Setiap kita ditempatkan Tuhan di dunia ini dalam kebersamaan dengan orang lain. Kita adalah bagian dari satu keluarga, gereja dan masyarakat. Sedikitnya ada tiga suasana yang berbeda bagaimana suatu kelompok atau persekutuan menyikapi kehadiran seseorang yaitu: kehadiran yang diharapkan, kehadiran kurang bermakna, dan kehadiran yang tidak diharapkan.
Mengacu pada firman Tuhan Yoh 13:31-35 ini kita dapat merenungkan sedikitnya empat hal. Pertama, kehadiran yang bermakna dan membangun. Pada ayat 31 dikatakan, "Sesudah Yudas pergi." Ini ada hubungannya dengan peristiwa sebelumnya seperti tertulis dalam ayat 21 "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku".
Pada akhirnya murid-murid lain dan kita pun mengetahui bahwa yang dimaksudkan Yesus adalah Yudas.Yudas adalah bendahara. Sebagai bendahara sebenarnya tugas Judas adalah menyerahkan uang untuk keperluan mereka dan menyerahkan pertanggungjawabanpenatalayanan.Tetapi ia justru menyerahkan Yesus.Itu adalah di luar tugas pokoknya dan berisi pengkhianatan pula. Kini Judas, si bendahara, sudah pergi. Saatnya Yesus berbicara dengan kesebelas murid, yaitu mereka yang setia kepadaNya.Dari peristiwa ini kita belajar bahwa kehadiran orang jahat biasanya menghalangi percakapan yang membangun. Hal ini sejalan dengan ungkapan "orang jahat bagaikan jendela kaca yang kotor, menghalangi kita melihat keindahan".
Masing-masing kita punya tugas dan tanggung jawab. Tugas kitalah melakukannya dengan sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya dalam keterhubungan dengan Tuhan.Hendaklah kehadiran kita dalam sebuah persekutuan bukan sumber atau pemicu dan pemacu masalah tetapi pembawa damai dan solusi.
Kedua, Anak Manusia dipermuliakan. Yesus memberitahukan peristiwa yang akan terjadi, yaitu PenyalibanNya. Penderitaan! Tetapi Ia mengatakan "dipermuliakan". Penderitaan dan dipermuliakan terlihat seperti bertolak belakang. Dalam hal ini dipermuliakan artinyaYesus, yang disebut disini Anak Manusia, adalah Tuhan. Tuhan yang mulia.Dipermuliakan karena Ia menang atas Iblis dan maut. Dipermuliakan karena mengerjakan keselamatan yang tidak dapat diberikan oleh apa dan siapa pun di dunia ini. Bagi dunia salib adalah kebodohan dan kekalahan. Tetapi Yesus dipermuliakan.
Hidup kita hari ini adalah buah dari kemenangan Tuhan atas salib. Dengan dipermuliakannya Yesus kita mendapat tempat dalam kemuliaanNya. Adakah salib yang sedang kita pikul sekarang? Itu adalah bagian dari proses pemuliaan. Orang yang setia pada proses akan mengambil bagian dalam kemuliaan Tuhan. Setia dalam proses artinya, selalu memberi perhatian pada Kristus bukan pada beratnya tantangan kehidupan, menjalani kehidupan dengan setia tidak dikalahkan oleh godaan apa pun.
Mengikut Kristus tidak berarti bahwa jalan hidup kita akan selalu mulus dan lurus saja. Kalau ada orang atau pengkhotbah yang mengatakan bahwa percaya kepada Tuhan pasti sukses, makmur, dan tidak akan pernah menjadi ekor tetapi kepala, itu bukan dari Kristus. Sebab, mengikut Kristus harus siap memikul salib, jika harus menghadapinya. Hanya saja, kekuatan dan kesanggupan menanggungnya datang dari Tuhan.
