Kata-kata penghakiman berikut tidak asing di telinga kita. “Musibah yang ia alami adalah balasan dari Tuhanâ€. “Bencana alam yang menimpa mereka karena tanggal lahir pemimpin mereka angka sialâ€. “Potong jariku ini atau potong leherku ini kalau ia menang nanti!†Ini adalah beberapa contoh menghakimi. Dan semuanya harus kita hindari.
Kata ‘menghakimi’ berasal dari kata Yunani krino, yang kita temukan beberapa kali di dalam Alkitab. Di antara pengertian krino yang paling umum adalah: penilaian atau perkiraan biasa (Luk 7:43); memperkarakan dalam pengadilan (Mat 5:40); penghakiman terakhir oleh Yesus (Mat 19:28); penentuan sebuah hukuman sebelum kesalahan seseorang jelas (Yoh 7:51); penentuan akhir dan mutlak akan nasib seseorang (Yoh. 5:22; 8:16).
Kedua pengertian terakhir, yaitu penentuan sebuah hukuman sebelum kesalahan seseorang jelas dan penentuan akhir dan mutlak akan nasib seseorang lebih dekat pengertiannya dengan kata ‘menghakimi’ dalam Lukas 6:37. Yesus memperingatkan murid-murid-Nya dan orang-orang Yahudi pada zaman itu agar tidak menempatkan diri mereka sebagai ‘hakim’ bagi yang lain dan mengumumkan kesalahan orang lain atas nama Allah. Peringatan yang sama juga ditujukan kepada kita yang hidup pada zaman ini, yang juga belum lepas dari kebiasaan menghakimi.
Sikap dan perilaku yang lebih cepat dan lebih suka melihat kesalahan orang lain (yang juga tergolong menghakimi) disoroti secara tajam oleh Tuhan Yesus. “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?†Memang ada orang yang merasa lega dengan membahas kesalahan-kesalahan orang lain, karena langkah itu dianggap bisa mengangkat ‘harga dirinya’. Agar harga diri meningkat, harus merendahkan orang lain! Untuk menghindari diri dari sikap demikian, bernarlah kata-kata bijak yang berbunyi, “dari kesalahan-kesalahan orang lain, orang yang berhikmat memperbaiki dirinya sendiriâ€.
Inti masalahnya, yang menghakimi adalah seorang yang ‘munafik’ (ayat 42). Itu sebabnya Tuhan Yesus selanjutnya memberi perintah “keluarkanlah dahulu selumbar itu dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.†Yang menghakimi tidak dapat menolong orang lain karena mata rohaninya terhalang oleh tiang di matanya sendiri.
Selain itu, untuk mengubah orang lain harus dimulai terutama dengan mengubah diri sendiri. Ketika pengikutNya membuang tiang ‘pembenaran diri’, maka ia akan dapat melihat dengan mata kerendahan hati ‘noda’ yang mungkin ada pada sesamanya. Bukan untuk memperalat ‘noda’ orang lain itu untuk menghukumnya, melainkan untuk pembaharuan hidupnya. Tanda dari persekutuan orang percaya yang sehat adalah adanya tanggung jawab setiap orang untuk menolong satu sama lain menghilangkan ‘noda’ dosa setiap anggota persekutuan. Tetapi, itu harus mengalir dari kerendahan hati dan hidup pribadi yang sudah diuji (Gal 6:1-5).
Hal ini berpadanan dengan perintah Yesus sebagaimana kita dengar pada ayat-ayat sebelumnya yaitu “mengasihi musuh†(ayat 27-36). Jadi, “jangan menghakimi†merupakan satu kesatuan dengan mengasihi musuh, satu hal yang masuk kategori paling sulit dalam hidup ini. Tetapi karena ini adalah perintah Tuhan, kita harus terus berusaha mewujudkannya, dalam tuntunan dan pertolongan Tuhan yang sudah menunjukkannya.
