang pelayan Tuhan dari awal hingga menjelang akhir hidupnya," tutur dia. Kini Pdt Sularso Sopater telah tiada, tetapi karyanya tetap ada dan hadir di tengah-tengah masyarakat. (detikcom/Tribun/f)

SHARE:
komentar
beritaTerbaru