Ketiga, anak-anak Tuhan pasti bertahan. "Hai anak-anakKu", kata Yesus kepada murid-muridNya. Ini menonjolkan kelembutan, pemeliharaan dan belas kasihan Yesus, bukan menyoroti kelemahan para murid. Jadi, Yesus mau meneguhkan hati para murid untuk tidak kuatir dan kehilangan arah. Memang murid-murid tidak akan melihat Yesus lagi seperti sebelumnya. Mereka tidak bertemu lagi dengan Yesus secara fisik. Sapaan "anak-anakKu" adalah sebuah jaminan pemeliharaan dan penyertaanNya.Ini juga sekaligus sebagai amanat agar para murid menunjukkan dalam kehidupan mereka sebagai anak-anak Tuhan. Berbeda dengan orang-orang pada zamannya.
Kabar sukacita bagi orang-orang Kristen yang hidup pada zaman ini ialah bahwa Tuhan yang menyebut murid-muridNya "anak-anakKu", Ia adalah Tuhan yang sama yang menyebut kita anak-anakNya. Ia mengasihi, memelihara dan menyelamatkan kita.Pernyataan seperti ini sudah biasa kita dengar. Saat ini biarlah kita sungguh-sungguh merenungkan dan menyambutnya sepenuh hati. Sebagai anak-anak Tuhan yang dikasihiNya, kita harus menunjukkan bahwa kita adalah anak-anak Tuhan melalui seluruh keberadaan hidup kita.
Keempat, perintah baru "saling mengasihi". Yesus memberi perintah baru. "Aku memberikan perintah baru kepadamu, yaitu "supaya kamu saling mengasihi". Di sini Yesus tidak memberikan sebuah usul atau saran. Ia memberi perintah. Perintah dari Tuhan kepada anak-anakNya yang dikasihiNya. Tidak asal perintah, tetapi perintah yang sudah dihidupi atau dipraktekkan dan masih akan terus-menerus dianugerahkanNya. Artinya, kita saling mengasihi bukan dari diri kita sendiri, tetapi karena kasih Allah. Dalam 1 Yohanes 4:19 dengan tegas dikatakan: "Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita." Jadi, perintah saling mengasihi harus kita lihat terutama sebagai sesuatu yang kita terima bukan yang kita berikan.
Sesudah mengatakan semua itu, Yesus berkata, "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (ayat 35). Kata "tahu" di sini tidak hanya sebatas kognitif atau sekedar konsumsi otak saja tetapi meneyentuh hati dan rasa. "Tahu" bisa juga mengalami dan menginspirasi. Bagi jemaat mula-mula hal ini tidak asing. Dalam Kisah Para Rasul 2:47 dikatakan, "Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan." Luar biasa! Jemaat mula-mula hidup dengan saling mengasihi dan kehidupan mereka menjadi kesaksian bagi mereka yang belum percaya. Kehadiran mereka membawa dampak positif bagi orang lain.
Sampai sekarang, kasih adalah salah satu dari kata yang paling banyak ditemukan dalam kekristenan. Kata "kasih" memenuhi kitab suci, nyanyian pujian, tulisan-tulisan. Kata "kasih" banyak kita sebut dalam ibadah, doa, percakapan sehari-hari.Begitu banyaknya atau seringnya kata "kasih" ini digunakan dapat kita mengerti karena memang kasih adalah anugerah terbesar dalam kehidupan kita. Kasih adalah inti dan identitas kekristenan.Kasih adalah misi utama gereja.
Bagaimana kehidupan kekristenan kita sekarang? Bagaimana "nilai rapor" orang-orang Kristen dalam "ujian saling mengasihi?" Memprihatinkan! Memprihatinkan karena roh individualisme dan egoisme kian mencengkeram amat dalam. Inilah saatnya hidup kita menjadi kesaksian bagi dunia: tidak saling sikut, tidak saling caci, tidak saling menghakimi tetapi saling mengasihi. Hidup kita saat ini adalah bukti kasih Tuhan, biarlah kasih Tuhan terpancar dan mengalir dari hidup kita.
Jika kasih absen didunia ini maka bumi akan menjadi kuburan massal. Dengan menyambut Kristus yang pebuh kasih dan orang-orang percaya saling mengasihi, maka kehadiran orang-orang Kristen di dunia ini menjadi kehadiran yang dirindukan. Dirindukan karena memancarkan dan mengalirkan kasih Tuhan. (c)