Kita sudah biasa menerapkan ‘pemberian berbasalan setimpal’ dalam kehidupan sehari-hari. Kalau orang lain memberi hadiah ulang tahun kepada kita, kita merasa tidak enak kalau tidak memberi hadiah pada ulang tahunnya. Hadiahnya pun bisa saja diusahakan agar harganya kurang lebih sama. Kalau orang yang kita undang tidak menghadiri pesta kita, kita tidak merasa apa-apa kalau kita tidak menghadiri pestanya di kemudian hari. Bahkan, hal yang sama bisa merembes ke dalam kehidupan bergereja. Jika seseorang hadir pada saat PA atau “ibadah lingkungan†di rumah kita, kita akan datang ke rumahnya pada saat PA atau “ibadah lingkungan†berikutnya diadakan di rumahnya dan sebaliknya. Itulah ‘hukum pemberian berbalasanâ€. Itu pula yang sudah lama terjadi bahkan pada zaman Yesus.
Melihat kenyataan seperti itu, Yesus menantang pendengarnya dulu dan menyapa kita pada saat ini bahwa sikap demikian sebenarnya tidak ada istimewanya. Sebab, orang-orang berdosa pun melakukan hal yang sama. Kita dapat melihat lebih jelas: Tidak ada istimewanya mengasihi orang yang mengasihi kita, karena orang berdosa pun berbuat demikian (ay 32). Tidak ada istimewanya berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kita, karena orang berdosa pun berbuat demikian (ay 33). Tidak ada istimewanya meminjamkan sesuatu kepada orang dengan berharap bahwa kita akan menerima sesuatu dari padanya, karena orang berdosa pun berbuat demikian (ay 34).
Sebagai pengikut Tuhan, kita seharusnya menunjukkan sesuatu yang lain, melampaui kebiasaan umat manusia rata-rata. Dikatakan dalam ayat 35, “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu......†Ini merupakan sesuatu yang sangat sulit dari dulu hingga hari ini. Buktinya? Orang yang mengasihi kita saja terkadang kita tidak sungguh-sungguh mengasihinya. Kita terkadang tergoda ‘memanfaatkan’ mereka, apalagi mengasihi musuh. Amat berat! Pada zaman Yesus, untuk mengatakan mengasihi musuh saja sangat sulit, apalagi melakukannya. Pada waktu itu, orang-orang menghendaki agar musuh-musuh mereka mendapat celaka. Kalau musuh mendapat celaka mereka mungkin berkata, “tahankan biar tahu rasa kau!†“Itu belum setimpal dengan kesalahanmuâ€. “Kok tidak mati saja dia sekalian!†dan sebagainya.
Bagaimana dengan sekarang? Pengalaman kita menunjukkan, bahwa apa yang terjadi pada zaman Yesus masih merupakan penyakit yang sama hingga hari ini. Itu sebabnya perang terjadi di mana-mana, dari perang urat saraf hingga perang dengan pedang dan senapan. Yesus dengan tegas mengamanatkan, “kasihilah musuhmu...†Amat berat, tetapi tugas panggilan kita adalah untuk menjadi berkat dan menjadi sahabat bagi orang lain.
Sedikitnya ada empat hal penting berkaitan dengan mengasihi musuh. Pertama, kebahagiaan untuk diri kita sendiri karena hati kita tidak diracuni oleh permusuhan. Hati kita menjadi tenang dan penuh damai sejahtera. Kita akan lebih berbahagia dan bersukacita.
Kedua, menjadi kesaksian bagi orang lain yang dapat menolong mereka untuk bertobat dan berbalik bersahabat dengan kita atau sedikitnya tidak menjadi musuh kita. Ketiga, kemauan dan kemampuan kita mengasihi musuh akan melahirkan perdamaian di dunia ini. Keempat, Allah kita dimuliakan karena kita anak-anakNya hidup dalam perdamaian dan saling mengasihi. Lagipula, ketika kita bermurah hati kepada orang lain bahkan kepada musuh, sesungguhnya kita telah terlebih dahulu menerima kemurahan hati Allah. Artinya, kemurahan hati bukanlah dari diri kita sendiri tetapi kita terima dari Tuhan dan kita teruskan kepada orang lain.
“Berbahagialah orang yang murah hati (Mat 5:5). Menghakimi adalah kebalikan dari kemurahan hati. Itu juga yang nampak dari bagian doa Bapa Kami: “Ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami (Mat. 6:12).
Sesungguhnya kasih itu melimpah ruah, sebab sumbernya adalah Allah. Hanya saja dunia kekurangan “distributorâ€. Kini saatnya kita masuk menjadi distributor. Hidup kita akan lebih baik dan dunia akan lebih baik. (c)